Fantasyum

Fantasyum
Bab 13


__ADS_3

* Swuuuungsss * Lesatan duri beracun dari tubuh monster bunga langsung terhempas begitu Rose datang dengan bariarelnya.


" "Kya!!! Tolong!!! Tolong aku!!! Huhuhu!!" * prefffts * Apakah kamu tidak bosan dengan perkataan seperti itu? " ejek Rose ketika Viro menangis dalam pelukannya setelah monster yang datang kembali lari tunggang langgang ketika Rose memberikan satu serangan fatal.


* Dhpts * " Huaaa!!!! " Teriak tangis Viro setelah Rose kembali mendorongnya jatuh dan berjalan menjauh.


" He, em. [ Abaikan, abaikan, abikan! ] " gumamnya berulang sembari mengusap wajahnya yang kesal ketika tangis Viro terus terdengar sepanjang jalan setapak dalam gelapnya hutan.


Mencoba menahan satu aksi untuk kembali meninggalkannya dalam berbagai opsi seperti diracuni maupun di ikat pada posisi seperti sebelumnya kembali, ucapan penjaga gerbang mengenai Viro yang harus kembali di saat dirinya selesai menyelesaikan misi membuatnya terus mencoba menahan amarah dalam diri.


" Kya, ha! [ Meski berulang kali dia mencoba membuatku terbunuh dalam satu misi, dia tetap saja datang dengan satu aksi demi menjauhkanku dari sesuatu yang mengancam diri. ] * gbyarsss * " tawa senang Viro ketika bermain dalam satu gundukan besar rerumputan herbal yang menjadi misi ke tiga Rose hari ini.


* grrrrrrr * " Bola! Bulu!! Cepatlah kembali kesini!!! " Teriak Rose dengan penuh amarah ketika Viro berlari menjauh darinya dengan tawa setelah kantung kain berisi material misi, harus hilang penuh misteri.


" Grahaha!! Sudah aku bilang bahwa itu bukan salahku! huhuhu!! " ucap Viro setelah Rose membuatnya terdiam tanpa kata di aula utama guild sampai Rose mengijinkannya berbicara.


" Tadi ada Clayton Kara mendekat dan * stumpts * lalu * swuuungs * dan akhirnya, akhirnya * Clings * Huhuhu!! Aku sungguh tidak tahu bahwa itu akan terjadi!! " lanjutnya sembari memperagakan datangnya sosok monster tanah berbentuk bayi beruang yang datang mendekatinya sebelum merebut paksa kantung kain berisi kristal misi dan melahapnya.


Meski sempat ingin memaafkan Viro atas usahanya untuk menghentikan seekor elang biru yang memangsa bayi beruang itu, Rose tetap menginginkan satu hukuman untuk Viro setelah mengingat usahanya yang harus menempuh jarak yang cukup jauh di dalam hutan dan menambang material misi itu dalam tambang yang dipenuhi monster tingkat tinggi.


" Bukan hanya itu! Tangan Nilus lima jari, Katak Gogoron, Laba-laba cincin hermit dan Kelelawar vampir adalah monster mematikan yang selalu mengintai di kegelapan! Kau tahu! " ucapnya setelah menyebutkan medan berat yang harus di tempuh.

__ADS_1


" Dan hal yang membuatku murka adalah saat dimana aku bersiap mengistirahatkan diri. * Huuuhssshss * Dia datang dengan luka pertarungan dan menyebutkan bahwa kristal misi telah hilang!! " tambahnya setelah seorang guild master memintanya untuk menghadapi Viro dengan kepala dingin.


Di buat heran dengan sikap aneh yang terus dilakukan pegawai guild maupun prajurit yang ada di sekitranya membuatnya menarik satu kesimpulan dengan ucapan penuh keyakinan.


" Viro, adalah anak dari." bisiknya setelah meminta guild master itu mendekati dirinya.


* tok tok tok * Seorang pegawai guild meminta maaf atas kehadirannya di waktu yang genting itu sebelum mengatakan bahwa ada seorang yang berniat menemui keduanya.


" Permisi " ucap pegawai itu sembari melangkah pergi setelah sosok yang di maksud memperkenalkan diri.


Seorang pria berbalut armor kesatria dengan dominasi warna merah serta jahitan naga dari jubah warna serupa, pria itu mulai menyebutkan namanya sebelum meminta maaf atas sikap Viro sebagai adiknya.


