Fantasyum

Fantasyum
Bab 25.5


__ADS_3

" [ Hehe. ya ampun. Apakah pertemuan mereka, tidak terlalu cepat? ] " pikirnya setelah Gaia mengatakan pertemuan Vira dengan Queenela di saat waktu makan malam tiba.


Duduk di bangku panjang yang bagian kaki bawah bangku itu menyatu dengan meja yang sama panjangnya, Vira nampak tidak menduga bahwa asrama tempatnya berada memiliki ruang makan yang begitu luas dengan keramaian para siswa dari tingkat pertama hingga tingkat ke lima yang tinggal dalam asrama.


" Who!! Aya!! Mega!! Nara!! Senang melihat kalian sudah naik ke tingkat tiga! " sapa Viro dengan senang kepada beberapa siswa yang memiliki tiga bintang kecil diatas nomor tanda yang melekat pada bahu kanan dan kiri mereka.


Menyapa balik Viro dengan ramah dan senyuman, respon tidak terduga di berikan oleh seorang siswa ber rambut ungu kehitaman yang begitu gembira dengan pertemuannya dengan Viro yang duduk tidak jauh darinya.


" [He,em. Aku pernah dengar bahwa Kak Viro dan Kak Altaira pernah belajar di sekolah ini. Tapi, aku tidak mengira bahwa Kak Viro yang cukup hebat itu masih berada di peringkat pertama seperti aku ataupun para siswa baru di tahun pertama. ] " pikirnya sesaat sembari melahap makanan yang memiliki citarasa seperti makanan buatan kakaknya.


Sibuk memikirkan pergolakan dalam diri mengenai pengakuan citarasa yang dirasakan, Viro yang datang menyapa bersama teman-temannya membuatnya kehilangan kata untuk membalas sapaan mereka.


" Hey, kalian. Tolong, berikanlah sedikit ruang untuknya. " ucap Viro sembari menenangkan teman-temanya yang nampak terlalu berlebihan mengenai apa yang mereka tanyakan kepada Vira.


Mengucap maaf setelah memukul perempuan ber rambut ungu dan perempuan ber rambut coklat, perempuan ber rambut merah muda yang mengenalkan diri sebagai Aya mulai meminta Vira untuk tidak mengikuti jejak Viro yang di kenal sebagai pembuat onar semenjak hari pertama penerimaan siswa.

__ADS_1


" Mhno? Apa si kalian ini ? Tidak perlu dilebih-lebihkan seperti itu. Aku memang mengakui bahwa aku sempat mengacau di tahun pertamaku waktu itu. " ucap Viro membela diri terhadap ucapan kasar teman-temanya yang mengungkit masalah penyerangan pada guru pembimbing uji kemampuan dasar yang meliputi pada basic attack sihir maupun non sihir.


Mengatakan dengan jelas atas alasan penyerangan itu yang didasari pada pelecehan yang dilakukan penguji pria di waktu gilirannya tiba membawa fakta menarik mengenai ketiadaan dari siswa ataupun guru laki-laki dalam asrama tempat mereka berada.


" Ucapan itu tidak sepenuhnya benar ataupun salah, Vira. Mereka yang kamu maksudkan masih berada dalam lingkungan sekolah. " sambung Aya memberikan penjelasan bahwasanya asrama laki-laki memiliki jarak tambahan 2Km dari asrama perempuan.


Menyambung masalah yang disebabkan oleh Viro dan membuka hal hina yang tersembunyi diantara kedamaian sekolah tempat mereka berada membuat pihak tertinggi dari kesatuan sekolah sihir Platina mengambil tindakan serius dan membuat aturan baru yang membuat para pria ataupun siswa laki-laki yang ada tidak berani melakukan tindakan hina sampai hari dimana mereka meninggalkan lingkup sekolah Platina.


" [ Jadi itu sebab nya? Pantas saja sedari awal perjalanan dari sekolah ke asrama, banyak sekali kakak perempuan yang tinggal di sepanjang jalan utama. ] " ucapnya menyimpulkan sebuah fakta mengenai beberapa rumah sederhana yang dimiliki oleh lulusan sekolah tempatnya berada sebagai tempat singgah sementara untuk mendapatkan lisensi pengajar dalam kesatuan sekolah sihir Platina.


" Tidak seperti itu juga, Vira. Selain dari para lulusan dari sekolah ini, beberapa dari mereka yang berada pada tingkatan setara dan lebih tinggi dari kami pun tinggal dalam rumah sederhana itu untuk memulai studi ataupun penelitian pribadi. " lanjut perempuan ber rambut coklat yang menjelaskan satu aturan mengenai larangan penggunaan sihir ataupun segala bentuk aktifitas yang mampu merusak sistem perlindungan dalam asrama.


