
" Seral Rosse, merupakan nama baru yang aku gunakan setelah beberapa hal terjadi dalam dunia alternatif yang kini menjadi dunia dimana aku hidup. Meskipun belum pernah sekalipun terbayang dalam diri bahwa hal semacam ini akan terjadi, namun nyatanya apa yang terjadi saat ini merupakan hal yang harus aku percayai. " gumam Rose dalam diamnya sembari melihat ke arah langit-langit dari rumah Lilis yang nampak rapuh.
" Dengan sebuah tubuh yang tercipta dari kombinasi antara golem dan iblis tanah, aku bisa dengan mudah mengubah bentuk tubuhku sesuai dengan apa yang aku mau.. " lanjutnya sembari menciptakan sebuah tangan tambahan di bagian dadanya disaat kedua tangannya yang lain tengah memeluk erat tubuh Lilis dan Vi yang tertidur di kedua sisi tubuhnya
" Selain dari peninggalan jejak petualangan ku di dunia alternatif ini ketika masih berupa game, setidaknya aku haru lebih memperhatikan sebab dan akibat yang aku buat. Karena bagaimana pun juga, dalam dunia ini. Mereka yang telah tiada tidak dapat dibangkitkan kembali.. " tambahnya sembari mengingat beberapa sosok berpakaian hitam yang sebelumnya sempat ingin dirinya hidupkan kembali.
Larut dalam berbagai macam hal yang dirinya pikirkan, mentari pagi mulai meninggi dan membangunkannya dari tidur setelah sesuatu yang yang tidak asing membuat bagian vitalnya mengeras.
" Hehe.... Terima kasih atas kenikmatannya, tuan. " ucap Vi dengan sebuah senyuman disaat Rose melihat kearahnya
Bersama dengan teriakan dari Lilis yang nampak terkejut atas sesuatu yang dilakukan oleh Vi dan Rose dihadapannya, sebuah serangan sihir langsung dilepaskan olehnya.
" Apa itu tadi? " ucap beberapa orang yang nampak kebingungan ketika sebuah goncangan membuat langkah kaki dari mereka terhenti di sekitar rumah Lilis.
" Maafkan saya tuan... sungguh... saya tidak bermaksud melakukan hal itu... " ucap Lilis beberapa saat setelah Rose bangkit dari tidurnya dan meninggalkan Vi yang terkapar lemas diatas tempat tidur itu.
Sembari mengangkat tubuh Lilis dan membuatnya menatap ke arah wajahnya, Rose membisikkan sesuatu kepada Lilis dan setelahnya Lilis hanya bisa terdiam sembari menutupi wajahnya yang semakin memerah.
__ADS_1
" Dan dikarenakan tubuh ini bergerak sesuka hatinya, hal semacam ini selalu membuatku kesal disaat kesadaranku kembali. " Lanjutnya sembari menatap tangannya sendiri sebelum melihat ke arah tubuh Vi.
" Oleh karena itu, disaat aku mengulangi kesalahan itu kembali. Aku akan melakukan hal semacam ini... * Spratshss* " tambahnya sembari memutuskan pergelangan tangannya dan menciptakan pergelangan tangan baru dengan sebuah pembicaraan lain yang berkaitan dengan karma baik dan buruk.
Merasa memahami apa yang Rose katakan, Lilis mulai bangkit dari duduknya dan kembali melanjutkan hal yang sempat tertunda akibat kejadian itu.
" [ Ayah~ Ibu~ maafkan aku karena aku tidak bisa menepati janjiku.. ] " ucap Lilis dalam diam sembari memegangi bagian vitalnya ketika mengingat hal yang telah terjadi itu beberapa saat setelah meninggalkan ruangan itu.
" Maaf, Lilis. Bolehkah aku~ " ucap Vi yang tertahan ketika melihat Lilis yang nampak bernafsu tinggi hingga memainkan tubuhnya sendiri
" Oa~h. Jadi ini adalah sekolah yang termasuk unggulan di tanah ini? " ucap Rose dengan kagum setelah melihat sebuah gerbang dari sebuah kastel yang nantinya akan menjadi tempat untuknya belajar.
