
" A~khehe~! Tuan~! Tolong! Tolong lakukan lebih lembut!! A~khehe~! Jika, jika seperti ini!!Aku!! Aku!!! Aku akan!!! Kya~!!Tida~ak!! " Teriak Airi yang memohon ampunan kepada tuannya yang bersikap kasar terhadap dirinya.
Menarik kembali tubuh Airi yang sempat meloloskan diri dari gengamannya, Rose mengucap sebuah kata yang membuat Airi menyesali candaannya untuk memancing hasrat nafsu yang selalu ditahannya.
" A~kh~! Kepalaku." ucap Airin setelah kembali membuka kedua matanya dengan rasa sakit di seluruh tubuhnya.
Berjalan menuju kamar mandi untuk mensucikan diri, ingatan samar mengenai sosok tuannya yang menjadi liar diatas ranjang saat ritual malam itu membuatnya kembali merasakan sakit yang teramat sangat.
" Aku fikir, beliau hanya akan duduk diam seperti waktu itu dan membiarkanku melayaninya. " gumam Airin sembari menyenderkan kepalanya ke dinding kamar mandi itu dengan terus mengulang ucapan penyesalanyannya.
Duduk diam disamping Rose yang nampak tidur penuh kedamaian di halaman belakang sembari memperhatikan sosok Vi yang nampak begitu senang menjemur pakaian, Airin yang semula berniat melanjutkan tidurnya disamping tuannya dikejutkan oleh sapaan dari Vi yang berniat mendekatkan diri kembali.
" Tidak juga Vi~.Aku bukankah sosok yang kuat seperti yang kamu bayangkan itu. " tawa Airin setelah mendengar ucapan Vi yang terlalu berlebihan.
" Meskipun aku sendiri tidak tahu pasti tolak ukur dari perbedaan kekuatanku dengan kekuatanmu, setidaknya bisa aku katakan bahwa mungkin kamu lebih kuat dariku. " lanjutnya menyinggung perubahan wujud Vi yang belum terkendali.
Mengingat hal yang pernah tuannya bahas mengenai sosok Vi yang berada pada tingkat menengah atau grade ungu, Airin mencoba menjelaskan kekuatan macam apa yang tersembunyi dalam diri Vi meskipun hanya pemikirannya sendiri.
" He, em. Jadi kekuatan itu benar-benar ada dalam diriku ya? hehe. Senang rasanya mendengar ucapan itu langsung darimu, Airi! " ucap Vi dengan senang sembari memeluk tubuh Airin setelah mendengar ucapan yang sama seperti ucapan Lilis terkait kekuatannya yang tersembunyi.
__ADS_1
" Lalu, lalu. Bagiamana denganmu, Airi? Bukankah kamu juga memiliki kekuatan hebat seperti itu? " tanya Vi dengan penasaran setelah mengingat ucapan tuannya yang menyatakan bahwa Airi berada satu tingkat diatas dirinya.
" Hm~ yah. Mungkin kekuatan hebat yang ada dalam diriku adalah ini, Vi~ " balas Airi setelah menunjukkan sebuah lengan mecha yang keluar dari portal dimensi.
Kagum dengan apa yang ada dihadapannya membuat Vi berjingkrak gembira sebelum menanyakan jenis dan nama dari ras yang Airi miliki.
" Wa~hmss~ " * krutuktuktukssss* Bunyi keras dari kursi sederhana yang mulai mencapai batas ketahanannya membuat Airi dan Vi sama-sama menutup mulutnya dengan segera sesaat setelah menyadari bahwa mereka lupa atas sosok tuannya yang tengah menikmati tidur siangnya.
Berjalan menyusuri jalanan kota sembari menunjukkan berbagai tempat favorit dari tuannya, perasaan aneh sempat terasa dalam benak Airia sebelum meminta Vi untuk menghentikan langkahnya.
" Hem, hem. Kamu benar Airi. Memang ada satu pelayan lain selain diriku yang menemani tuan saat ini. " ucap Vi menanggapi pertanyaan Airin mengenai sosok Lilis yang tidak kunjung menampakkan diri.
