Fantasyum

Fantasyum
Bab 6.2


__ADS_3

Dalam pagi yang begitu sunyi, Vi terus memeluk erat tubuh tuannya sembari berkata bahwa dirinya tidak akan membiarkan tuannya pergi tanpanya kembali.


" Tidak apa, Vi. Aku tidak akan pergi darimu dalam waktu dekat ini, Vi. [ Lagipula, Nana tengah berada di dekat sini dan itu membuatku enggan berurusan dengannya. ] " balasnya dengan usapan lembut setelah meyakinkan diri untuk menjauhkan diri dari Nana maupun kemunculan hit poin dalam satu kisah utama.


Setelah menutup pintu dan pergi menjelajahi kota itu kembali, Rose dikejutkan oleh sekelompok petualang yang nampak dekat dengan Vi dan hal itu membuatnya mengingat kejadian dalam kota sebelumnya.


" [ Akan lebih baik jika aku memberikan ruang diantara mereka sembari memperhatikan karma yang ada. ] " pikirnya sembari memperhatikan dua buah apel yang mana nampak begitu bersih namun dengan status yang menunjukkan hal yang tidak layak dan satu apel yang memiliki status sebaliknya.


" Hey, Vi~. Aku sudah selesai dengan semua belanjaan ini. Apakah kamu ingin mengunjungi satu tempat sebelum kita kembali? " ucap Rose yang dengan sengaja menyapa Vi sembari tetap memperhatikan beberapa sayur dan buah sebagai media untuk mengalihkan perhatiannya dari para petualang itu.


Mengingat kembali hal buruk yang terjadi pada Hans, Vi segera menarik diri dari para petualang itu dan mengajak Rose pergi dari tempatnya semula.


" Baiklah, baik. Akupun juga berniat membeli beberapa pakaian yang cocok untukmu." balas Rose sembari menggandeng tangan Vi.


Merasakan bahwa ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya, petualang muda itu nampak memperhatikan Vi dan Rose sepanjang jalan sampai mereka benar-benar hilang dari pandangannya.


" Jangan berharap lebih mengenai pertemuan dengannya kembali, Varol. " ucap rekannya dengan nada serak dalam tubuh yang berselimut baju besi.


" Apa, maksudmu, Iru? Aku tidak mengharapkan apapun mengenai dirinya. " balas Varol sembari memukulkan tinjunya ke dada Iru dengan pelan sebelum melangkah ke arah sebaliknya.


" [ Aku harap, Varol tidak mencoba mencari masalah dengan pria besar itu. ] " ucap seorang penyihir dalam hati setelah sempat terdiam tanpa kata ketika Rose menyapa Vi.

__ADS_1


* Klunings * Bel tanda seseorang pelanggan berbunyi dari atas pintu kayu dalam sebuah toko baju


" Selamat datang di surga-Nya pakaian sutra~ apakah ada yang bisa saya bantu? " ucap seorang pria gemuk dengan kumis tebal yang datang menghampiri.


" Em~, yah. [ Karena aku sadar bahwa seleraku cukup buruk dalam memilih busana untuknya, akan lebih baik jika aku serahkan kepada ahlinya. ] " ucapnya sembari menyerahkan pilihan busana yang ada kepada Vi dan penjaga toko itu dengan sebuah patokan harga 1600 koin emas, sampai harga 1 koin putih dengan tambahan 500 koin emas.


Mendengar sebuah patokan harga yang begitu luar biasa, penjaga toko itu segera memanggil beberapa pelayannya dan membawa Vi untuk di dipadukan dengan beberapa busana terbaiknya.


" [ Dari yang aku ingat dalam game, setidaknya harga semacam ini sudah termasuk harga wajar untuk sebuah baju dalam satu kota. ] " pikirnya sembari mengingat pertemuannya dengan seorang pedagang keliling yang menawarkan beberapa busana dalam perjalanan sebelumnya.


Sembari menunggu Vi yang masih sibuk dengan beberapa pelayan yang ada, Rose sempat memperhatikan beberapa pakaian lain yang nampak begitu terbuka dan membayangkan kemolekan tubuh dari Vi maupun Lilis jika memakai pakaian itu.