" Anda benar, tuan... ah, tidak.. maksud saya, Sera... " Balas Lilis yang nampak tidak terlalu nyaman untuk menyebutkan nama dari Rose yang kini kembali merubah bentuk tubuhnya ke tubuh remaja
Bersama dengan sebuah permintaan maaf yang sempat dirinya tolak dengan menahan bibir dari Lilis, dia kembali menjelaskan peran penting yang harus Lilis lakukan agar nantinya tidak akan ada seorangpun yang akan mengetahui siapa jatidirinya.
" Hehe... baiklah Kak. Aku akan berusaha untuk menjadi yang terbaik di sini... [ Meskipun sebenarnya aku hanya berniat untuk mencari tahu mengenai kebenaran yang ada terhadap beberapa informasi dari mereka, aku akan berusaha untuk menahan diri agar kejadian serupa dengan kejadian beberapa saat lalu tidak kembali terulang...] " ucap Rose dengan senyuman sembari memeluk tubuh Lilis yang kini nampak lebih tinggi darinya dan membuat beberapa sosok lain yang ada disekitar mereka memperhatikan dirinya.
__ADS_1
" [ Selain itupun, aku juga akan menikmati kembali kehidupan remaja ku yang sempat hilang itu dan membuat kenangan baru didalamnya. Dan lagi peran Lilis sebagai sosok kakak perempuan dalam hal ini pun, sangat membuatku senang setelah mimpiku untuk hidup bersama seorang kakak perempuan yang cantik, bisa menjadi kenyataan... ] " lanjutnya dengan sebuah tawa sembari menenggelamkan kepalanya pada belahan dada dari Lilis untuk waktu yang lama.
*Kyuuuss* Merasa cemburu atas sikap tuannya yang nampak terlalu lama membenamkan wajahnya kedalam dada dari Lilis, Vi nampak mengigit bagian lengan dari Rose dan membuat Rose berhenti melakukan hal semacam itu didepan umum.
" He, em... iya, Sera. Jadilah anak baik dan buat mendiang ayah dan ibu bangga. hehe.. " balas Lilis sembari mengusap pelan kepala Rose disaat mengingat mendiang adiknya yang selalu bersikap manja terhadapnya.
Dengan sebuah langkah yang di jejakkan diatas tanah dari tempat itu, Rose merasakan bahwa ada sebuah kebagian kecil dalam dirinya ketika melihat senyuman lepas dari Lilis beberapa saat setelah mereka menyelesaikan bebarapa tahapan sebelum pendaftaran.
" Ya ampun. Meskipun sudah aku kira bahwa mereka akan membawa ku kedalam satu kisah khusus, nantinya. Aku tidak menyangka bahwa pertemuan kedua dengan mereka akan terjadi secepat ini... " gumamnya dengan kesal setelah melihat Regina dan Fei dalam sebuah rombongan keluarga bangsawan yang lewat dihadapan rombongannya.
Melihat reaksi dari Rose yang nampak kesal, Lilis mengajak Rose ke sebuah ruangan setelah sebelumnya meminta ijin untuk meninggalkan rombongan itu selama beberapa saat.
" He, em... Tidak apa Lilis. Itu bukanlah sesuatu yang perlu kamu khawatirkan. Lagipula mereka bukanlah sosok pembawa masalah selama aku bisa menjauh dari pandangan mereka. " balas Rose dengan senyuman setelah Lilis menanyakan sesuatu yang membuatnya kesal.
" Kalau begitu, tuan. Saya harap anda bisa melakukan apapun yang anda inginkan itu dengan baik tanpa bersinggungan dengan dua sosok itu dan lagi, saya pun sangat berterima kasih kepada anda karena sesaat anda membawa saya kemari, saya merasa mengingat masa-masa itu kembali" Bisik Lilis dengan nada senang setelah mereka kembali ke dalam rombongan itu
" [ Sama halnya denganku, Lilis. Meskipun dikehidupan sebelumnya aku harus kehilangan sosoknya dalam satu kejadian, setidaknya akan aku nikmati masa-masa ini~ meskipun hanya sebuah kepalsuan semata] " Ucap Rose dalam diam sembari menunjukkan sebuah senyuman sebelum melewati sebuah aula pertemuan.
__ADS_1