Fantasyum

Fantasyum
Bab 10.3


__ADS_3

Menghabiskan waktu dengan melakukan berbagai pekerjaan rumah sederhana, belajar dan bermain bersama Vira sempat membuat Rose mengingat sebuah masa disaat dirinya masih memiliki keluarga.


" [ Vira, Viola, Vi, Vi, Vira, Victor, Victoria, Viera Astera! ] " ucapnya dalam diam sembari memegangi kepalanya ketika bayangan gadis belia nampak tertawa setelah Vira memeluk tubuhnya.


Mengusap pelan punggung Vira sembari mengingat hubungannya dengan sosok yang di sebutkan itu membuatnya menyadari bahwa ada satu masa yang terlewat dalam hidupnya.


* Arghs. * Geram suara yang menyakitkan terdengar begitu tiba-tiba disaat Rose terjatuh dengan noda darah di tangan kanannya.


" Kaka! Apakah Ka Ize, lupa meminum ramuan penyembuhan lagi! " teriak Vira yang begitu khawatir setelah kakaknya terkulai lemas di sudut ruangan dengan noda di bibir dan tangannya.


" [ Nh, Benar. Ezra memiliki satu penyakit dalam tubuhnya setelah menyelamatkan Vira dari sosok monster yang menyerang kedua orang tua mereka dalam kereta naga. ] " ucapnya sembari menahan sebuah rasa sakit yang seharusnya hal itu telah dinetralkan melalui satu perintah dalam sistem yang di ucapnya.


Memberikan sebuah botol ramuan penyembuhan yang tertera jelas dalam tabel sistem menyebutkan racun, membuat Rose merasa bahwa ada satu sosok yang berniat buruk atas Ezra maupun Vira.


Menuang habis isi botol itu dalam gelas sebelum meminunnya dan memuntahkannya kembali setelah Vira pergi, rasa pedas yang teramat sangat bagai sensasi terbakar terus terasa pada lidahnya meski beberapa kali rapalan mantra regenerasi bahkan mantra pembeku tidak berpengaruh sama sekali.


" Hm? Kaka? Apakah kaka baik-baik saja? " tanya Vira yang kembali kehilangan senyumnya setelah melihat kakaknya terbaring di atas kasur busa di lantai utama


Mengusap pelan kepala sembari mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja, berhasil membuat Vira kembali tersenyum seperti sedia kala.


" [ Dalam satu waktu, aku memang pernah beberapa kali mendengar kaka berteriak kesakitan di kala siang dan malam.] " gumamnya sembari memalsukan kehawatirannya dalam senyuman.


Memeluk tubuh kakaknya untuk menghapus air mata yang sempat membasahi matanya, Vira sempat berkata bahwa kakaknya tidak harus pergi bekerja untuk sementara.

__ADS_1


" [ Sol, Nomen, Deiri, Kane, Sherrill, Uru dan Zire. Lalu, Nier, Alpen, Sigri, Neon, Elfa, Dzira dan Zigma.] " ucapnya dalam diam setelah mencoba mengingat kembali nama hari dalam kertas kalender yang Vira pegang sebelum menyamakannya dengan hari dan tanggal yang ada dalam profil statusnya.


Menganggukan kepala sebagai pilihan terbaik setelah kepalanya hampir meledak atas perbedaan simbol dan aksara, nada lembut dari Vira yang ada di sampingnya membuat rasa sakit yang masih tersisa dalam raga Ezra lebih mereda.


*kruuuekss* Terbangun di gelapnya malam dengan suara perut keroncongan membuatnya kembali mengingat kehidupan di dunia sebelumnya.


" He, em. Tidak. Dalam dunia ini, aku masih memiliki kemampuan dalam sistem dan memanfaatkannya untuk kelangsungan hidupku. " ucapnya pelan setelah mengaktifkan kembali opsi sihir dan kemampuan.


Menyelimuti tubuh Vira dengan selimut tipis yang semula membalut tubuhnya, Rose berjalan menuju hutan dengan hati-hati agar Vira tidak terbangun dan mengikuti.


" Nah, nah. Diantara semua senjata yang ada, seharusnya sarung tangan ini adalah yang terbaik untuk di gunakan saat ini. Namun masalahnya, aku tidak yakin dengan pasif mengerikan yang akan aktif setelahnya. " gumamnya di atas tanah tinggi berselimut bebatuan.


Memejamkan mata kembali sembari membayangkan setiap skill yang akan muncul di setiap senjata yang ada, dirinya teringat pasif dari Belati Century tidak seganas pasif dari senjata lainya.


