
Terbangun diantara sepertiga malam yang begitu tenang, Mina yang merasa gerah atas konisi ruangan yang di isi lebih dari enam orang mulai menjelajahi setiap lorong mansion sebelum suara gaduh menarik perhatian dirinya.
* Slambst!! Sbramsh!! * Sebuah kilat cahaya muncul dalam area halang rintang sebelum guncangan hebat memporak porandakan setiap sisi dari area seluas 8x8m² itu.
" Hmps, [sepertinya ini sudah sampai batas ketahanan dari Ezra. ] " pikirnya setelah memuntahkan darah dari mulutnya yang tidak lama setelah itu Alruene, Merry dan Sasya mendekat untuk menolongnya.
Memberikan sebuah penyembuhan yang di rasa serupa sihir, Mina yang sedari dulu merasa penasaran atas kekuatan sejati dari sosok Izera yang dikagumi hanya bisa terdiam tanpa kata setelah melihat dengan jelas beberapa tubuh monster yang terceraiberai bersama retakkan dalam tanah yang menyala semerah lava.
" Mungkin, sebuah hal baik untuk tidak membuatnya marah. " gumamnya sebelum mengalihkan pandangan ke sisi lain gubuk sederhana yang nampak tergores sebuah lingkaran sihir dengan pola misterius.
Berjalan mengendap-endap sembari berusaha melihat secara jelas mengenai apa yang mereka lakukan terhadap tubuh Izera yang melemah, sebuah hentakkan energi yang begitu hebat sempat menyapu bersih semua kerusakan yang ada dan hanya menyisakan beberapa rumput dalam tanah lapang.
" [Ibu!!! ] " teriaknya dalam hati sembari menutup rapat mulutnya dengan tangan setelah sosok monster raksaksa mulai muncul dari dalam lingkaran itu dan membawa Izera menembus langit malam yang dipenuhi dengan awan hitam.
Mengusap wajahnya dengan pelan untuk membersihkan noda darah akibat luka sayat dari ranting tajam yang melukainya, Mina kembali berjalan dengan hati-hati untuk masuk dalam kamarnya kembali sebelum rintik hujan semakin deras menerjang.
" Baiklah, sepertinya sudah waktunya untuk melihat latihan dari Tuan Izeral! * humpt * " gumamnya dengan senang sebelum menaham teriakannya agar tidak mengganggu tidur adiknya.
Menyusuri setiap lorong yang sama untuk yang sekian kalinya, pandangan luar yang nampak tenang tanpa adanya bekas pertarungan membuatnya salah mengira bahwa dia melewatkan kembali aksi hebat dari Izera.
__ADS_1
" Hey, hey! Kalian ini! Berhentilah membuang-buang bahan makanan! " Teriak Rose dengan kesal setelah melihat Sasya maupun Alruene saling mengadu keterampilan memasak dengan hasil yang terlampau hebat sebagai hidangan mematikan.
Mengintip ruang dapur yang selalu digunakan oleh mereka yang memiliki keahlian memasak, pandangan mata yang melihat gunungan makanan lezat membuatnya sempat merasakan lapar yang sangat hebat sebelum menyadari bahwa Merry tengah terbaring lemas akibat sesuatu.
" * Grgh! * Merry? Apakah kamu baik-baik saja? " ucap Rose dengan pelan setelah memberikan sihir penyembuhan pada Merry di saat Alruene dan Sasya membungkuk sembah pengampunan bersama benjolan besar diantara kepala mereka.
Mencoba mendengar lebih jelas mengenai apa yang telah terjadi, suara langkah dari lorong didekatnya membuatnya waspada dan membuatnya segera kembali ke kamar sebelum suara yang dikira pelayan mansion itu menyadari keberadaamnya.
" He, em. Kira-kira hari ini apa ya, yang Tuan Izeral lakukan? Hehe-. " gumamnya dengan nada ceria sembari berjalan menuju area luar sebelum dilanjutkan di area dapur dalam mansion.
Menghela nafas setelah menyimpulkan bahwa dapam waktu tertentu Izeral tidak melakukan aksi hebat di malam hari, Mina yang berniat kembali ke kamarnya melalui lorong berbeda dari sebelumnya kembali mendengar suara gaduh yang dirasa bahwa mungkin itu adalah Izera yang sibuk atas sesuatu kembali.
