
Meninggalkan kalung kristal komunikasi di leher Vira untuk mengawasinya sampai tiba kembali saat dirinya membutuhkan bantuan, tubuh dari mereka yang tertelan dalam batang pohon mulai terlempar keluar di waktu yang bersamaan dan membuat Alruene maupun Rola yang ada di sana segera memeriksa keadaan mereka.
" Vi~ bangunlah. " ucap Rose sembari membelai lembut wajah Vi yang terlelap dalam tubuh demi human.
Mengedipkan kelopak mata beberapa kali sebelum mengusap kedua matanya dengan perasaan tidak percaya, senyum manis lagi suara lembut dari sosok yang di anggap tiada kembali muncul dihadapan dirinya.
" *Ususususussutss* Tenanglah, Vi. Aku tahu bahwa kamu mungkin tidak akan percaya, namun inilah aku yang sebenarnya. " ucap Rose sembari meminta sesuatu pada Vi dengan lembut setelah menenangkan diri.
Menjelaskan semua hal yang terjadi secara singkat melalui poin penting dari awal kehidupan barunya yang berada dalam tubuh Ezra hingga sampai pada point akhir dari pertemuannya dengan sub karakter dengan tingkatan level lebih rendah darinya, wajah kekecewaan nampak jelas di wajah Vi ketika Rose enggan mengatakan hal yang sama seperti saat ini di waktu awal bertemu.
" Selalu ada alasan di balik tindakan Vi. Jika sedari awal aku mengatakan bahwa Ezra adalah diriku, maka mungkin hal yang terjadi sekarang ini akan jauh berbeda. " jelasnya menyinggung masalah eksekusi dan lain sebagainya.
Melepaskan pukulan kerasnya ke wajah Rose hingga pergelangan tangannya bergeser, senyum senang dari Vi menampakkan secara jelas bahwa dirinya puas atas pukulan telak yang dirinya berikan.
" Hehehe. Ternyata benar dugaanku padamu, Vi. Kekuatanmu tidak lagi sehebat dulu dan itu membuatku kasian padamu. " tawanya sesaat sebelum mengembalikan persendian yang rusak dan memberinya satu ramuan energi.
Menanyakan kembali kondisi anak perempuannya yang jarang terlihat di kota membuat Vi merasa senang bahwa pada akhirnya mimpi dari pertemuan ayah dan anak akan menjadi kenyataan.
" Tidak apa, biarkan saja dirinya istirahat. Lagipun kami berdua mungkin akan kembali bertemu dalam waktu yang cukup dekat, meski aku ragu bahwa dia akan menyadari siapa diriku. " balasnya menahan Vi yang hendak membangunkan Viro.
Melanjutkan alasan kedatangannya ke tempat itu pada Vi dengan segera, anggukan kepala dari Vi membuat kehawatirannya sedikit mereda.
__ADS_1
" Aku tidak terlalu mementingkan hal semacam itu, Vi. Aku hanya ingin Vira bisa mendapatkan ilmu berharga dari apa yang dirinya pelajari serta mendapatkan teman, saudara ataupun teman hidup pada akhirnya nanti. " lanjutnya menyinggung pesan terakhir dari Ezra.
Menambahkan beberapa pertanyaan lain mengenai Nana, Angela maupun Victoria yang dirasa tiada, kesedihan sempat terasa dalam lubuk hatinya dikala Vi menjawab kebenaran yang ada terkait para saudara lain yang memiliki ras manusia.
" [ Jika waktu itu, dewi tidak mengatakan bahwa sihir kebangkitan dapat membuat jiwa yang kembali itu di kutuk untuk masuk ke alam bawah, aku mungkin akan segera membangkitkan mereka kembali. ] " gumamnya dihadapan pemakaman keluarga yang terdiri dari beberapa petak dengan skat berwarna untuk membedakan garis keturunan antara satu dengan lainnya.
Menggambarkan sedikit perubahan dunia yang dilewati oleh tuannya sembari memperbaiki beberapa hal lain yang di anggap salah olehnya, Rose yang semula muram mulai mengusap wajahnya dengan perasaan lega terkait ucapan Vi mengenai mereka yang bisa tidur dalam kedamaian meski harus merelakan perasaan cinta dan kasih terhadap dirinya.
" Kalau begitu, Vi. Aku titipkan mereka kepadamu. " ucapnya dengan memeluk erat tubuh Vi dikala mentari menunjukkan diri sebelum membisikkan kata dan menghilang bersama cahaya yang menyilaukan mata.