" Mungkin aku akan mengambil beberapa stel beby doll dan busana Pixi untuk Vi dan juga Lilis. " ucapnya tanpa sadar ketika memegang salah satu busana terbuka itu dan membuat penjaga toko itu nampak memperhatikannya dengan seksama


" Hm~ ya. Untuk ukuran Lilis, tidak terlalu berbeda dengan Vi. Hanya saja bagian dadanya sedikit di pendekkan dan bagian pinggangnya sedikit di renggang kan " lanjutnya sembari melihat beberapa tali kecil yang tersembunyi diantara baju itu.


" Eh, sebentar. " tambahnya dengan terkejut ketika penjaga toko itu berada di sampingnya dan menunjukkan beberapa stok pakaian yang mereka bicarakan sebelumnya.


Meskipun berulang kali Rose menolak tawaran harga yang begitu murah dan bahkan lebih murah dari peningkatan satu armor maupun senjata, penjaga toko itu akhirnya membuat tawaran terakhir sebagai siasat untuk membuat Rose mengatakan apa yang ingin dirinya katakan.


" Mari kita ambil baju itu, Vi~ " ucapnya dengan kagum ketika melihat pesona pada sosok pelayannya yang terbalut dalam busana yang dikenakannya.

__ADS_1


Mendengar apa yang sangat ingin dirinya dengar, penjaga toko itu tersenyum senang sembari menyiapkan beberapa stel baju tambahan seperti yang dirinya janjikan sebelum memberikan jumlah harga yang harus dibayarkan.


" [ Hm~ ? 2 Koin putih untuk dua stel baju semacam ini? Oah, astagah! Harganya bahkan lebih murah dari yang aku pikirkan!] " pikirnya sesaat setelah mengingat harga yang dirinya perkiraan akan sangat mahal justru hanya seharga 2 koin putih dan 5 koin emas.


" Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, tuan. Dengan harga yang saya tawarkan itu, anda pun mendapatkan tiga kali kesempatan perombakan busana jikalau beberapa baju yang saya siapkan terasa kurang bagi anda " tambah penjaga toko itu sebelumnya Rose mengambil baju-baju itu dan melangkah pergi.


Berjalan diantara kesunyian dalam sebuah taman kota yang berdekatan dengan hutan, Rose duduk didekat sebuah danau sembari melihat pemandangan sekitarnya bersama Vi yang nampak enggan melepaskan diri darinya seperti sebelumnya.


" Tuan~ sekali lagi saya ucapkan terimakasih untuk pemberian tuan ini~ " ucap Vi dengan lembut sembari menyenderkan kepalanya kepada Rose yang nampak menikmati kebersamaannya dengan Vi.


Sembari mengatakan bahwa hal itu merupakan hal kecil bagi dirinya, Rose terus mendayungkan sampan kecil yang dirinya sewa untuk lebih menikmati kebersamaan itu dengannya.


" Jadi seperti ini rasanya hidup didalam dunia sebelum tercemar oleh limbah berbahaya.. " ucapannya dengan sedikit kesedihan ketika melihat pantulan dirinya dalam air danau itu sembari membandingkannya dengan dunia sebelumnya.


Sempat terlintas sebuah bayangan dari Vi yang berwujud humanoid ketika Vi yang ada di hadapannya menginginkan sebuah gambaran mengenai dunia yang ditinggalinya


" Akh, Vivi~ Aku sangat merindukanmu~ " ucapnya tanpa sadar sembari memeluk tubuh Vi dengan erat dan membuat Vi nampak terkejut atas apa yang terjadi itu.


" Tu--tuan! Tuan, sadarlah!!" ucap Vi dengan lirih ketika Rose mendorong tubuhnya hingga terlentang diatas lantai sampan itu.


Dengan terus membelai wajahnya sembari melucuti setiap busana yang membalut tubuhnya itu, Rose perlahan membuka menundukkan wajahnya sebelum memberikan kehangatan kecil kepadanya

__ADS_1


" [ Wangi harum tubuh berbalut bulu lembut ini~ sungguh mendamaikan hati~ ] " ucapnya dalam hati sembari menenggelamkan wajahnya kedalam belahan dada dari Vi yang kini tertutup oleh pegangan tangannya


" Kya!!!" ucap Vi tanpa sadar ketika Rose mulai melakukan sesuatu pada bagian vitalnya.


__ADS_2