
" Tu--tuan! To--tolong bermainlah dengan lembut! Aku, aku mohon!!" Ucap Vi sembari mengigit salah satu jarinya ketika Rose melakukan sesuatu yang intim kepadanya
" Vivi~ Viola~ Vi! " ucap Rose secara berulang untuk menyadarkan Vi dari lamunan kotornya.
Kembali menyadari bahwa semua yang terjadi hanyalah fantasi kotornya semata, Vi kembali menutupi wajahnya sembari meminta maaf atas hal memalukan yang dirinya lakukan.
" Tidak apa, Vi. Aku senang akhirnya kamu tersadar kembali. Dan lagi, apa yang terjadi ini pun menandakan bahwa efek ramuan itu masih tersisa. " Balasnya sembari membelai wajah Vi dengan pelan dan membuka kedua penutup itu secara perlahan
Mengingat kembali ucapan tuannya mengenai ramuan itu, Vi sempat mengucapkan keinginannya untuk melepaskan hasrat terpendamnya itu dan melakukan sesuatu yang intim kembali seperti sebelumnya.
" Jangan bersikap manja seperti itu, Vi~. Aku akan selalu melakukan hal itu kepadamu, tepat setelah kita melakukan janji suci itu terelebih dahulu~." balasnya sembari mengusap pungung Vi yang mencoba memancing hasrat nafsunya.
Enggan menerima nasehat dari tuannya itu, Vi mulai melepaskan setiap kain yang menutupi tubuhnya sebelum kembali memaksa tuannya untuk bermanja-manja.
" [Akh, ya ampun!! ] Vi! Apakah kamu sudah kehilangan akal sehatmu! " ucapnya sembari mencoba menasehati Vi disaat Vi mulai naik diatas tubuhnya dengan menampakkan tubuh demi human yang tertutup bulu
" Tidak, tuan. Saya masih bisa mengendalikan diri saya secara sadar dan masih dapat berfikir jernih sepseti sebelumnya. " balas Vi sembari membaringkan diri diatas tubuh tuannya dan mulai mengangkat pingganggnya
" Dan lagi, ini semua adalah salah tuan karena enggan melakukan hubungan semacam ini bersama meskipun tuan tahu bahwa saya sendiri sangat menginginkannya. " Lanjutnya sembari mempersiapkan diri ketika bagian vital milik tuannya mulai berreaksi
" Karena itulah, saya harus melakukan hal ini dengan paksa! " tambahnya sebelum menyatukan diri dengan tuannya.
__ADS_1
* stapts * " Maaf, Vi~ meskipun aku juga sangat ingin melakukan hal serupa dengan apa yang kamu inginkan ini. Aku tetap tidak bisa, Vi. " ucapnya dalam keheningan setelah membuat Vi kehilangan kesadarannya.
" Karena adanya karma yang mengikat secara tabu, aku tidak biasa melakukan hal semacam itu kepada kalian. Meskipun aku sangat menginginkannya dan lagi, tanpa adanya karma itu. Aku mungkin sudah melakukan banyak hal menyimpang dan menjajakan tubuh kalian kepada bandit maupun bangsawan pun dapat menjadi satu tindakan yang cukup menguntungkan selain dari pencarian bounty atau penaklukan sebuah reruntuhan. " ucapnya dengan serius kepada Lilis dan Vi setelah melalui makan malam penuh keheningan.
Kembali menjelaskan sebuah karma baik yang akan memberinya kebaikan dunia maupun hal-hal baik lainnya serta karma buruk yang berkenalikan dengan apa yang diberikan karma baik.
" Dan dalam satu titik terburuk dari karma buruk itu, aku bisa saja menjadi monster paling mengerikan dalam sejarah. " lanjutnya sembari menunjukkan satu bentuk lengannya yang dapat bercabang serta mengeluarkan berbagai macam pentagon sihir secara bersamaan.
" Satu, dua, tiga.... " ucap Vi sembari menghitung jumlah lengan itu ketika Rose menunjukkan hal yang tidak terduga
" [ 4 elemen dasar dari api, air, tanah dan udara, sebuah elemen cahaya tanda elemen suci serta sebuah elemen kegelapan tanda kutukan. ] " ucap Lilis dalam diamnya ketika mengingat satu ajaran mengenai sihir elemental yang hanya dapat digunakan oleh arc mage maupun sage.
