Fantasyum

Fantasyum
Bab 18.2


__ADS_3

" Gryaa~!! Ayahku benar-benar luar biasa!! " Teriak Altaira penuh ketegangan di kala melihat pertarungan sengit dari Rose bersama Airina dan Vi dalam wujud evolusi.


 


Menatap tajam ke arah Rose dengan penuh amarah dalam diri, Alruene, Merry, Rola dan Sasya mencoba mendengarkan penjelasan dari Airina tidak lama setelah meminta Altaira dalam tubuh wanita untuk menemani Vira yang di anggap bisa menerima kenyataan yang terucap dari mulutnya.


" Mohon bantuannya! Kakak!! " Teriak Alruene membungkuk hormat di hadapan empat perempuan yang dirasa akrab dengan Izera tanpa menyadari kebenarannya.


Memandang satu sama lain dengan perasaan lega setelah mengetahui bahwa Altaira bukanlah perempuan muda yang akan kembali menjadi saingan baru mereka ataupun Airina yang tingkat perbedaannya terlampau jauh untuk dibandingkan dengan mereka, satu penjelasan tambahan keluar dari mulut Rose yang menyatakan bahwa Altaira tetaplah seorang pria dalam pandangannya meski memiliki kemolekan tubuh menggoda dalam wujud barunya.


* Spaks, spaks, spaks, spaks* Empat tamparan beruntun di daratkan pada wajah Altaira yang semula sempat memberikan pelukannya pada masing-masing dari mereka sebagai tanda sapaan untuk pengenalan dirinya.


" Gryaa, padahal kalian sangat menikmatinya tadi. " tawanya sebelum menggoda mereka dengan sikap malu layaknya perempuan muda sesungguhnya.


Memberikan isyarat pada mereka untuk bebas melakukan apapun pada Altaira, senyum mengerikan nampak jelas di wajah ke empatnya sebelum menyeret tubuh Altaira dan melakukan sesuatu kepadanya.


" He, em. Begitulah sikapnya yang selalu lemah terhadap wanita. " tawa Airina yang masih tinggal berbincang bersama Rose dalam gubuk sederhana.


Mengakui bahwa sikap buruk itu adalah warisan darinya yang amat memalukan untuk diucapkan, tawa gembira penuh kepuasan kembali nampak di wajah Airina tidak lama setelah Rose melarutkan kebersamaan diri dengannya bersama di singgungnya berbagai hal favorit bagi Rose.

__ADS_1


" Hehehe, iya tuan. Sayapun masih mengingat hal itu dan hal itu pun masih menjadi kode akses untuk anda mengaktifkan opsi perbaikan diri, bukan? " Balas Airina menggoda Rose yang sangat menyukai para perempuan muda maupun perempuan dewasa yang memiliki kemolekan tubuh luar biasa terutama di bagian dada dan panggulnya.


Membisikkan kata pada Rose untuk menjaga sikap agar Altaira bisa mengambil contoh baik darinya, Rose hanya terdiam sembari menggaruk kepala setelah Altaira kembali menyinggung kemolekan tubuh dari mereka yang tinggal bersama dengan dirinya maupun para korban dari eksekusi.


" Nah, begitulah adanya, Airi. Selain dari alasan untuk membatasi nafsu dalam diri yang bisa timbul tiba-tiba ketika melihat tubuh mereka, alasanku membuat gubuk ini pun memiliki tujuan agar aku bisa kembali mengingat kehidupanku bersama Vi maupun Lilis di waktu itu. " balasnya dengan wajah lega sembari memandang setiap sisi ruang yang di buat sedemikian rupa agar terlihat sama seperti saat tinggal di kediaman Lilis bersama.


Memberi nasehat kecil pada Altaira sebelum pergi meninggalkan kediaman Izera, tepukan keras di panggul dari tubuhnya terasa begitu lara sebelum Rose memintanya untuk menjaga rahasia diantara keduanya seperti saat janjinya sebelumnya.


" Dan lagi, mereka yang ada di sini sudah di lecehkan oleh mereka yang di eksekusi bersamamu kala itu. Untuk itu, jika kamu berani melakukan satu kesalahan serupa, aku tidak akan segan memasukkanmu kembali di bawah tanah dengan nisan kecil tanpa nama. " tegasnya sebelum memunggungi Altaira yang kini tidur dalam kamar tidurnya.


