
Perdebatan sengit diantara mereka dengan dirinya selalu di balas menggunakan ucapan sederhana yang menyatakan bahwa hal itu merupakan masalah ke empat yang harus mereka selesaikan sendiri tanpa bantuannya
" Baiklah, Baik. Jikalau kalian bisa menganggap hal ini tidak pernah terjadi dan tidak akan mengungkitnya kembali. Akan aku anggap bahwa hutang kalian telah kalian bayar sepenuhnya... " ucap Rose menengahi pertengkaran diantara mereka setelah merasa bahwa kesadaran Nana telah kembali.
Sembari melangkah pergi dengan meninggalkan senjata besar itu dan hilang dalam sisa kabut yang masih menampakan diri, Rose meninggalkan ribuan pertanyaan pada para murid itu setelah mereka mengucapkan janjinya.
" Sama halnya dengan karma baik maupun karma buruk yang mengikat diri. Sikap kesatria kebanggaan mereka adalah satu hal yang membuatku percaya bahwa mereka tidak akan mengingkari janji yang terucap itu, meski mereka dipaksa untuk mengakuinya. " balas Rose sembari menggendong tubuh Vi yang kembali menjadi demi human sebagai hadiah pengganti atas pupusnya rencana yang sempurna sebelumnya.
" Ahm~ Jadi mereka pun memiliki hal yang sama seperti karma, meskipun julukannya berbeda, ya... " balas Vi sembari mempererat pegangan tangannya yang melingkari punggung tuannya.
" Begitulah, Vi~ meskipun tidak jarang ada kematian yang selalu mengikutinya, sikap macam itu memang ada dalam diri mereka " balasnya kembali menyinggung hal yang berkaitan dengan area netral dan kebodohan para petualang.
Duduk di teras depan Rumah Lilis yang nampak tenang, Rose sempat memejamkan matanya beberapa saat sembari memikirkan kembali sosok Nana yang benar - benar membawanya pada satu kisah utama.
* Bessst * " Hati - hati Lili. Jangan sampai tuan terbangun disaat kita melakukan hal ini... " ucap Vi dengan hati - hati sembari melihat situasi dimana tuannya masih tertidur dengan pulas meskipun sempat terbangun dan pergi ke kamar miliknya.
" Ya ampun, Vi~ aku tidak menyangka bahwa kamu sampai berbuat semacam ini kepadanya... " ucap Lilis sembari menutupi wajahnya ketika Vi mulai melepaskan setiap pakaian dari tuannya
" He, em... tidak Lili. Sebagai seorang pelayan yang sudah melayaninya sampai saat ini, hal semacam ini adalah hal yang biasa terjadi dan lagi, kamu pun seharusnya bisa melakukan hal semacam ini... " balas Vi sembari membasuhkan sebuah kain basah pada tubuh kekar dari tuannya.
Merasa bersalah atas keinginan tersembunyinya untuk melepaskan diri dari status pelayan yang mengikat itu, Lilis hanya bisa terdiam tanpa kata sembari sesekali mengintip Vi yang dengan santainya membersihkan setiap bagian tubuh dari tuannya itu.
__ADS_1
" Lihatlah Lili~ bukankah benda itu sangat menarik untuk dilihat.. " ucap Vi setelah melepaskan bagian kain penutup yang membalut pinggang Rose.
" Hehe... mau mencoba menyentuhnya? " lanjutnya sembari menunjuk ke arah sesuatu yang menonjol itu dengan canda
Merasa bahwa Vi merupakan sosok yang dipenuhi dengan gejolak nafsu, Lilis memilih untuk mengabaikan apa yang Vi lakukan dan berniat merias diri sebelum kembali bekerja sebagai staf guild.
" Hm~ sayang sekali dirinya melewatkan hal semacam ini... " Gumam Vi sembari mengasihani tindakan Lilis yang melewatkan momen yang langka
*sruuuptsss sruuuptsss sruuuptsss* Mendengar Sesuatu yang menggelikan dari kamar tempat Vi dan Rose berada membuat dirinya penasaran dan mulai mengintip dari sela pintu yang masih terbuka.