* skrings, sgrulks * suara gesekan dari armor itu nampak jelas terdengar bersama kilatan cahaya yang terlihat setelah sosok itu bergabung dengan mereka.


Merespon baik tindakan sosok itu yang senada dengan apa yang pernah dialami olehnya akibat kesalahan yang Vira lakukan membuatnya memilih jalan damai dengan saling memaafkan dan melupakan apa yang telah terjadi.


" Tidak, tuan. Tolong, tunggu sebentar. " tambah sosok itu sembari menahan kepergian Rose setelah pembicaraan diantara mereka di anggap selesai.


Menyampaikan rasa terkejutnya atas luka yang membekas diantara tubuh Viro, Rose sempat merasa bahwa masalah baru akan mendatangi dirinya.


" Hehe, iya. Saya tahu bahwa anda tidak ingin melakukan hal itu kepadanya dan dia sendiripun sudah menjelaskan bahwa dia sempat bertarung dengan elang biru sebelum anda memberinya tambahan luka. " sambung sosoknya ketika Rose nampak terdiam tanpa kata.

__ADS_1


Melanjutkan ucapannya mengenai sikap buruk adiknya yang memerlukan pendidikan khusus dari seorang yang dapat dipercaya, arah pembicaraan diantara mereka mulai menuju pada satu keinginan serupa yang selalu Viro ucapkan sejak lama.


" Selain dari itu pun, sejauh yang saya tahu tentang dirinya. Dia tidak pernah sekalipun mendapatkan luka fatal semacam itu, meski sosok kuat yang melebihi elang biru menjadi lawannya. " tambah sosok itu dengan senyuman sebagai tanda bahwa Rose bukanlah sosok yang dapat dianggap remeh ataupun di biarkan begitu saja.


Raut wajah kesal sempat terlihat sebelum ucapan kosong penuh kebohongan terdengar sebagai bentuk sanggahan.


" Izeral Elise. Seorang pemuda yang datang bersama sisa prajurit penjaga, sekembalinya mereka dari ekspedisi Unident. Selain dari perwakilan saksi atas kejadian mengerikan yang membumihanguskan desanya, dia mengaku pernah menjelajahi satu reruntuhan dan bertemu dengan dewi pembawa keberkahan. " ucap sosok itu sembari memegang erat sebuah kertas laporan dihadapan Vi dalam satu ruangan.


" Meski hal itu nampak serupa dengan bualan semata. Laporan lain dari tiga pilar utama menunjukkan hasil yang hampir sama dengan apa yang aku rasa sejak pertemuan pertama. " ucap Vi menanggapi keraguan dari sosok yang ada diahadapannya sebelum memintanya untuk berperan sebagai pengawas dari Izeral agar Izeral tidak melakukan sesuatu semaunya.


Mengatakan beberapa hal ganjil mengenai Izera yang memiliki ketahanan terhadap aura miliknya maupun satu perubahan dalam pembicaraan ruang tertutup bersama tiga pilar utama, keinginan kuat untuk tetap mengekang Izera secara rahasia mulai di terima sosok itu sebelum Vi memberikan pelukan hangat tanda sambutan selamat datang


" Alterius Airina Rose. Senang rasanya bisa melihatmu kembali ke tempat ini. " lanjutnya sembari mengusap punggung sosok itu yang hanya terbalut mecha suit berwarna dasar ungu dengan garis merah di setiap sendi geraknya.


Memejamkan matanya dalam pelukan hangat dari Vi yang tidak lain merupakan sosok ibu ke dua baginya, sebuah permintaan sederhana mulai terdengar dengan maksud untuk mengenang kembali sosok ayah yang telah tiada.


" Jika kamu merasa tidak mampu mengalahkan sosok itu, setidaknya kembalilah ke padaku dan bersama setelahnya. Kita akan mengalahkan sosok itu! " ucap Rose yang kembali terdengar dalam kesunyian malam dikala Vi terus memikirkan Izeral yang memiliki satu kemungkinan sebagai musuh di masa depan.


...----------------...


Beberapa hari berlalu semenjak kejadian menggemparkan itu dan Rose merasa sangat lega bahwasannya Viro tidak lagi menampakkan diri maupun mengganggunya seperti terakhir kali.

__ADS_1


" Hehe, Sepertinya sistem dunia tidak mengijinkanku untuk hidup dalam damai seperti apa yang aku harapkan. " gumamnya setelah melihat beberapa penjaga nampak membuat satu brikade untuk menghentikan langkah kakinya.


__ADS_2