
* stapts * " Hey, Elen. Dari yang aku lihat dari kristal insta tadi. Kamu sempat mengatakan sebuah kebohongan mengenai ucapan itu bukan? " ucap Nana setelah meletakkan sebuah gelas kayu ke atas meja sembari melihat situasi sekitarnya
" He, em. Kamu benar Nana. Meskipun hanya ada beberapa dari kita yang mengetahui makna sebenarnya dari ucapan itu, aku tidak ingin mengatakan kepada mereka bahwa tuan telah melakukan sesuatu yang buruk pada seorang pelayan yang menemaninya " balas Elen sembari menumpuk piring yang telah kosong itu ke tengah meja
Sembari membahas sebuah rahasia pribadi diantara mereka dengan Rose, beberapa sosok yang ada disana nampak menikmati sebuah pesta kecil atas sebuah perayaan.
" Rose! Apa yang kamu lakukan kepada mereka! " ucap Luminus sembari meremas kedua bahu Rose dari balik tralis besi yang menahannya
" Hehe... Apakah yang kamu bicarakan, Lumi. Jika aku yang menyerang mereka, kenapa aku harus meninggalkan tubuh mereka dengan keadaan utuh seperti itu? " Balas Rose dengan raut wajahnya yang datar
" [ Sedari yang aku ingat, Rose merupakan sosok iblis yang tidak akan segan untuk menyerang seorang yang dirinya anggap musuh dan menjadikan tubuh mereka menjadi bahan makanan ] " pikirnya dalam diam sesaat setelah mengingat sebuah waktu dimana dirinya masih bertualang bersama Rose dan beberapa sosok lainnya.
" He~. Dari yang aku lihat, sepertinya kamu sudah mengerti apa yang aku maksudkan, bukan? " ucap Rose disaat melihat Lumi nampak mengalihkan pandangannya ke arah lain
" Lagipula jika kamu melihatnya secara lebih seksama, kamu bisa melihat beberapa pola serangan brutal di antara dinding-dinding itu dan memaksamu untuk mengakui bahwa ada sosok lain yang lebih berbahaya dariku, bukan? " lanjutnya sembari memberikan sedikit arahan ke beberapa sudut ruangan itu agar sihir cahaya yang digunakan salah seorang penjaga menerangi bagian yang ditunjuk itu
Merasa bahwa setiap ucapan Rose membuatnya semakin tertekan, Lumi meminta para penjaga itu untuk mengeluarkan Rose dari selnya berada dan membawanya ke sebuah ruangan lain yang sebelumnya telah dia siapkan.
" Hey! Apa yang kalian lakukan dengan reserse item milikku! " Teriak Rose dengan keras dan membuat beberapa orang berpakaian staf guild itu terkejut.
__ADS_1
" Oyah... apa yang anda katakan tuan? Semua barang hasil curian yang ada pada anda akan kami sita beberapa waktu ke depan untuk memastikan bahwa tidak ada lagi hal lain yang anda sembunyikan. " ucap seorang pria gemuk dengan pakaian yang hampir sama seperti Lumi namun dengan warna dasar yang berbeda.
" Apa? Ap-apa? Apa yang kamu bicarakan Tedi? Aku memang mengatakan kepadanmu untuk menahannya sementara waktu karena satu alasan. Namun aku tidak pernah mengatakan bahwa dia adalah seorang kriminal! " ucap Lumi disaat Rose memutuskan sebuah borgol sihir yang menahan kedua tangannya.
Sebuah perdebatan yang cukup berat terjadi diantara mereka dan membuat suasana semakin memanas hingga salah satu dari pelayan itu nampak memaksakan diri untuk menyembunyikan tas pinggang itu dan membuatnya tewas akibat tergencet tas pinggang yang jatuh itu di bagian punggungnya.
" Hehe... Lihatlah perilaku menyimpang dari rekanmu, Lumi~... " ucap Rose dengan sebuah tawa ketika melihat beberapa pelayan lain nampak berusaha keras mengangkat tas pinggang itu.
Sebuah teriakan ancaman dari Tedi yang menyatakan bahwa Rose tidak akan bisa lepas darinya, membuat Rose mengatakan sesuatu kepada Lumi mengenai ketidaktahuannya mengenai siap sosoknya yang sebenarnya.
" Nah, Lumi. Begitulah caraku mengatasi orang-orang yang sempat datang menyerang tempat itu dan menewaskan banyak orang di sana. " ucap Rose dengan senyuman setelah memberikan beberapa serangan fatal menggunakan sihir tanah dan membuat sosok Tedi terkapar dengan luka yang mengerikan
" Sepakat. " ucap Rose dengan senyuman sembari menerima tawaran tangan dari Lumi yang setelahnya melakukan hal yang sama dengan Tedi yang sudah di sembuhkan.