* Dbrugsss * " Nah kan... Sudah aku kira bahwa kamu akan kembali kemari... " ucap Vi dengan serius setelah membuka pintu kamar itu dengan lebar dan membuat lilis terjatuh
Terdiam tanpa kata sembari enggan mengakui hal bodoh yang dirinya lakukan, Lilis terpaksa menyumpal mulut Vi dengan kedua telapak tangannya agar berhenti mengatakan bahwa dirinya adalah sosok yang bernafsu tinggi
" Baiklah, Vi~. Aku akan ikut membantumu membasuh tubuh tuan. Namun seperti yang aku katakan sebelumnya. Aku hanya akan membersihkan bagian atas tubuhnya... " ucap Lilis setelah menerima kemenangan Vi dalam perdebatan singkatnya
" Hehe... tidak apa, Lili. Lagipun juga bagianku sudah selesai. Jadi terima kasih atas bantuannya. " balas Vi sembari memasukkan kain kotor sebelumnya ke dalam ember kecil dan membawanya pergi.
Tidak lama setelah kepergian Vi, Lilis berteriak meminta pertolongan dan membuat Vi sempat melepaskan tawanya ketika melihat Lilis sudah berada dalam pelukan tuannya yang tanpa busana.
" Hm~m! Vi~! Tolong! " ucap Lilis berulang sembari mencoba melepaskan dekapan tangan tuannya dengan sekuat tenaganya.
__ADS_1
" Jangan membuang tenagamu dengan sia - sia, Lili. Nikmatilah perlakuan khusus dari tuan itu sampai tuan benar-benar terbangun dari tidurnya. " balas Vi sembari mengusap kepala Lilis yang nampak memerah.
Beberapa pembicaraan kecil diantara mereka kembali terjadi selama beberapa saat sebelum tubuh dari Rose mulai menjejaki kemolekan tubuh Lilis dalam tidurnya.
" Tidak! tidak! tidak! Kumohon! apapun selain dari itu! " ucap Lilis sembari berteriak ketika benda vital dari Rose mulai mengeras
" A~! Bibi! Fei! Senang rasanya bisa melihat kalian kembali! " ucap Regina sembari memeluk Nana dan Vi disaat dirinya hendak memberangkatkan beberapa orang petugas penjaga dan petualang untuk memantau pelatihan medan nyata yang dilakukan sebelumnya.
" Tenanglah, Gina. Kami baik-baik saja dan pelatihan itupun berjalan sangat baik bagi mereka yang masih bertahan hingga sekarang. " lanjutnya sembari melepaskan pelukan Regina disaat Fei tengah menangis penuh haru dalam pelukan itu.
" Dan mengenai mereka, kamu bisa memberikannya nilai A maupun A+ seperti janjimu sebelumnya dan merekomendasikan mereka ke jalur khusus itu. Sedangkan yang lainnya." Lanjutnya dengan ucapan jelas ketika membahas sesuatu mengenai perjanjian yang telah disepakati.
" Baik, bibi. Untuk mereka yang gagal, akan aku pastikan bahwa mereka akan mendapatkan nilai terrendah serta memasukkan mereka ke dalam daftar hitam sampai tangga waktu yang kami sepakati. " balas Regina setelah membiarkan Nana untuk pergi beristirahat sembari menjelaskan satu hal terkait perjanjian yang terselubung itu.
Mendengar sebuah kabar bahwa mereka akan masuk dalam daftar perwakilan sekolah untuk mengunjungi sebuah aset khusus dari liga yang Nana pimpin, membuat mereka yang bertahan hingga akhir itu merasa sangat bahagia.
" Karena tempat itu merupakan tempat bersejarah yang melahirkan 12 pemimpin kerajaan saat ini, kami sengaja merahasiakan hal ini dari kalian dan setelah Bibi Nana perdebatan yang cukup panjang di waktu sebelumnya. Aku berhasil memasukkan 40 nama dari kalian dan meskipun aku kecewa karena sebagian besar dari kalian memilih mundur. Setidaknya aku tetap senang dengan ke berhasilan kalian.... " lanjutnya dengan akhiran selamat kepada mereks yang berhasi bertahan dan memberikan mereka jadwal waktu keberangkatan serta beberapa hadiah kecil lainnya.
Mengingat kembali pesan terselubung dalam pelatihan sebelumnya, para murid itu sempat menolak pemberian itu dan memilih membuang jauh harapan luar biasa itu.
" Tenanglah kalian. Ini benar-benar hadiah yang layak untuk kalian dan tentu dengan meninngkatnya kewaspadaan itu, membuatku percaya bahwa kalian benar-benar sosok yang terpilih." lanjutnya dengan mengajak mereka berpelukan.
__ADS_1