
* Gsriiiiingssss * Gesekan antara taring hewan buas dengan cakar tajam milik Fuma terdengar begitu jelas disaat pertarungan hidup dan mati telah terjadi
* Dsings dsings slralpts * Ody yang berusaha keras menahan serangan beberapa monster serupa berhasil membelah salah satu dari mereka meski harus mendapat luka fatal di bagian lengannya
" Ini, buruk " gumam Rose dalam duduknya setelah melihat kerumunan salamander hitam terus menyudutkan party miliknya.
Jauh dalam sebuah ruang rahasia yang tersembunyi di balik keramaian kota, Vi kembali mengadakan pertemuan tertutup dengan beberapa orang terpercaya termasuk pada tiga pilar utama.
" Berdasar informasi yang anda sebutkan mengenai monster bernama Vitralis Nagra dan bagaimana cara menanganinya, kami tetap saja gagal melindungi dua kota kota penyangga Benteng Noa. " ucap seorang kesatria dengan zirah biru toska dengan nada kecewa.
Melanjutkan laporan sembari mengubah beberapa bidak berwarna dengan bentuk bundar dan ukiran yang menggambarkan lambang setiap kota, gambaran kehancuran akan segera mendekati ibu kota dalam beberapa waktu mendatang setelah tiga kota yang tersisa tidak mampu menahan gempuran monster Vitralis Nagra.
" Maaf menyela anda, Pangeran Altera. Kami telah memaksimalkan setiap apa yang Ratu Viola perintahkan kepada kami. " sanggah seorang kesatria dengan armor putih platina sembari menyebutkan beberapa hal mengenai kelengkapan militer yang menyangkut pada logistik, senjata sihir maupun non sihir maupun pengiriman pasukan pengganti untuk menggantikan mereka yang tidak mampu berdiri di medan utama untuk melindungi kota.
" Selain dari itupun, kami juga menemukan fakta lain dari mereka yang berhasil selamat dari medan utama. " lanjut kesatria itu dengan menggambarkan satu makhluk besar serupa gorila dengan dua kepala yang mana salah satu kepalanya memiliki tanduk merah menyala serta tubuh besar yang di setiap sisinya menampakkan kaki-kaki hewan melata maupun kristal sihir merah delima yang nampak menjadi inti utamanya.
__ADS_1
" Tunggu, coba katakan lagi sosok macam apa yang menampakkan kaki-kaki hewan melata itu! " ucap Vi yang begitu terkejut dengan deskripsi monster yang berbeda jauh dari deskripsi monster Vitralis Nagra yang dirinya tahu.
Menghantamkan kedua tangannya dengan sangat kesal hingga menyebabkan guncangan besar layaknya gempa hingga membuat beberapa retakan besar di ruang rahasia, Altair yang mengenal sosok Vi sebagai ibunya mulai menyadari bahwa masalah besar akan mendatangi Kota Grelia.
" Percepat pelatihan para prajurit muda dan sewa beberapa petualang tingkat tinggi untuk menyelidiki kepastian dari monster yang kita hadapi! " perintah Vi dengan tegas pada mereka yang ada di sana dan membuat tiga pilar untuk ikut didalamnya.
Mendapatkan berbagai respon kurang menyenangkan dari mereka yang ada termasuk pada Altair yang juga merasa bahwa hal itu adalah hal yang berlebihan, Vi kembali menegaskan bahwa kepastian perlu dilakukan karena dirinya sendiri belum bisa memastikan bahwa sosok yang mereka lawan merupakan Vitralis Nagara maupun Apex nomer 45.
" Sesuai yang digambarkan oleh Hugo, Altair. Apex nomer 45 merupakan monster penghancur yang tingkat ancamannya melebihi Vitralis Nagara. " ucap Vi dalam ruangan yang sepi setelah orang-orang yang di percaya itu buru-buru pergi melaksanakan perintahnya.
" Selain dari itupun dia mampu membalikkan serangan yang kita miliki dengan perkalian yang setara seperti yang aku katakan. " tambahnya mengukir sebuah lingkaran perlindungan diantara ukiran abstrak dari Apex nomer 45.
