Fantasyum

Fantasyum
Bab 5.4


__ADS_3

" [ Ya ampun. Aku harap aku tidak melakukan hal bodoh tadi. ] " ucapnya dalam diam sembari menyiapkan sebuah senjata untuk melawan mereka


* Swungssss, Swungssss, Swungssss * Beberapa pedang besar dan kampak langsung menerjang tubuhnya


* Dssssiiiiingssss, gbramsss * " Waousha! aku tidak pernah menyangka bahwa ada senjata sekuat ini dalam deretan resource item yang aku bawa! " ucapnya dengan penuh kekaguman ketika sebuah ranting pohon oak dapat menahan serangan dari beberapa pedang dan menghancurkan sebuah gada besar sekelas Morning Glory.


" Tch, Apa yang kalian tunggu! Cepat serangan pria itu sekarang! " Ucap pria paruh baya itu ketika beberapa bawahannya nampak menjaga jarak dari Rose


* Swungssss * " Hyupsssh " Dengan datangnya berbagai serangan lain yang mengancam nyawa, Rose melemparkan tubuh Vi ke udara dengan tiba-tiba sementara dirinya menghindari serangan itu dengan sikap kayang sebelum akhirnya kembali menangkap tubuh Vi dan kembali memberikan serangan balasan.


* Swungssss, swungssss swungssss, staps, swungssss, sdrumsh, sdrumsh, staps sdrumsh * Sembari menari dalam irama yang diberikan oleh dentingan senjata yang saling beradu dengan ranting kecilnya, Rose terus memberikan berbagai serangan balasan dan membuat mereka yang semula nampak mendominasi semakin berkurang


" Hehe, apakah mungkin bahwa ranting kecil ini adalah senjata kuno yang mampu membelah tanah perbukitan menjadi dua? hehehe. [ sepertinya, tidak kan ya? ]" gumamnya dengan tawa. sembari memberikan setiap serangan balasan pada mereka yang membrutal.


Bersama dengan tewasnya pria paruh baya itu akibat tertimpa pohon yang jatuh mengenainya, Rose mulai mengikat seluruh sosok yang berhasil dikalahkan sebelumnya sebelum dibawa ke guild petualang untuk tanda bukti satu misi yang telah diambilnya.


" Terima kasih, Ka Lilis! Aku menyayangimu! " Teriak Rose sembari memainkan peran seorang adik dari Lilis sebelum melangkahkan keluar dari area guild itu kembali.


" [ Mungkin jika pria itu tidak kehilangan nyawanya tadi, aku bisa mendapatkan lebih banyak uang dari tempat persembunyian rahasia mereka.] " pikirnya sepanjang jalan menuju persimpangan sebelumnya untuk melanjutkan niatannya membeli beberapa bahan makanan disekitar pasar lokal.


* sdramsh * Suara dari pintu besi yang tertutup dalam satu ruangan membuatnya beberapa sosok yang sempat di bawa oleh Rose, merasakan keheningan yang teramat ganjil.

__ADS_1


" Hey, penjaga. Bisakah kamu menjelaskan kepadaku kemana perginya para penjahat yang di tahan dalam penjara ini? " ucap sala seorang dari mereka ketika seorang penjaga penjara nampak memeberikan sebuah hidangan makan malam


" Hm~, ya~. Yang aku dengan dari rumor yang beredar. Hampir seluruh penghuni dalam penjara ini telah tewas dalam satu tragedi yang terjadi. " balas penjaga itu setelah diberikan sebuah benda untuk membuatnya bicara.


Terkejut dengan apa yang diucapkan penjara itu kepada mereka, mereka kembali menanyakan beberapa hal yang berkaitan dengan tragedi itu hingga muncul sebuah nama yang sangat asing bagi mereka.


" Yang aku tahu, sosok bernama Rose itu merupakan seorang pria kekar yang mengenakan pakaian hitam legam. " lanjutnya sembari menjelaskan bahwa kebebasan yang diberikan kepada Rose merupakan kesepakatan dari pihak kepala penjaga sebagai tanda terima kasihnya terhadap bantuan dari Rose yang melindungi beberapa orang penjaga yang tersisa.


Mengetahui bahwa sosok yang mereka lawan sebelumnya merupakan sosok yang amat berbahaya, mereka hanya bisa terdiam tanpa kata dengan mulu menganga.


" Hehehe, begitulah Ka. Kami hanya berjalan mengelilingi kota sembari sesekali menikmati kudapan kecil yang kami beli sebelumnya. " Jelas Rose setelah Lilis menanyakan kesehariannya setelah pergi meninggalkan area guild petualang.