Melihat ibunya kembali menjadi seorang manusia, Viro yang sedari pagi mencari keberadaan ibunya merasa bahwa ayahnya telah mengakui keberadaan dirinya dalam tubuh Izera.
Mengusap pelan kepala Viro sebelum memeluknya dengan senang, kebahagiaan kecil yang ingin di bagikan mulai dirasa enggan untuk di ucap dikala mengingat keinginan yang mungkin akan sulit untuk menjadi kenyataan.
" R-A-H-A-S-I-A " balas Vi sembari mengedipkan satu matanya sebelum memutar tubuh Viro dalam ketukan langkah dari irama bahagia dalam dirinya.
Enggan menghapus wajah bahagia yang nampak jarang terlihat dari ibunya, Viro justru melepaskan tawa dengan terus mengikuti langkah kaki dari irama yang diberikan oleh ibunya.
" Baiklah, baik. Sekarang darimana kita mulai? " ucap Altaira yang berusaha bersikap layaknya orang dewasa diantara mereka yang nampak putus asa.
Mengatur beberapa jadwal baru sebagai media uji coba untuk melihat penyesuaian diri selama beberapa hari, keluh kesah dari mereka yang tinggal dalam mansion lebih mendominasi daripada mereka yang hidup dalam gubuk sederhana sebelum nya dan hal itu membuat Altaira hampir meledakkan amarah dengan mengacungkan alteri pemusnah ke arah mansion sebelum Sasya dan Merry menenangkan dirinya.
__ADS_1
" Bukankah sudah aku bilang kepadamu, mereka tidak akan pernah tahu kesulitan yang selalu Izera lakukan jika kalian tidak mengatakan yang sesungguhnya kepada mereka. " ucap Rola yang memilih acuh setelah sebelumnya merasa muak dengan hal manja yang Izera berikan kepada mereka.
Menggelengkan kepala dengan mengucap maksud sebenarnya dari apa yang Rola katakan tanpa keraguan, tepukan keras di dahi Rola sempat terdengar dalam aula terbuka di atas mansion sesaat setelah dirinya menyadari bahwa Altaira pun belum dijelaskan hal sepenting itu oleh Izera.
" Semua penunjang yang ada dalam area ini telah di sesuaikan oleh Ize dari segala sisi, mulai dari penempatan sihir untuk area pelatihan maupun area uji kemampuan. Dengan kata lain, Ize adalah mansion itu sendiri! " jelas Rola dengan singkat dan jelas pada Altaira yang merasa bahwa semua hal yang ada memang sedari awal bekerja sesuai semestinya.
Tidak percaya dengan apa yang terucap Rola, Altaira yang sedari awal hidup di sana selalu bertumpu pada pasokan energi tersembunyi dalam kamarnya langsung bangkit dari duduknya dan segera memeriksa isi dari tabung itu.
" 95% daya masih tersedia dan 4 kapasitor dengan 900 mega amper masih berada dalam kondisi siap pasang dan 6 lainnya sama-sama menunjukkan daya 45% dari total presentasi yang ada. " gumamnya setelah membongkar sisi lain dari kamar tidurnya untuk melihat cadangan energi yang dirinya miliki.
Mencoba mengingat perkataan dari ayahnya mengenai opsi lain untuk mengisi daya yang tersedia, Altaira mulai melepas salah satu kapasitor yang dalam masa pengisian untuk dipindahkan ke aula terbuka dari mansion.
" Untuk satu dan lain hal, bagian biru dari kapasitor ini dapat digunakan sebagai media isi ulang daya jika aku tidak ada di sini. " ucap Izera yang kembali terdengar masuk ke dalam pemikiran Altaira setelah sekian lama menunggu naiknya satu presentase dalam tabel kapasitor.
Menahan panasnya matahari sejak awal munculnya mentari sampai senja menanti, Vira tiba-tiba datang dan membalik bagian kapasitor yang salah di letakkan hingga sempat membuat Altaira tertawa dalam hati ketika melihat naiknya presentase dari kapasitor itu tidak lama setelah Vira pergi.
" A!!!! Kaka!!! Panas!!! " Teriak Vira sembari mencoba menyingkirkan tubuh Altaira yang dirasa begitu panas membara ketika memeluk tubuhnya.
* gbyuuuurssss! grgsssssessss! * uap air langsung membumbung tinggi ke langit-langit mansion setelah Rola menyiramkan satu ember penuh air di saat melihat tubuh Vira begitu lemas tidak berdaya.
" Vira!! Vira!! Vira sadarlah!!! " Teriak Rola, Merry dan Sasya di saat Vira mulai memejamkan matanya.
__ADS_1