Memejamkan mata dan berpura-pura terlelap dalam tidurnya ketika Altaira mengucap pembelaan atas dirinya, perasaan kecewa dalam dada mulai sedikit mereda sebelum Altaira berhenti mengucap kata.


 


Membangunkan Altaira di pagi buta sembari membiarkannya mengamati keseharian sibuk di awal harinya, perasaan senang dalam dada mulai timbul disaat dirinya menerima perlakuan baru yang berbeda dari perlakuan lembut di saat dia masih memiliki banyak pelayan yang cantik lagi menggoda.


" Alruene, Merry dan Sasya akan memberikan sedikit pemanasan awal sebelum pergi mengambil misi sebagai petualang. " ucapnya menunjukkan arena lari halang rintang dalam area hutan seluas 64m² yang berisi berbagai monster tingkat menengah yang sengaja di panggilnya untuk melatih ketahanan diri dan kerjasama diantara mereka.


Merenggangkan tubuh seolah meremehkan kekuatan ketiganya, kerutan berlipat nampak jelas di wajah Altaira yang tidak menduga bahwa pemanasan itu akan setara dengan pertarungan dalam medan sebenarnya.

__ADS_1


" Terima kasih atas kerja kerasnya. " ucap dari pelayan mansion maupun para janda yang menyambut kembalinya Altaira sekembalinya ke tempat awal dari lari halang rintang.


Melepas penat dengan tawa dan pujian bersama makan pagi yang di lakukan di area terbuka diantara hutan dan mansion membuatnya kembali merasa sangat bahagia setelah membandingkan kesendiriannya di waktu sebelumnya.


" Selain dari mengajari dan menilai hasil kreatifitas mereka dalam memasak ataupun uji kemampuan diri, kamu bisa mengambil contoh baik dari sikap tegar mereka untuk satu waktu dimana aku ataupun mereka ibumu benar-benar tiada. " lanjutnya memberikan pesan sederhana ketika membawa Altaira untuk melihat kegiatan setelah makan bersama sampai waktu istirahat tiba.


Menikmati waktu dengan kudapan kecil diantara rimbunnya pepohonan sembari menjaga Vira agar tidak terlalu jauh pergi menjelajahi hutan, beberapa pertanyaan kecil mulai terucap sebelum Rose teringat bahwa Vira bukanlah gadis kecil seperti yang dirinya kira.


" Tapi, yah. Bagaimanapun juga, aku adalah orang yang diberikan tanggung jawab olehnya dan aku akan memenuhi tugas itu dengan sebaik-baiknya. " balasnya sebelum kembali mengungkit masalah sebelum hari eksekusi dan membuatnya berada dalam kondisi seperti ini.


Melangkahkan kaki menuju ruang kerjanya yang sesungguhnya hanya ruang kosong dengan segala kemegahan yang ada, sebuah ucapan tidak terduga tiba-tiba terdengar dari Altaira yang dengan segera mengajukan diri untuk belajar mengenai aturan maupun hukum yang menjadi titik perubahan dari Kota Nigera.


" [ Sungguh, anak ini~. Aku pun harus sedikit belajar mengenai hal serupa dari dirinya. ] " ucapnya dalam senyuman tidak lama setelah melihat Altaira menunjukkan sikap antusias dalam tugas yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya.


Menghabiskan waktu bersama sebelum beberapa pelayan tiba dan mengucap bahwa sudah waktunya untuk istirahat makan malam bersama, Rose menarik paksa tubuh Altaira yang menunjukkan nafsu dalam pandangan sebelum masuk dalam pemandian khusus dari para perempuan dewasa maupun janda.


" Dalam waktu dekat ini aku akan membuatkan ruang khusus untukmu tinggal dan melakukan hal dasar seperti tidur ataupun hal mendasar lainnya. " ucapnya memejamkan mata ketika Altaira kembali mencoba menggoda dirinya dengan menunjukkan kemolekan tubuhnya.


Memberikan tempat duduk di dekat dirinya sebagai salah satu cara untuk menekan tindakan buruk dari Altaira, kelakuan memalukan kembali di tunjukkan Altaira tidak lama setelah meminum minuman keras yang di ambil secara paksa dari gelas kayu khusus buatannya.

__ADS_1


" Nh, ya sudah lah. Puaskan saja dirimu dan bersiaplah atas hukum berat yang aku khususkan kepadamu. " ucapnya dengan pasrah sembari melanjutkan niatanya untuk meminum minuman keras itu.


__ADS_2