Fantasyum

Fantasyum
Bab 5.5


__ADS_3

" Hm~ ya~. Saatnya menguji kemampuanku kembali dalam medan pertempuran yang sesungguhnya. " Ucapnya penuh tekad sembari melangkah lebih dalam pada sebuah reruntuhan dengan sesekali mengadukan kedua tangannya.


* sat set sat set * Beberapa kertas kerja yang menumpuk di atas meja resepsionis mulai berkurang dengan sangat cepat ketika Vi mencoba membantu Lilis dalam pengarsipan dokumen guild.


" Hey, Lilis. Siapa anak baru itu? Apakah kamu mengenalnya? " ucap seorang petualang lokal sembari memperhatikan Vi yang nampak begitu sigap.


" Hehehe. tentu aku mengenalnya, Ordo. Apakah ada hal lain yang ingin kamu tanyakan kepadaku selain dari siapa sosok cantik yang disana itu? " balas Lilis pada seorang dwarf yang membawa sebuah kampak besar dengan zirah kulit yang membalut tubuhnya


Dengan sebuah tawa dan percakapan kecil diantara keduanya, beberapa petualang lain yang menunggu tanda konfirmasi atas suatu misi mulai berkurang dan hanya menyisakan beberapa pemula.


" Hey, kakak cantik yang disana. Bolehkah kami meminta saran mengenai misi sebaiknya kami ambil? " ucap seorang petualang muda pada Vi yang baru saja memperhatikannya.


Tanpa adanya satu ucapan dari Lilis maupun petugas guild yang lain, Vi nampak mendekati kelompok petualang itu dan menyarankan sesuatu kepada mereka.


" Apakah benar begitu? " ucap seorang wanita yang nampak ragu dengan saran dari Vi atas satu misi.


" He, em. iya, nona. Tentu saya sangat menyarankannya kepada kalian yang masih berada pada tahap awal ini. " balas Vi setelah melihat lencana petualang tingkat rendah dan beberapa pakaian yang nampak mengkilap


Sembari menahan tawanya kembali atas sikap arogan dari para petualang muda itu, Vi kembali menjelaskan bahwa dirinya akan mengakui kekuatan mereka jikalau mereka benar-benar mampu menaklukkan misi yang dirinya sarankan.


" He, em. Dilihat dari manapun juga, Vi nampak begitu terbiasa dengan situasi guild yang seperti ini. " gumamnya sembari memperhatikan Vi yang terus melakukan sebuah pekerjaan dengan keinginannya sendiri.

__ADS_1


Sembari meminta Vi untuk tidak memaksakan diri, Lilis merasa sangat malu atas tingkah laku dari Vi yang justru lebih bisa diandalkan daripada dirinya.


" Sejauh ini, aku sudah memahami tingkat kekuatanku dalam beberapa tingkatan level yang tertera. " ucapnya dalam kesunyian sembari memasukkan kembali sepasang sabit kedalam tas pinggangnya.


" Ultimate Ignation, merupakan teknik terkuat yang aku miliki saat ini dan meskipun beberapa senjata dan job terus aku ganti sesuka hati, ultimate ini tetap sama seperti saat aku menggunakan sarung tinju itu. " lanjutnya dalam diam sembari memperhatikan setiap kemampuan dan skill yang ada dalam layar statusnya.


* swarps, swarps, swarps * beberapa kilatan berwarna merah menyala nampak mendekat ke arahnya dan membuatnya mengambil sikap siaga.


"[ Nana! ]" teriaknya dalam diam sembari menahan topeng tengkorak dari set kostum dark reaper itu ketika seorang perempuan berrambut perak dengan zirah berselimut darah melewati dirinya bersama dengan pedang aura yang dipanggul nya.


" Maafkan aku, tuan yang disana. Reruntuhan ini sudah aku taklukan dan hanya ada kehampaan di dalam sana. Oleh karanya akan lebih baik jika anda berjalan ke arah sebaliknya saja. " ucap Nana setelah melewati seorang petualang yang mengenakan zirah tulang


Merasa bahwa Nana tidak mengenalinya sama sekali, Rose hanya menjawab paham dan setelahnya mulai berbalik menuju area luar reruntuhan itu bersama Nana.


Setelah mengalihkan pandangannya dan berniat pergi dari lokasi itu, Nana melemparkan sekantung besar resource item dan ratusan koin emas maupun perak sebagai tanda permintaan maafnya karena telah menaklukkan reruntuhan itu.


