
" Ha~ah, [ Untuk bertemu Hilda kembali, setidaknya aku harus menunggu sampai senja nanti. ] * buuhs * " Hela nafas panjang Fei yang tertunduk lesu di meja belajarnya beberapa saat sebelum kelas pagi di mulai.
Membuka buku catatan yang di minta oleh guru dalam kelas sembari mencatat beberapa hal yang diajarkan dengan wajah muram terus terpasang hingga waktu makan siang.
" Jika saja, ibu tidak datang di waktu genting itu. Aku pasti sudah mendapatkan sebuah jawaban. " gumamnya kembali dalam area taman sembari menorehkan sebuah lambang serupa rubera nebula.
Melihat kesuraman dalam wajah kawannya yang begitu berharga, Neira berjalan mendekati Fei dengan keyakinan tekad dalam dada sebelum menyapanya.
" Selamat siang juga, Ira. " balas Fei sembari mempersilahkan Nira untuk duduk di sampingnya.
Berbicara beberapa hal mengenai sikap lesu yang nampak tidak biasa baginya, Fei sempat tertawa atas apa yang nampak dalam pandangan Neira terhadapnya sebelum menjelaskan mengenai hal yang berkaitan dengan runera.
" He, em~. Karena yang kamu cari tidak ada dalam akademi ini, bukankah lebih baik jika kamu menanyakannya pada yabg lebih ahli? " Balas Neira dengan menyarankan Fei mengenai pengajuan misi pada guild petualang.
Terlintas dalam benak mengenai keinginan yang begitu kuat atas apa yang ia cari membuatnya memilih menerima saran itu dari pada harus menerima satu atau dua hukuman dari ibunya dikala dirinya tidak sengaja mengaktifkan kekuatannya.
" Hehe. Itu salahmu salahmu sendiri, Fei. Jika saja kamu menerima saran ku untuk tidak melakukan hal semacam itu, mungkin kebiasaan buruk itu tidak akan melekat pada dirimu " tawa Nira setelah mendengar ucapan Fei mengenai kekuatannya
Merasa kesal atas apa yang Nira katakan, Fei menutup kotak bekal makan siangnya dan segera mencubit gemas pipi dari perempuan berrambut kuning kecoklatan itu sembari memintanya untuk menarik kata-katanya kembali.
" *hmph * Lakukanlah saja sendiri. " ucap Nira ketika Fei memintanya untuk menunjukkan cara mengajukan permintaan pada guild petualang.
__ADS_1
Lelah membujuk Nira yang masih terduduk santai di meja bar dengan beberapa porsi makanan ekstra besar, Fei mencoba memberanikan diri untuk mengajukan permintaan itu sendiri.
" Eh?! " Teriak Nira dan Fei ketika melihat sosok yang familiar tengah menyajikan minuman yang Nira pesan di mejanya.
Dengan sebuah seragam guild petualang yang nampak ketat dengan rambut biru yang di sangga dengan bandana senada, Iris tidak menduga bahwa dia bisa bertemu dengan dua teman kelasnya di waktu kerja.
" Baiklah, baik. Kami akan menunggu waktu kerjamu selesai. " Balas Fei ketika Iris bangkit dari duduknya setelah ada beberapa petualang yang meminta bantuannya.
Duduk bersama Nira yang terus melahap semua makanan yang ada di atas meja itu tanpa sisa, Fei berusaha menjaga etikat baiknya sembari berusaha menyembunyikan gerak-geriknya untuk mengawasi area sekitar agar tiada yang menyadari bahwa putri dari kepala akademi akan datang untuk pengajuan misi.
" Maaf, Nira. Aku akan pergi ke sana untuk mengajukan permintaan itu. " ucap Fei sembari meninggalkan beberapa koin emas dan perak untuk menahan Nira agar tidak pergi dari tempatnya.
" Selamat datang di guild petualang, Nona Fei. Apakah ada yang bisa saya bantu? " sapa Lilis dalam suasana guild yang nampak senggang.