" *Nh! Ah! M! Ah! Mh! * Tu! An--an! La! Ku! Kan! Lah! De! Ngan! Pe! Lan! " teriak Sasya dengan nada yang semakin lirih sebelum teriakkan yang begitu menggelikan kembali terdengar bersama suara kepuasan diantara keduanya.
" Ya ampun? " teriak pelayan mansion itu yang ternyata adalah Merry yang selesai membasuh diri untuk menjemput Sasya dari ruang kerja milik Izeral.
Terbangun kembali diantara sepertiga malam untuk melakukan sesuatu yang dinantikan, sebuah jeda waktu dalam lamunan panjang membuatnya kembali memejamkan mata setelah mencoba memikirkan kembali apa yang hilang dari dirinya.
" Mungkin, dalam waktu dekat ini. Kita harus lebih hati-hati, agar hal semacam ini tidak lagi terjadi. " gumam Rose setelah menutup rapat pintu dari kamar tidur Mina sebelum melangkah pergi bersama Alruene, Merry, Sasya dan Cila.
__ADS_1
...----------------...
Berteriak sangat keras akibat pertemuan dengan Rola yang begitu tiba-tiba sempat membuat mereka yang ada dalam ruangan terhenti atas satu pembahasan serius yang semakin memanas.
" Jadi, apa yang kamu lakukan di sini? " ucap Rola dengan menahan kepergian dari Mina yang amat ketakutan dengan sosok Rola yang sekarang.
Membalut diri dengan busana pilihan Rose yang serupa dengan pegawai administrasi dengan tambahan kacamata serta anting yang kontras dengan warna rambutnya, kesan dari gadis desa yang sederhana telah memudar dan menjadi sosok hebat yang disegani oleh pria maupun sesama wanita.
" A---aku hanya- " balasnya gemetar sebelum seorang membuka pintu ruangan dan menyambut Rola dengan senyumnya.
Menarik tubuh Mina yang sudah tertangkap basah atas pembahasan rahasia itu, Rose dan Roxy sama-sama menganggukan kepala sebagai tanda setuju bahwa Mina dapat menjadi contoh nyata atas kerasnya hidup mandiri dan menghidupi 5 adiknya yang masih batita serta remaja untuk adik tertuanya.
" Kalian bisa menanyakan hal rinci itu pada Sera. " Ucapnya dengan menunjuk Rola untuk menjelaskan beberapa luka sayat yang masih membekas dalam tubuhnya.
Menceritakan kehidupan berat yang dialami Izera, Mina, Alriene, Merry, dirinya bahkan Vira yang semula memiliki kecacatan pada pengelihatan maupun keterbatasan dalam berbicara, para pria yang semula merasa bahwa Izera merupakan sosok hebat sedari awal mulai terdiam tanpa kata bersama pemikiran mendapam mengenai apa yang seharusnya mereka lakukan jika dalam posisi Izera.
" Dengan kata lain, aku mencoba membuat kalian mampu berusaha dalam dunia luar itu. Agar situasi yang terjadi pada Alruene tidak menimpa mereka. " tambahnya menggambarkan sosok Alruene yang sebelumnya adalah putri dari konglomerat ataupun petinggi di desanya.
Memandang satu sama lain sebelum mengijinkan Rola untuk berbicara, Rose sempat terkejut atas apa yang di ucap oleh Rola karena Rola dengan tegasnya mengatakan bahwa roda kehidupan akan kembali berputar dan apa yang ada di hadapan mereka dapat menghilang diantara masa depan jika mereka tidak segera mengambil tindakan.
__ADS_1
" Sebagai penunjang dana yang memberikan beberapa uang ganti atas masing-masing dari kalian, tentu kalian paham atas apa yang aku maksudkan, bukan? " Lanjuat Rola dengan menggebrak meja sembari menunjukkan laporan pendapatan yang tidak sebanding dengan jumlah pengeluaran secara tegas dan lantang.
Menepuk bahu Rola yang dirasa mulai berlebihan dalam kosakata yang menyakiti hati mereka, wajah kekecewaan sempat terlihat diantara wajah Rola sebelum Rose mengatakan bahwa dirinya paham atas amarah yang ada dalam diri Rola sebelum mengusap air mata yang mengalir diantara wajah dalam pelukannya.