" Langkah sunyi, peniadaan hawa keberadaan diri, damage klorosi 95.5%, peningkatan jiwa korupsi 4.5% dan peningkatan ekstra damage 25.5% pada setiap tipe serangan beruntun" gumamnya sembari membaca pasif skill yang ada sebelum mengambil sikap siaga dengan dua belati century di tangannya.


* sclisings * " Satu, * Slicings * dua, *slicings * tiga. " ucapnya menghitung setiap tubuh yang kehilangan nyawa dengan mudahnya setelah terkena serangan fatal tanpa langkah kaki yang terdengar.


...----------------...


* Toaaaaaaangsss, toaaaaaaangsss, toaaaaaaangsss* Suara keras dari sirine tanda bahaya dalam satu kota dari hutan tempat Rose berada terus bersorak diri dikala para petualang maupun para relawan memaksakan diri pada kemampuan untuk melawan suatu ancaman di kala beberapa hewan buas mulai berdatangan.


" Hwa~ahms. Sudah saatnya kembali untuk memejamkan mataku. " gumamnya dengan malas setelah melihat tumpukan tulang dan daging yang telah membumbung tinggi sebelum berjalan menuju tempat tinggalnya saat ini.

__ADS_1


* Dbugsss * Sebuah tubuh penuh luka di kuburkan dalam tanah perkuburan di dekat desa bersama tangis air mata dari mereka yang berhasil bertahan dari serangan monster sebelumnya.


Dengan sinar mentari yang mulai menerangi diri, Rose yang semula enggan membuka kedua matanya harus memaksakan diri untuk terjaga disaat Vira terus berkata mengenai sesuatu yang mengejutkan dirinya.


" Tenangkanlah dirimu, Vira. Beberapa makanan yang tersaji di sana adalah makanan yang sengaja aku buat untuk sarapan. " ucapnya dengan menahan diri disaat Vira terus berkata mengenai apa yang ada hanyalah imajinasi dalam mimpi.


Mencubit gemas pipi Vira sebelum duduk dan memintanya untuk memakannya dengan segera, teriakan senang lagi bahagia sempat terlihat di wajahnya yang nampak tidak percaya sebelum duduk dan mulai ikut memakan makanan itu dengan lahapnya.


" Pelan-pelan, pelan-pelan. " ucap Rose berulang ketika Vira beberapa kali tersedak makanan serupa pai daging maupun makanan lezat yang tersaji di hadapannya.


Ucap terima kasih dari Vira dengan wajah polosnya membuat Rose kembali mencubit gemas pipinya setelah kilau cahaya dari wajah yang begitu bahagia membuat kesan dalam hatinya.


" Kaka! Tunggu! Jangan tinggalkan aku seperti sebelumnya! " ucapnya yang bergegas mendekati kakaknya dikala dirinya hanya mendengar kesunyian tanpa langkah kaki maupun dengkuran seperti sebelumnya.


* Hups * Menahan tubuh Vira yang hendak terjatuh dihadapannya sempat membuatnya geram dirinya.


" Hehehe. Maafkan aku, kaka " tawanya kembali dengan menunjukkan senyuman untuk menghapus kekesalan yang nampak pada kakaknya.


Mencubit gemas kembali pipi dari Vira dan menasehatinya mengenai beberapa hal sederhana yang dapat melukai tubuh kecilnya membuat Vira semakin terlihat bahagia.


" [ Kakaku adalah yang terbaik di seluruh tanah Sylvia!! ]" Teriaknya dalam hati sembari melangkahkan kaki dengan telapak tangan yang saling mengaitkan diri.


Berjalan dengan pelan dan sesekali menggendong Vira disaat tubuh kecilnya nampak kelelahan, keduanya terus menyusuri hutan untuk mencapai sebuah desa yang sebelumnya telah di lihat dalam opsi peta pada sistemnya

__ADS_1


" [ Dataran tinggi tanah Laveda. Seharusnya itu adalah nama area dimana diriku berada. ] " gumamnya setelah kembali melihat opsi peta dikala melihat Vira memejamkan kedua matanya


Melihat jarak yang terbentang cukup jauh dari kota setelah memperbesar opsi dalam peta, dirinya sempat tertawa atas derita yang Ezra harus alami setiap harinya sebelum memperoleh sedikit upah dari hasil kerjanya untuk menghidupi diri dan adik kecilnya.


__ADS_2