Dengan berakhirnya kesalahpahaman diantara mereka dan disampaikannya beberapa hal yang Lumi ingin katakan sedari awal, Rose dan Vi mulai mengawali kehidupan baru mereka di kota itu bersama dengan beberapa rahasia yang disembunyikan oleh Tedi dan para petugas di sana.
" Fyu~huhu.... senangnya bisa kembali merasakan tidur di atas kasur dengan kualitas terbai~k! " ucapnya dengan penuh kesenangan setelah membaringkan tubuhnya di atas sebuah kasur besar yang bersih nan lembut.
Di sebuah rumah sederhana dengan ukuran yang tidak terlalu besar, Rose dan Vi nampak bersenang-senang diatas kasur itu sementara seorang petugas guild yang semula dikira tewas itu hanya bisa terduduk di atas sebuah kursi kecil sembari menundukkan kepalanya.
__ADS_1
" Hey, Lilis. Maaf karena membuatmu menjadi seorang pelayan atas kesepakatan itu. " ucap Rose sembari melihat ke arah petugas guild itu yang nampak murung.
" Ahaha.. tidak apa tuan. Sungguh. Saya sendiri justru merasa tidak enak kepada tuan karena tuan masih mau menyelamatkan nyawa saya meskipun saya melakukan sesuatu yang buruk terhadap anda beberapa waktu sebelumnya. " balas Lilis sembari memaksakan sebuah senyuman.
" Hm~ yah, tidak apa jika kamu masih merasa membenci diriku karena hukuman itu membuatmu harus menjadi pelayanku selama sisa hidupmu. Namun dari pada menghawatirkan sesuatu yang buruk terhadap perlakuanku padamu, aku hanya ingin mengatakan bahwa aku tidak akan melakukan hal itu karena bagaimanapun juga itu bukanlah salahmu sepenuhnya. " balas Rose sembari memegangi bagian leher dari Lilis beberapa saat setelah memintanya untuk mendekat.
Dengan kembali menanyakan beberapa hal terkait latarbelakang dari Lilis dan beberapa hal yang berkaitan dengan beberapa informasi yang sebelumnya dia dapatkan dari beberapa tahanan, sebuah bayangan mengenai sesuatu yang nampak rumit membuatnya beberapa kali menggelengkan kepalanya karena hal yang terbayang itu bertentangan dengan keinginan untuk menikmati kehidupan yang santai.
" Kalau begitu, Lilis. Aku harap kamu bisa menjalin hubungan baik dengan Vi. ya? " ucap Rose sembari mendekatkan tubuh dari Vi dan Lilis setelah sebelumnya Lilis nampak enggan untuk mendekati Vi yang dianggapnya musuh akibat satu kejadian dimasa lalu.
Sembari memeluk kedua tubuh pelayanannya dan mencium kening keduanya, Rose mengatakan sesuatu bahwa nantinya dirinya akan mendaftarkan diri sebagai seorang pelajar di salah satu sekolah sihir di kota itu dan meminta keduanya untuk bermain peran agar nantinya mereka yang belum mengetahui siapa jatidirinya tidak merasa takut maupun menganggapnya sebagai ancaman.
" Hehe... Mungkin jikalau adik saya masih hidup, dia mungkin akan terlihat gagah menggunakan baju ini. " ucap Lilis dengan air mata yang sempat mengalir dari matanya sesaat setelah membantu Rose mengikatkan dasi merah dari sebuah seragam hitam yang nampak gagah.
" Hehe... aku senang mendengar pujian itu darimu, Lilis. Meskipun sebenarnya aku masih belum memutuskan peran apa yang cocok untuk kamu mainkan nantinya, sepertinya peran seorang kakak adalah hal yang cocok untukmu... " balas Rose setelah melepaskan seragam itu dari tubuhnya dan mengembalikan bentuk tubuhnya ke wujud normalnya.
Dengan sebuah tawa senang dari Vi yang langsung memeluk tubuh Rose yang nampak gagah itu, Lilis hanya terdiam tanpa kata ketika menyadari bahwa keraguan atas Rose yang lebih tua darinya merupakan sebuah kesalahan.
" Nah, Vi~ Lilis~ mulai saat ini, aku mohon bantuannya, ya. hehehe.. " ucap Rose dengan akhiran tawa setelah memeluk keduanya bersamaan.
__ADS_1