Fantasyum

Fantasyum
Bab 6


__ADS_3

" Selamat datang kembali, Bibi~ " ucap Regina sembari menyambut seorang petualang wanita dengan pakaian yang berlumur darah serta rantai besi yang nampak mengikat sebuah pedang besar dua tangan.


Bersama dengan langkah kakinya menuju satu ruangan, wanita itu nampak beberapa kali memandang setiap hal yang ada dalam kastel itu dan orang-orang yang terus melihat kearahnya.


" Gina~ ? Kenapa kamu melakukan hal semacam ini untukku? Bukankah dalam surat itu sudah dijelaskan bahwa aku hanya ingin mampir sejenak untuk beristirahat.. " bisik wanita itu setelah merasa bahwa semua hal yang dilihatnya saat ini telah diatur oleh Regina.


Dengan jawaban sederhana dan ucapan maaf setelahnya, wanita itu memegangi kepalanya untuk sesaat sebelum mencoba bersikap hangat kepada mereka yang ada sepanjang jalan


" Ibu~ bolehkah aku meminta waktumu sebentar? " ucap Fei setelah mencoba memberanikan diri untuk bergabung dalam pembicaraan ibunya dengan wanita petualang itu.


Sembari membisikkan beberapa hal yang ingin dirinya katakan, wanita petualang itu nampak tersenyum pada Fei sebelum menyapanya dengan ramah.


" Apakah kamu sudah melupakan Bibi Nana, Fei? " ucap Regina sembari menepuk pinggang Fei yang nampak takut pada wanita petualang itu.


" Tidak apa, Gina. Lagipula setelah pertemuan terakhir itu, dia mungkin sudah melupakan siapa diriku.. " balas Nana sembari menunjukkan senyum kecilnya sebelum menunjukkan sesuatu yang bisa membuat Fei mengingatnya.


" Wa~ah! Aku ingat sekarang! Bibi ini adalah bibi yang waktu itu! " teriak Fei dengan senang setelah mengingat seseorang wanita cantik yang menyelamatkan dirinya dari serangan monster dan meninggalkan sebuah luka diantara telapak tangannya.


Merasa bahwa Fei masih mengingat kejadian buruk dimasa lampau, Nana kembali mengenakan sarung tangan kulitnya untuk menutupi bekas luka fatal yang ada diantara telapak tangannya.

__ADS_1


" Bibi~ apakah bibi yakin untuk tidak memintaku menyembuhkan luka itu? " ucap Regina sembari mencoba memegangi telapak tangan itu dengan hati-hati.


" Meskipun aku tahu bahwa penyembuhanmu adalah yang terbaik diantara yang terbaik, luka ini tidak akan sembuh dengan mudah, Gina.. " balas Nana sembari menjelaskan bahwa kemampuan penyembuhannya tidaklah cukup untuk menyembuhkan luka kutukan itu.


Sadar bahwa masih ada keterbatasan dalam sihir yang dirinya miliki, dirinya mulai membahas beberapa topik pembicaraan yang sempat tertunda setelah mengurungkan niatannya untuk menyembuhkan Nana.


" Seperti itulah, Gina. Aku akan beristirahat selama beberapa hari di sini sembari menunggu kabar baik dari Angela maupun Bella " Ucap Nana setelah menjelaskan bahwa dirinya bersama dengan beberapa saudara lainnya masih mencari keberadaan dari sosok tuannya di setiap reruntuhan yang muncul setelah badai kehancuran melanda.


" Seperti yang selalu kami lakukan setiap tahunnya, Gina. Karena sekarang giliranku menjelajahi tanah bagian utara, aku memilih untuk mampir dan menyapa sebelum kembali melanjutkan pencarian itu. " Tambahnya setelah menjelaskan bahwa Angela dan beberapa saudara lainnya tengah menjelajahi tanah bagian barat dan Bella bersama saudara yang tersisa, menjelajahi tanah bagian selatan.


" [Ah, benar. Misi pencarian beliau yang tidak kunjung kembali setelah peristiwa besar itu, masih berlangsung hingga kini.] " ucapnya dalam diam setelah mengingat sebuah hal rutin yang selalu bibinya lakukan untuk mencari keberadaan seseorang.


" Bibi, aku sangat menyesali apa yang Fei katakan ini. " ucap Regina dengan segera sembari menarik tubuh Fei untuk bersembunyi dibelakangnya.