" Tidak apa, tuan. Anda bisa mengambil semuanya yang ada itu, karen aku sendiri tidak terlalu menginginkannya. " balas Nana sembari berjalan pergi meninggalkan Rose bersama dengan seluruh hadiah dari ditaklukkannya reruntuhan itu.


" [ Jika kamu benar ingin bertemu denganku, aku akan selalu ada disetiap reruntuhan. Karena bagaimanapun juga, dalam reruntuhan itu~ ada sebuah petualang yang membuat hatiku berdebar-debar. ] " gumamnya dalam diam sembari melepaskan topeng tengkoraknya disaat mengingat sebuah costum talk di dalam sistem yang berkaitan dengan peningkatan affaction pada setiap npc.


Kembali melangkahkan kakinya menuju reruntuhan lain, Rose kembali teringat sebuah sistem dalam game yang terus memunculkan monster dalam reruntuhan selama reruntuhan itu belum ditaklukkan.

__ADS_1


" Dengan kata lain, dalam dunia yang menjadi nyata ini. Beberapa monster yang aku temui dalam hutan merupakan monster-monster yang berbeda dengan monster-monster yang keluar dari dalam reruntuhan dan sama halnya dengan sebuah save zone di beberapa lokasi, monster-monster yang keluar itu hanya bisa berkeliaran di satu area tertentu sebelum akhirnya menghilang disaat batas waktu penaklukan reruntuhan. " gumamnya setelah menembak seekor monster gnome dari kejauhan dan membuat gnome yang berkeliaran hanya terbang beberapa meter di hadapannya sebelum akhirnya kembali ke tempat sebelumnya.


Mengetahui bahwa bugs dalam dunia game dapat menguntungkan dirinya, Rose terus melakukan hal yang sama itu hingga muncul sebuah drop item tingkat tinggi yang jarang sekali muncul dari monster sejenis gnome.


" Hehehe, saatnya kembali bermain cerdas dengan memanfaatkan setiap bugs yang ada " ucapnya dengan tawa sebelum memulai pembantaian mengerikan dalam reruntuhan baru yang ditemukannya.


" Hey~ Lili. Bolehkah aku tahu kemana tuan pergi? " ucap Vi dalam kebosanan ketika tidak ada hal lain yang dapat dirinya lakukan ketika hari mulai berganti


" Em~ mengenai itu~, sebenarnya Rose memintaku untuk menemanimu selama dirinya pergi menaklukkan reruntuhan di dekat sini. " balas Lilis dengan jujur setelah Vi berulang kali menanyakan hal yang sama namun berhasil dialihkan dengan sebuah tugas darinya


" Ke---kenapa kamu tidak mengatakannya sedari awal, Lili! " ucap Vi dengan sangat marah ketika Lilis hal itu.


Mengatakan sebuah janji dari Rose yang menyatakan bahwa dia akan kembali setelah malam nanti, harapan bahwa Vi akan kembali tenang justru berubah menjadi kemarahan yang semakin besar.


" Aku akan pergi! " Teriak Vi sembari melangkahkan kakinya menuju pintu keluar untuk mencari keberadaan dari Rose


" Ou~ssh. Kenapa kamu nampak begitu marah, Vi? Apakah Lilis melakukan sesuatu yang salah dimatamu? " ucap Rose sembari menahan tubuh Vi yang hampir jatuh beberapa saat setelah menabrak tubuhnya


Amarah yang begitu besar itu mulai berubah menjadi tangis air mata setelah Vi melihat Rose ada dihadapannya secara nyata


" Tuan! Tuan! Tuan! Tolong, jangan tinggalkan saya sendirian lagi! " ucap Vi sembari memukuli tubuh Rose dengan tangis air mata setelah mengingat sebuah masa dimana Rose pergi dalam waktu yang cukup lama sebelum akhirnya kembali dengan tubuh penuh luka.

__ADS_1


" Dan bahkan, hal yang masih membekas dalam hati saya hingga kini adalah saat dimana beberapa orang datang ke rumah dengan membawa tubuh tuan yang tidak lagi bergerak... " lanjut Vi sembari menenggelamkan wajahnya pada tubuh Rose dengan tangis kesedihan


" [ Hm~ jadi seperti itu, bagian misterius atas opis bangkitkan kembali dengan harga dari separuh jumlah koin yang dimiliki dan 10% penurunan exp? ] " ucapnya dalam diam setelah mengingat sistem yang menyatakan bahwa sosok misterius berhasil membawanya pulang sebelum kematian menghadang.


__ADS_2