Ucapan serupa juga diucapkan oleh Vi dengan lebih terperinci den membuatnya menghela nafas panjangnya.


" Oh, iya. Bagaimana dengan pria penuh luka itu? apakah dia akan baik-baik saja ? " lanjut Rose sembari mengingat kembali bahwa dirinya pun sempat menitipkan seorang untuk disembuhkan.


Sempat tersedak ketika mendengar ucap tidak terduga dari Rose, Lilis mulai menjelaskan bahwa sosok yang dibawanya itu merupakan seorang wanita.


" Dan setelahnya, kami memutuskan untuk memberikan rumah tempat tinggalnya sementara di dekat balai kota sebelum dirinya bisa kembali menjalani kehidupannya. " lanjutnya sembari menyebutkan nama dari wanita itu.


Kerutan pada dahinya mulai timbul beberapa saat setelah wajah senangnya memudar dan membuat suasana di sana menjadi tegang.

__ADS_1


" Tenanglah, tuanku. Apa yang terjadi pada wanita itupun juga terjadi pada segelintir orang di dunia yang luas ini dan itu merupakan hal yang tidak bisa tuan tangani sendiri. " ucap Vi dengan pelan sembari mengusap salah satu tangan Rose.


" Sayapun sependapat dengan apa yang dikatakan oleh Vi. " sambung Lilis dengan menambahkan pendapatnya secara pribadi.


Sebuah keceriaan kembali nampak di wajah Rose dan membuat mereka yang melihat hal itu merasa lega karena Rose tidak berniat melakukan sesuatu yang berasa di luar kemampuannya


" [ Aku bukanlah seorang pahlawan. Aku, bukanlah seorang pahlawan.] " ucapnya secara berulang sembari melihat ke arah langit malam itu ketika merenungi apa yang telah terjadi.


" Hm~, yah. Meskipun aku sendiri tidak mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya, aku berharap bahwa nantinya kamu bisa menjalani hidup dengan sebaik-baiknya tanpa bersinggungan dengan kehancuran yang ada. " ucap Vexsilis penuh harap sembari mendoakan kebaikan untuk Rose ketika melihat dua aura berbeda menampakkan diri.


* Hmmmmsssas * " Seperti yang pernah mereka katakan kepadaku sebelumnya. Setiap perbuatan baik pasti akan dibalas dengan perbuatan baik di suatu saatnya nanti dan begitupun sebaliknya. " Hela nafas seorang wanita dengan tubuh yang diselimuti banyak luka lebam sembari bergumam dalam kesendirian diantara kesunyian malam.


" Namun anehnya, kenapa perbuatan buruk yang aku lakukan kepada mereka harus di balas melalui perbuatan seperti ini? " tawanya sesaat setelah kembali mengingat kejadian yang menimpa dirinya.


Dengan kembali mengingat berbagai keburukan yang dilakukan olehnya, sebuah air mata mulai keluar membasahi pipi dan menyadarkan dirinya bahwa apa yang dilakukannya adalah kesalahan.


" Dan mungkin, pertemuan ku dengan mereka itu. Merupakan pertanda bahwa para dewa dewi yang sempat aku ragukan itu mulai menunjukkan kasih sayangnya kepadaku agar aku bisa kembali mempercayai keberadaan mereka. " lanjutnya setelah angin malam menerpa dirinya.


Duduk kembali di atas kursi yang berada di kamar Lilis, Rose sempat kembali melihat ke arah Vi maupun Lisis sembari memikirkan beberapa hal sebelum.


" Terlepas dari ucapan mereka sebelumnya, aku harus kembali mengingat bahwa sistem dunia ini memang di bedakan dari sistem dunia game yang mengambil genre yang sama. " gumamnya sembari melihat ke sebuh buku catatan dan membaca beberapa kata yang tertulis didalamnya.

__ADS_1


" Petualangan, penaklukan reruntuhan, kebebasan memilih ras dan keyakinan terhadap apa yang dipuja, menantang para apex maupun entitas dewa, jual beli resource & item secara normal ataupun terselubung dengan opsi sederhana, merekrut dan membubarkan setiap perkumpulan dengan bebasnya, meningkatkan affaction untuk keuntungan pribadi, menikah, bertani, berternak, berpesta ria dan melakukan semua hal tanpa batas itu dengan bebas demi mendapatkan satu kepuasan tersendiri. " ucapnya sembari menambahkan beberapa hal yang belum tertulis dalam buku itu.


__ADS_2