
" Melepas energi mana melalui kemampuan meditasi seharusnya hanya berguna untuk meningkatkan sedikit exp serta regenerasi hp dan mp yang sempat terkuras selama penjelajahan berlangsung. " gumamnya sembari memandang langit-langit sebuh perpustakaan dengan satu buku bacaan di lengan kanan.
" [ Namun dari apa yang dijelaskan di sini, beberapa hal yang aku tahu telah berbeda. ] " pikirnya yang terlintas begitu saja diantara tumpukan buku setinggi menara.
Berfikir keras mengenai kebenaran atas apa yang ada dalam buku maupun apa yang dia tahu, dia mulai mencoba melakukan satu uji coba menggunakan magic yang ada demi memastikan kebenaran teori yang ada.
" Pelan-pelan, pelan-pelan dan lepaskan " gumamnya dengan terus mengeluarkan aura serupa yang dikeluarkan oleh Vi secara hati-hati agar mereka yang ada disekitarnya tidak merasakan perubahan eksistensi energi sihir.
Mengamati setiap ekspresi maupun tindak-tanduk mereka yang nampak abai membuatnya berfikir bahwa uji coba yang dirinya lakukan berhasil tanpa masalah.
" Maaf tuan. Bisakah anda tidak melakukan hal berbahaya di tempat ini? " ucap seorang demi human dengan ras kelinci dengan bulu merah muda serta asesoris kaca mata yang menegur dirinya.
" [ Nh, aku lupa mengenai kebenaran mereka! ] " ucapnya dalam diam setelah mengingat beberapa makhluk sangat peka terhadap perubahan eksistensi dari energi di sekitarnya.
" Dia adalah Bianca. Seorang pustakawan yang bertugas untuk mengurus semua hal yang ada dalam lingkup Pustaka Lame. [ Meski dari cara pandangku sendiri, minat baca dari mereka yang ada sangat rendah dan membuat Pustaka Lame terkesan tidak berguna ] " balas Rose mengenalkan sosok demi human itu dalam perjalanan kembali ke dalam kota.
" Jadi, jadi. Dia adalah guru yang mengajarimu teknik semacam itu? " ucap Alruene dengan penasaran terhadap perubahan energi mana yang ada dalam diri Ezra.
__ADS_1
Mengeluarkan tawa sembari menahan keinginan untuk mengatakan bahwa dirinya bukanlah Ezra yang Alruene kenal, Rose mulai menggoda Alruene dengan menyebutkan bahea Bianca merupakan guru terhebat yang dirinya miliki maupun sosok pertama yang memikat hati.
' Apakah benar Ize mengatakan hal semacam itu pada kalian!! " ucap Rola dengan penasaran mengenai kebenaran yang Merry dan Alruene katakan.
" [ Tapi, yah. Benar juga si, apa yang mereka katakan itu. Sedari awal Ize melakukan hal baik semacam itu, semata-mata demi membalas kebaikannya kepadaku dan mengenai sosok Bianca itu. Hm~, mungkin ini adalah salahku karena aku selalu memperhatikan Vira dan bersikap dingin kepadanya walaupun sebenarnya, aku sangat ingin membicarakan banyak hal dengannya! ] " Renungnya sesaat sembari menyiapkan beberapa kudapan sebagai wujud pengikat tali persaudaraan.
Terbangun dari tidur dengan tubuh penuh balutan perban serta botol ramuan kosong yang berantakan dalam satu ruang, ingatan terakhir dari satu pertarungan membuatnya sadar bahwa satu serangan fatal berhasil mengalahkan dirinya.
" Dan sebelum dia mengakhirinya, aku sempat mendengar teriakan khawatir dari-? Ibu!!" Gumamnya mengingat saat-saat terakhir itu sebelum meneriakkan nama Vi yang secara samar mencoba melindunginya sebelum satu serangan lain menghilangkan kesadaran dirinya.
Berlari dengan sekuat tenaga dengan tubuh yang belum pulih sepenuhnya, Altaira mencoba masuk ke dalam kamar dari ibunya meski beberapa pelayan maupun prajurit penjaga terus berulang kali memintanya untuk berhenti memaksakan diri.