Sebuah keheningan mulai terasa setelah Fei mengucapkan pertanyaannya dan membuat Regina memohon sebuah pengampunan.


" He, em... sama seperti sebelumnya, Gina. Aku tidak terlalu memikirkan ucapnya darinya... " balas Nana sembari bangkit dari duduknya dan berjalan melewati keduanya.


" Hehe.. [ Ternyata waktu telah berlalu dengan begitu cepat, semenjak kami memulai pencarian itu. ] ucapnya dalam diam sembari memandang sebuah lukisan besar dari seorang wanita dengan balutan gaun penuh warna.

__ADS_1


Sembari menghela nafss panjangnya ketika kedua sosok itu mulai menghawatirkan dirinya, sebuah bayangan dari wanita dalam lukisan itu mulai terbayang pada tubuh Regina sementara bayangan Regina kecil nampak menyatu pada tubuh Fei.


" Hey, Gina. Mungkin ini adalah saat yang tepat untuk membicarakan hal itu dengannya. " ucapnya dengan begitu tiba-tiba setelah mengingat kondisi yang hampir sama namun dalam waktu yang jauh berbeda.


Duduk kembali di tempat sebelumnya sembari memandang langit yang mulai berubah, Nana mulai menceritakan sebuah kisah yang berkaitan dengan pertanyaan dari Fei.


" Diatas sebuah dataran tinggi di tanah utara yang berselimut salju, Beliau berdiri dengan penuh keberanian sembari menatap tajam ke arah pasukan besar monster yang keluar diantara celah dimensi atau lebih dikenal dengan Void, saat ini... " ucapnya mengawali.


" Bersama dengan satu liga yang diketuai olehnya secara langsung, beliau meminta kepada kami untuk segera menyelamatkan diri dikala pertarungan itu, tidak lagi bisa dimenangkan. Dan~, benar saja. Beberapa saat setelah sebuah danau beku diantara dua dataran itu mulai hancur, beberapa monster lain datang dan menyerang kami yang kala itu hanya berjumlah dua puluh orang... " Lanjutnya dengan mengingat satu pertemuan terakhir sebelum tuannya menghilang


Sembari mengatakan bahwa Angela, Bella dan beberapa saudara lain yang termasuk kedalamnya adalah ibu dari Regina, Fei merasa sangat kagum ketika mengetahui fakta menarik mengenai neneknya yang termasuk dalam sosok yang hebat.


" Ketika Sila, Erva, Tara dan Angga yang kala itu menjadi pilar utama pendukung mulai goyah, beliau memutuskan untuk mengakhiri pertempuran mengerikan itu dan melemparkan kami kembali ke menara Angel of Life di bumi tenggara.... " tambahnya setelah mengingat senyuman terakhir dari tuannya itu sebelum melemparkan seluruh anggota liganya dan bertarung sengit dengan grombolan monster yang telah menjadi pasukan invasi.


" [Dan, ya~. Aku ingat betul bahwa saat pertempuran itu. Beberapa Dewa dalam Altar Pahlawan, benar-benar menampakkan dirinya dan membantuku untuk memenangkan pertarungan mengerikan itu. ]" ucapnya dalam hati ketika mengingat satu kejadian yang membuat karakternya terbunuh dalam satu event.


Merasa bahwa dirinya tidak lagi mampu bercerita, Nana meminta Regina untuk melanjutkan potongan kisah selanjutnya sementara dirinya mencoba untuk mengusap air matanya.


" [ Dan dengan sebuah ending menyentuh dibagian akhir dari versi ke 16 itu, karakter yang aku mainkan itu kembali dihidupkan di awal versi 16.5 dan mendapatkan satu gen raja iblis... ] " lanjutnya sembari mengingat scene bonus dalam versi beta itu sebelum masuk ke full version dan mengawali kisah barunya dengan id name yang baru.

__ADS_1


" Begitulah, Fei. Setelah Bibi Nana, Nenekmu dan rekannya yang lain kembali ke tempat pertempuran itu, tanah yang berselimut salju telah berubah menjadi tanah gersang dan tidak menampakkan adanya satu tanda kehidupan diantara ribuan tubuh yang tergeletak tidak beraturan. " Jelas Regina sebelum menjelaskan bahwa setelah kejadian itu, beberapa anggota dari liga itu mulai keluar hingga menyisakan beberapa anggota yang kini telah dianggap sebagai saudara.


__ADS_2