" Tapi, Vi~ bukankah Lili hanya menjalankan perintah dari atasannya saja? Lalu kenapa dia harus menerima status pelayan itu meskipun seharusnya si guild master lah yang seharusnya menerima status itu? " ucap Airi yang merasa janggal terhadap kesepakatan diantara mereka dengan tuannya
" Hem, hem. benarkan, Airi. Akupun sempat mengatakan hal itu kepada tuan namun dengan adanya permintaan egois dari perempuan yang aku maksudkan itu, tuan yang semula nampak begitu emosi memilih untuk menyepakati hal itu dengan syarat bahwa masalah yang terjadi akan dianggap tidak pernah terjadi... " balas Vi dengan menjelaskan urutan kejadian buruk yang datang semenjak menginjakkan kaki di kota ini.
Larut dalam berbagai hal yang dibahas oleh mereka membuat waktu berjalan dengan begitu cepatnya dan membuat mentari menyembunyikan diri bersamaan dengan beberapa penduduk lokal yang mulai menyalakan lampu sihir yang ada di sepanjang jalanan kota.
" Hey, Airi~ cobalah lihat tuan kita ini~ " ucap Vi yang nampak terkejut bahwa tuannya masih berada di kursi sederhana seperti sebelumnya meskipun langit cerah terlah berganti.
__ADS_1
" Biarkanlah beliau beristirahat lebih lama lagi, Vi. " balas Airi dengan begitu lembutnya sebelum mendorong Vi untuk membantunya menyiapkan makan malam dengan porsi empat orang.
Mendapati pandangan bahwa hari telah berganti membuat Rose menyadari bahwa dia telah melewati banyak hal sebelum melangkah pergi kedalam rumah itu dan menanti kisah Airin yang mengawali hidup barunya.
" Senang rasanya bisa melihat bahwa kalian bisa menjadi lebih dekat dari sebelumnya, hehehe. Lalu, Lili~ apakah ada hal baru yang kamu alami sepanjang hari ini? " ucap Rose memuji kedekatan Airin dan Vi serta mencoba mendekatkan diri dengan Lili.
" Hm~ ya. Selain dari keberadaan Airi, tidak ada hal baru lagi sepanjang hari ini." balas Lili dengan wajah senangnya sembari menyantap hidangan kesukaannya
Merasa bahwa tidak ada satu hit poin untuk mendekatkan diri maupun meningkatkan affaction point dari Lili, Rose mengalihkan kembali pandangannya ke arah Vi dan Airi sembari menanyakan beberapa hal lain terkait cadangan makanan yang tersedia maupun hal lain mengenai keinginan kecil dari mereka meski tahu bahwa hubungan intim adalah harapan pertama yang mungkin akan mereka katakan.
" Oh iya, Vi~ beberapa petualang itu kembali menanyakan tentangmu meski hanya sehari tidak bertemu denganmu. " lanjut Lilis yang sempat tertunda disaat mengingat petualang muda menanyakan tentangnya.
" Ahm~ benarkah itu, Lili? Hehe. padahal kan sudah aku ucap beberapa kali bahwa aku bukanlah bagian resepsi. Tapi kenapa mereka terus datang dan mencari? " balas Vi dengan memalsukan rasa kesalnya terhadap ucapan Lili dengan senyuman cerianya ketika membahas para petualang pemula.
Mendengar penjelasan Lilis yang mengatakan bahwa Vi nampak lebih cocok sebagai petugas resepsi dari pada dirinya membuat Rose maupun Airi memuji kemampuan itu hingga satu titik, Vi menjelaskan bahwa dirinya pernah sekali menjadi petugas resepsi sebelum Rose kembali bangkit dari ketiadaannya.
" Yosh, yosh. Kamu memang sosok yang hebat Vi~ Aku saja sampai iri dengan apa yang kamu lakukan itu [ Meskipun sebenarnya menaklukan satu atau dua reruntuhan dapat menghasilkan pemasukan lebih daripada pekerjaan itu. ] " Ucap Airi sembari memeluk Vi yang sempat menangisi masa-masa berat itu.
" Tapi ya~h. Aku sangat berterima kasih kepadamu, Vi. Karena tanpa perjuanganmu itu, tuan kita tidak akan ada di hadapan kita saat ini... " Lanjutnya mencoba menenangkan Vi.
__ADS_1