" Ibu!! Ibu!! Ibu!! " Teriaknya berulang sembari mencari keberadaan dari Vi dalam ruangan itu.
Menahan tawa dari sikap kakaknya yang serupa sosok dengan gangguan jiwa, usapan pelan di kepala dari seorang wanita cantik dengan rambut perak berbalut pakaian kerajaan bergaya kelasik membuat Viro menundukkan kepala atas candaan buruknya.
" Altaira ? Apakah kamu sudah lupa pada ibumu? " ucap wanita itu setelah mendekati Altair yang duduk lemas akibat luka dalam yang kembali menimbulkan lara.
__ADS_1
Mengalihkan pandangan pada sosok wanita yang begitu mempesona tengah di bantu berjalan oleh adik kecilnya, perasaan dalam diri mulai enggan mengakui bahwa sosok wanita itu adalah ibunya yang kembali ke wujud manusia setelah mengucap beberapa hal memalukan yang hanya di ketahui oleh ibunya.
" * pfrrrts * Hahahaha, Kak Altair yang itu? Masih suka tidur dan bermanja diri dengan ibu?* pfrrrts * ya ampun, ya ampun kakak. Aku tidak menyangka bahwa kakak adalah anak yang manja. " gelak tawa dari Viro yang terus mengejek kelakuan memalukan dari kakaknya setelah Vi mengatakan bahwa Altair sering kali meminta pada dirinya untuk diceritakan kembali kisah-kisah hebat di masa lalu mengenai petualangannya bersama ayah yang telah tiada.
Mengejar Viro yang terus berlari menghindar lagi terus mengatakan hal yang memalukan, tawa bahagia kembali terlihat di wajah ibunya yang kini duduk di ranjang sembari melihat kelakuan mereka.
" [ Hm~ph. Mungkin ini adalah bagian lain dari mimpi beliau yang secara tidak langsung menyebutkan dua nama dari anaknya sebelum menjauhkan mereka yang terlewat batas atas candaannya. ] " pikirnya sesaat ketika membayangkan sosok Rose yang menarik kedua kerah baju dari Altair maupun Viro untuk melerai keributan yang ada.
Mendengar ucap perintah dari ibunya sebelum menyadari adanya bekas air mata diantara wajahnya, baik Viro maupun Altairan sama-sama menundukkan kepala sebelum meminta maaf atas sikap buruk sebelumnya.
" Tidak, tidak. Ibu tidak mempermasalahkan perkelahian kecil diantara kalian, jadi kalian tidak perlu meminta maaf atas hal itu. " ucapnya pada mereka yang terus menundukkan kepala sebelum mengucap alasan tangis harunya pada mereka atas kerinduan mendalam pada sosok ayah mereka.
* Hyac! chuumss!* " Tuan, apakah anda baik-baik saja? " ucap Merry dengan khawatir setelah melihat tubuh tuannya yang berubah menjadi ungu dengan beberapa gelembung yang berracun yang sesekali muncul didekatnya.
Menggelengkan kepala setelah melihat perubahan warna tubuh serta status buruk yang ada dalam papan status miliknya, Rose segera meminta Merry untuk meniadakan efek buruk yang ada menggunakan satu sihir yang pernah diajarkan olehnya.
" [ "Jamur ungu andante" salah satu jamur berracun yang dapat menambahkan status buruk dalam tubuh yang sewaktu-waktu dapat mengubah bentuk susunan tubuh dalam diri dengan status mutasi buruk yang tidak bisa di prediksi. ] " pikirnya dengan kesal setelah kedipan status buruk itu mulai menghilang dari dalam diri bersama warna tubuh yang mulai kembali.
__ADS_1
* Dbuks * Menjatuhkan diri di atas tempat tidur sebelum terlelap dalam mimpi, gejolak nafsu dalam diri kembali menghampiri tidak lama setelah mengingat kembali kemolekan tubuh Alruene maupun Merry yang sempat menggoda diri dengan pakaian berlubang akibat efek asam yang ditimbulkan.
" [Nmh!! Sekali saja! Biarkan! Aku! Merasakan kelembuttannya!! ]" teriaknya dalam hati ketika tidak lagi mampu menahan diri sebelum melangkahkan kaki menuju tempat tidur dari Alruene dan Merry.