" Oleh karena itu, aku mohon dengan sangat kepadamu, Vi. Berhentilah melakukan hal seperti sebelumnya. " lanjutnya setelah kembali mengubah lengannya normal kembali.
" Maaf menyela, tuan. Bukankah waktu itupun anda sempat berkata bahwa dalam satu tempat tertentu, hukum karma yang mengikat itu tidak akan membebani anda? " ucap Lilis mencoba mengalihkan topik pembicaraan yang terus memojokkan Vi
" Emh, ya. Ada beberapa tempat netral dimana hukum karma tidak akan bekerja. " balasnya sembari menyebutkan beberapa tempat netral tersebut.
" Jadi, selain dari reruntuhan, penjara maupun pasar gelap. Apakah ada tempat lain yang bisa dikatakan sebagai zona netral itu? " balas Lilis sembari mencoba mengetahui satu zona netral lain yang enggan dikatakan tuannya.
Mendengar bahwa dalam zona netral itu, Rose dapat melakukan hal yang tidak biasa dirinya lakukan. Sebuah senyuman kembali terukir dalam wajah Vi yang sempat murung itu.
__ADS_1
" Dikarenakan membunuh dan mempertahankan diri adalah dua hal yang saling berlawanan, beberapa zona netral itu berada di tempat-tempat yang berbahaya. " lanjutnya menegaskan bahwa dalam zona netral tersebut mempertahankan diri sendiri merupakan satu hal yang mutlak.
" A-ano, tuan~. Apakah dalam zona netral tersebut, anda juga dapat melakukan hal semacam itu? " ucap Vi dengan hati-hati agar tidak kembali membuatnya menjadi sasaran kemarahan Rose.
Merasa bahwa Vi tidak mengambil pengalaman berharga dari apa yang terjadi sebelumnya, membuat Lilis tidak habis fikir mengenai apa yang sebaiknya dirinya lakukan pada Vi.
" Hehehe. Pertanyaan bagus, Vi. " Balas Rose sembari mengatakan bahwa hal-hal semacam itu pun dapat di lakukan setiap saat sebagai bentuk pelepasan rasa penat maupun peningkatan keinginan untuk hidup.
Mendengar hal yang tidak terduga itu, Lilis hanya bisa menutup mulutnya yang ternganga itu seakan tidak percaya pada apa yang tuannya katakan.
" Dan~ karena hal semacam itu juga banyak petualang bodoh yang terbunuh dalam zona netral itu. " tambahnya setelah menyebutkan bahwa hasrat yang begitu besar itu menggoyahkan kepercayaan satu sama lain serta membuat mereka gagal memahami setiap situasi yang ada.
" [ Apakah memang begitu kebenarannya? ] " ucap Lilis meragukan apa yang Rose katakan setelah mengingat beberapa petualang yang berganti anggota maupun membubarkan satu partynya.
Mencukupkan topik pembicaraan yang begitu serius itu, Rose menunjukkan beberapa baju yang sempat dirinya beli sebelumnya dan meminta kedua pelayannya itu untuk mencobanya.
Bagaikan sebuah ajang dimana para model menunjukkan satu busana terbaik dari para pembuatnnya, Rose berulang kali berdecak kagum ketika melihat Lilis maupun Vi mengenakan set pakaian itu hingga malam semakin larut.
" Hm~ jadi itu adalah alasan kenapa dirinya memiliki aura semacam itu. " ucap Fexilis sembari memegang dagunya setelah mengingat apa yang Rose sebutkan mengenai karma yang mengikatnya.
" Tapi tetap saja ada hal ganjil pada dirinya. Karena bagaimanapun juga, entah dirinya sengaja atau tidak. Seharusnya status dari pelayan yang mengikat itu akan mengabaikan hukum karma yang ada dan dia dapat melakukannya tanpa memandang waktu, tempat maupun hukum karma sebelumnya. " lanjutnya setelah melihat satu aturan dalam buku yang dipegangnya yang menjelaskan bahwa status pelayan akan selalu terikat ucapan mutlak dari tuannya dan mengabaikan karma yang ada.
__ADS_1
" [ Dengan begini, aku harap Vi tidak lagi melakukan hal yang mampu membuat nafsuku menggelora. ] " ucapnya dalam kesunyian sembari memandang Vi yang pulas dalam tidurnya.