Altair yang khawatir sempat menyarankan Vi untuk mengajukan permintaan bantuan pada Airina maupun saudara yang lainnya namun Vi hanya mengusap kepala Altair dan mengatakan bahwa semua hal itu sama dengan mengundang mereka untuk meregang nyawa bersamanya.
" Hal yang kita perlukan saat ini adalah kekuatan besar seperti yang mendiang ayahmu punya ataupun senjata alteri berdaya ledak tinggi. " gumamnya setelah kehabisan kata ketika Altair terus mencoba untuk menghilangkan wajahnya yang putus asa.
" Bagaimana dengan Kampak Invaria? Bukankah kampak itu mampu membelah tubuh dari Great Skeleton di hari tragedi! " Teriak Altair dengan keras setelah teringat satu kisah mengenai kehebatan ayahnya yang mau mempertaruhkan nyawa demi kedamaian dunia.
__ADS_1
Mendapat satu pencerahan tidak terduga dari Altair, Vi mulai membuang jauh keputusasaannya dan meminta Altaira untuk meminjamkan kekuatan Airina untuk mengalahkan Apex nomer 45.
" Ya ampun, ya ampun. Kalian berdua sungguh membuatku kecewa dengan apa yang kalian lakukan di saat mereka hampir kehilangan nyawa. " ucap Rose dengan nada kesal disaat menyembuhkan Ody dan Fuma yang kembali mendapat luka fatal di seluruh bagian tubuhnya.
Menanyakan satu alasan pasti yang membuat mereka tiba-tiba saling serang dan berhenti memberi bantuan pada Fuma maupun Ody, Rose kembali menepuk dahi sembari enggan mengakui bahwa Alruene merasa iri dengan kedekatan Merry dengan dirinya dan membuatnya enggan mendengarkan apa yang Merry sarankan hingga membuat pola pertahanan hancur sepenuhnya.
" Dengarlah, Alruene. Merry dan Ody adalah manusia biasa yang sama lemahnya denganku di waktu lalu. Oleh karena itu, aku menyarankan formasi itu untuk membuat mereka berdua menutupi kekurangannya. " ucapnya mengulangi apa yang pernah dikatakan sebelumnya.
" Fuma melindungi Merry agar Merry bisa memberikan tambahan kekuatan maupun penetralan efek buruk pada kamu, Fuma maupun Ody. Lalu bukankah seharusnya kamu tahu bahwa kamu harus melindungi Ody agar Ody dapat membantu Fuma melindungi kalian berdua meski harus menarik serangan musuh agar mengarah kepada dirinya dan setelahnya Fuma akan mengandalkan kemampuan bertarungnya secara liar untuk mencabut nyawa mereka yang berhasil dialihkan perhatiannya. " jelasnya mengurutkan tugas dalam formasi itu dengan Alruene yang seharunya mampu membantu pemulihan stamina pada Ody, Fuma, dan Merry serta memberikan bantuan serangan pada mereka layaknya marksman.
Mengangguk faham bahwa dirinya memang menjadi biang masalah diantara mereka, Alruene kembali mengulang pertanyaan yang belum di jawab Rose dan membuatnya menggelengkan kepala.
" Tidak seperti dirimu, Alruene. Merry cukup sadar atas kekuatan yang hanya sebatas pada karunia dewi maupun pengetahuan recovery dan karena itu, Merry datang menemuiku di setiap pagi buta itu untuk melatih diri maupun meningkatkan kemampuan berkah dari sang dewi melalui meditasi di akhir hari. " Balasnya terkait kebiasaan baru dari Merry yang sering pergi menghilang dari pagi buta hingga akhir hari terutama pada hari dimana mereka boleh meliburkan diri bersama.
Menambahkan beberapa hal lain yang menunjukkan bahwa kemampuan Merry semakin meningkat di setiap harinya membuat Alruene kembali tertunduk tanpa kata dengan pemikiran keras mengenai hal dalam diri yang perlu dibenahi.
" Leady Agile, tolong. Aku mohon dengan sangat kepadamu. Ubahlah sikap burukmu itu sebelum aku mengambil satu tindakan yang bisa membuatmu menyesali setiap sisa waktu dari hidupmu. " bisiknya pelan disaat Merry tengah menatap pintu gua yang menunjukkan tiada tanda bahwa hujan badai akan mereda.
__ADS_1