" Lalu, lalu? Bagiamana dengan guru barumu itu? Apakah benar dia adalah sosok yang sama seperti yang kamu tulis dalam surat itu ?" ucap perempuan ber-rambut ungu yang gemas terhadap ucapan Viro mengenai sosok pria yang dianggap nya sebagai guru.


Menunjukkan semangatnya dalam menggambarkan sosok yang dimaksud sebagai sosok yang baik, sopan, pekerja keras, jujur dan ramah, raut wajahnya yang begitu senang mulai menampakkan ketakutan di waktu dirinya mencoba mengatakan kemarahan yang teramat menakutkan dan membawa trauma mendalam terhadapnya.

__ADS_1


" Dan setelahnya, kamu menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, bukan ?" ucap Aya yang merasa bahwa sosok yang dimaksud memberikan perubahan baik pada Viro yang semula sulit untuk menjaga kata yang terucap ataupun sikapnya yang cukup buruk sebelumnya.


Menghargai sikap Viro yang terlalu jujur itu semenjak hari pertama mereka mengenalnya, ucapan senang terhadap rasa sukanya terhadap sosok yang dimaksud membuat mereka ikut senang dibuatnya meski pada akhir kata yang terucap itu, mereka merasa bahwa ada hal kecil yang disembunyikan oleh Viro.


" Nmh! Sungguh! Selain dari rasa hormarku padanya, aku [ tidak bisa mengatakan rasa suka yang ada pada ayahku sendiri!] Aku tidak memiliki ketertarikan seperti yang kalian ucapkan itu! " balas Viro yang membela diri atas godaan dari teman-temanya sembari mencoba menerima kebenaran atas sosok Izera yang tidak lain merupakan tubuh baru dari jiwa ayahnya.


Menggambarkan kembali sosok Izera yang memakai pakaian serba hitam dengan penutup kepala melingkar layaknya tudung para petani dari pedesaan serta perban putih yang membalut kedua tangan penuh bercak noda dan sebuah tas besar berisikan berbagai hal tidak terduga mulai membuat Vira merasa bahwa sosok yang dimaksudkan merupakan sosok kakaknya yang selalu membawa tas besar dengan jahitan mahkota bunga mawar yang mekar lengkap dengan dua pedang yang menyilang serta naga putih yang melingkar di sisi luar.


" Apakah memang benar seperti itu? " ucap Aya dengan perasaan ragu atas kebenaran yang ada sebelum Mega dan Nara kembali memaksanya mengakui hal yang sebenarnya mengenai sosok pria yang dikaguminya.


Menjelaskan kembali kenaikan yang Izera miliki sebelum menunjukkan sebuah luka diantara lengan kanannya yang tertutup bulu, rasa enggan untuk percaya kembali timbul pada mereka yang tidak menduga bahwa ada sebuah luka yang tidak dapat disembuhkan menggunakan sihir regenerasi ataupun sejenis sihir pemulihan.


" He,em. Aku rasa tidak, kak. Luka fatal akibat serangan dari hewan magis dan senjata ataupun item terkutuk memang tidaklah mudah untuk disembuhkan tanpa adanya pengetahuan lebih mengenai sihir pemulihan yang pada dasarnya memiliki tingkatan yang berbeda. " ucap seorang perempuan dengan tanda pengenal peringkat pertama yang tidak memiliki nomor urut dari siswa tahun pertama maupun tanda pengenal nama diantara baju seragam yang dirinya kenakan.


Memandang ke arah perempuan yang sama dengan tatapan penuh tanya mengenai apa maksud dari ucapannya, perempuan yang sebelumnya masih memakan porsi makanan yang ada mulai bangkit dari duduknya sebelum memberikan sedikit gambaran mengenai maksud dari perkataannya sebelumnya.

__ADS_1


" Seperti itulah adanya kak. Sihir penyembuhan dan regenerasi memang sama namun berbeda dan bergantung pada kemampuan yang dimiliki oleh penggunanya, hasil akhir dari penyembuhan yang dilakukan pun akan berbeda. " lanjutnya sebelum pergi meninggalkan mereka yang nampak dipenuhi dengan segudang pertanyaan atas penjelasan yang diberikan.


Mengingat kembali kondisi dari dirinya yang dulu sempat kehilangan beberapa panca indra membuat dirinya merasa bahwa perempuan yang dia temui sebelumnya itu memiliki pengetahuan lebih mengenai dunia luar dan mampu memberinya jalan untuk menolong kakaknya.


__ADS_2