Melihat, mengamati sembari mencoba memahami apa yang diajukan oleh Fei sebagai misi, Lilis yang sudah ahli dalam melayani pengajuan misi dengan minim informasi itu mulai menata kata yang tepat pada satu kertas misi dalam meja resepsi sebelum menunjukkan kertas misi itu pada Fei.
" Maaf, Nona Fei. Bukankah pada lingkungan anda, Nona Regina maupun sosok Hilda merupakan sosok yang ahli dalam bidang study yang anda cari? " ucap Tedi setelah memanggil Fei sebelum memberikan stamp pada kertas misi.
Menjelaskan sebuah alasan mengenai dirinya yang enggan bergantung pada kedua sosok yang di sebutkan itu, Fei kembali mengucap kebohongan mengenai study runera yang diakui olehnya sebagai sesuatu yang amat rahasia dan karenanya dia enggan menandai kertas itu dengan namanya.
" Selain itu pun, saya bisa memberikan hadiah lebih jika kalian bisa membantuku untuk menemukan apa yang aku cari. " tegasnya dalam wajah tenang meski sempat khawatir atas ucapannya yang hendak mengatakan keinginannya untuk mencari keberadaan Rose.
__ADS_1
Menuliskan sebuah nama samaran sebelum mengecap stampel khusus dalam pengajuan misi itu, Tedi yang semula berniat menanyakan sesuatu menegenai lambang runrera yang sempat terlihat sama pada sosok serigala yang Rose punya hanya menghela nafasnya sembari memegangi bagian tubuh yang menampakkan sebuah luka.
" [ Dengan sumpah kesatria yang menjadi dasar etika para penguasa, aku berjanji untuk tidak akan kembali mengungkit apapun hal yang berhubungan denganmu ] " pikirnya sesaat ketika mengingat kembali kondisi tubuhnya yang sekarat akibat serangan dari Rose yang teramat dasyat.
* Hacyuh* " Hmps, [ Apakah jiwa dalam tubuh ini mulai menunjukkan penyatuan yang sebenarnya? ] " gumamnya setelah mengusap hidung mungilnya di saat awan hitam serupa badai menerjang mereka yang masih terbang diantara lautan awan.
Kembali menemani kedua teman kelasnya setelah giliran waktu kerjanya selesai, Iris sempat membisikan sesuatu kepada Fei mengenai misi yang diajukan olehnya.
" A~ah, tidak Iris. Aku tidak berniat mencari maksud kata yang disebutkan olehnya waktu itu, hehe. " sanggah Fei ketika Iris menyinggung ucapan Rose mengenai lambang ke rune yang menghilang.
Setelah melihat kembali sosok Lilis yang benar-benar ada di acara pengujian sebelum penentuan kelas dilakukan, Fei mulai mengalihkan topik pembicaraan terkait apa yang Iris katakan.
" Apa yang kamu bilang, Fei? Meski hubungan diantara dirinya dengan ku nampak meragukan di matamu, setidaknya kami benar-benar bersaudara, tahu. " balas Iris termakan ucapan Fei.
Berdebat mengenai beberapa masalah sederhana yang semakin membuat mereka larut dalam satu pembicaraan hingga senja menjelang, Fei kembali menanyakan mengenai kapan sosok petualang akan datang dan menyampaikan apa yang dirinya inginkan
" Hehe, tidak seperti para pelayan yang akan berterus terang kepadamu mengenai apa yang kamu tanyakan, Fei. Dalam satu aturan lisan yang ada dalam ruang ini, mereka yang datang tidak selalu menerima apa yang telah diajukan dan kadang meski imbalan yang terpampang jelas itu sangat menggiurkan, butuh beberapa waktu untuk memperoleh jawaban mengenai apa yang kamu ucapkan. " Ucap Nira ketika Fei semakin gusar atas ketiadaan sosok yang datang untuk menjelaskan
Kecewa dengan apa yang Nira ucapkan, Fei kembali mencubit gemas pipi tembam Nira sembari mengatakan bahwa seharusnya Nira mengatakan hal itu sedari awal.
" Emoh, aku kan hanya menyarankan dan tidak mengatakan bahwa jawaban yang kamu inginkan bisa segera di temukan. " balas Nira dengan mencubit gemas pipi Fei sembari menjelaskan.
__ADS_1