Fantasyum

Fantasyum
Bab 16


__ADS_3

Memberikan pelukan hangat disertai kecupan nikmat pada bibir tuannya dilakukan dengan begitu saja oleh Sasa di saat tuannya selesai menjelaskan apa yang perlu Sasa lakukan sebelum salam perpisahan di ucapkan.


" Aku harus bekerja keras untuk memenuhi harapannya!! " teriak Sasa penuh semangat hingga menghancurkan lantai kayu dari lantai ke dua rumah itu.


Menutup mulut dengan rasa bersalah atas hal yang tidak disengaja membuatnya mulai berfikir mengenai beberapa hal untuk membiasakan diri dengan kekuatan barunya agar tidak menimbulkan kesalahan yang dapat membuat tuannya kecewa.


Menghabiskan hari dengan membersihkan seisi rumah singgah serta membaca beberapa buku lain yang memenuhi lemari di ruang utama membuatnya merasa sangat bahagia.


 


" Ibu!!! Ayah!!! Tolong!! Sadarlah!! " teriak Sasa di waktu melihat kedua orang tuanya tengah terbaring lemah akibat tertimpa bangunan rumah yang roboh.


* gsruuungggssss! Gbrumms! Gbrumms! Gbrumms!! gsruuungggssss!! * Semburan api dari sosok monster hitam yang amat tinggi terus muncul berulang kali sembari di iringi beberapa ledakan besar dari sesuatu yang tidak di ketahui.


Aliran tangis air mata mulai terhenti ketika kehawatiran dan rasa takut mulai memudarkan kesadaran dalam diri tidak lama setelah melihat telapak kaki yang hendak menghancurkan diri.


* gbrangs * " Oh astagah!! Hey!!! Apa yang kau lakukan di pagi buta semacam ini!!! " teriak beberapa orang tetangga yang merasa terganggu atas dentuman keras yang kembali menghancurkan satu dinding dari rumah singgah pemberian tuannya.


" [ A~a! Jika seperti ini terus! uang saku pemberian tuan akan habis, untuk memperbaiki rumah singgah ini!!! ] " ucapnya dengan menahan rasa marahnya setelah memberikan upah pada seorang pekerja reparasi untuk memperbaiki kerusakan di setiap sisi.

__ADS_1


Duduk diam diantara rimbunnya pepohonan rindang di taman kota sembari berfikir mengenai jalan tengah atas masalah keuangan yang kian memburuk sebelum pertemuan dengan tuannya, ucap canda dari beberapa pengunjung taman yang berlalu-lalang membawanya pada satu keinginan untuk mencoba menjadi seorang petualang.


* sughth, sting, sting, sbrug, gbrumms, scpyars, * Tatapan tajam dalam satu keributan besar dalam bangunan guild petualang yang dipenuhi dengan satu baku hantam antar petualang membuatnya ragu untuk melanjutkan niatannya menjadi seorang petualang.


" Ano! * sbrums * Maaf!!*sbraks * Maaf!! *sbraks * Aku tidak sengaja!! * dbrums* Sugguh! Tolong aku! Tuan!! " Teriaknya beberapa kali mencoba meminta maaf atas ketidak sengajaannya yang ikut terseret dalam satu keributan itu sebelum meneriakkan keinginannya untuk di tolong oleh tuannya.


* swupts * sebuah akar tanaman tiba-tiba mengikat tubuhnya dan menariknya keluar dari keributan yang amat mengerikan di dalam guild petualang.


" Dasar pemula! Apakah kamu tidak tahu bahwa hari ini adalah hari bebas untuk menunjukkan kemampuan diri? " ucap Alruene dengan marah pada Sasa yang nampak kacau dengan pakaian yang di penuhi dengan noda darah maupun kerusakan di setiap sisinya


" Nh, nh. Jangan kasar seperti itu, Ene. Jika dia tahu bahwa ada aturan macam itu, dia pasti tidak akan terlibat masalah sampai seperi ini. " ucap Merry dengan lembut sembari memberikan penyembuhan para Sasa sebelum duduk di dekat bangku umum atas saran Alruene.


" Ternyata benar dugaanku, yang sebelum-nya berteriak meminta pertolongan itu kamu, ya ? Sasya?" Sapa Rose dengan senang setelah melepas tudung besar yang dirinya kenakan sebelum duduk diantara mereka secara perlahan.


Menahan keinginan untuk kembali memeluk sosok tuannya setelah mengingat peraturan yang harus dirinya patuhi, Sasya hanya menundukkan kepalanya dengan sikap malu-malu disaat Rose mengambil alih jawaban atas pertanyaan dari Alruene maupun Merry mengenai sosok Sasya.


" Benar, benar. Waktu itu, Ka Ise menolongku dari beberapa orang yang berniat buruk di camp pengungsi sebelum pertemuan kami kembali terjadi dan Ka Ise menawarkan harga sewa dari rumah singgah miliknya sebagai saran terakhir di saat aku berhasil menjadi bagian dari kota ini. " Tambah Sasya sebagai pendukung ucapan Rose yang nampak kurang meyakinkan bagi dua sosok diantara dirinya.


Merasa ragu atas penjelasan yang terkesan palsu itu, baik Alruene maupun Merry kembali mengajukan beberapa pertanyaan untuk meyakinkan diri bahwa Sasya bukanlah sosok pelayan baru yang sengaja diberikan latar belakang palsu seperti halnya dirinya memalsukan identitas mereka.

__ADS_1


" Sakura adalah nama marga-ku dan Sasya adalah panggilan akrab dari teman-temanku kepadaku. Aku berasal dari Kota Nenda Sana yang jaraknya sekitar 12 hari perjalanan dengan kereta kuda dari kota ini berada. " jawab Sasya mengenai pertanyaan yang mereka ajukan sembari meminta mereka untuk memeriksa kebenaran yang terucap itu ke para petualang yang sempat beberapa kali mengerjakan misi di sana.


" Dan, sama halnya dengan apa yang Ka Ise katakan. Satu perlindungan dari dewi masih memberkatiku dan aku bisa selamat meski seluruh keluargaku tidak seberuntung diriku. " lanjutnya dengan menambahkan fakta dari masa lalu terkait perjuangannya yang harus rela bekerja serabutan demi bertahan hidup di dunia yang kejam


Mencoba menenangkan Sasya dari tangis air matanya, tatapan tajam lagi kejam sempat ditujukan pada Alruene yang kembali melewati batas kewajaran atas apa yang di ucapkan.


" B---baiklah Ize. A--aku akan memperbaiki kembali sikap burukku. Ma--maka dari itu, tolong jangan kasar seperti itu kepadaku. " Ucap Alruene dengan gemetar ketakutan ketika Rose kembali mengacuhkan keberadaannya seolah dirinya tidak benar-benar ada diantara mereka.


Kembali meneriakkan nama Ize di saat tangis air mata hampir tidak mampu lagi menahan kesedihan, Rose membisikkan sebuah kata sebelum memeluk Alruene dalam perjalanan kembali dari rumah singgahnya.


" Tidak akan ada kata lain kali, jika kamu kembali bersikap buruk dan membuat orang-orang di sekitarku mulai membenci diriku " tegasnya kembali dengan menyinggung beberapa masalah lain yang merepotkan diri.


Memeluk erat tubuh Alruene yang kembali memecahkan tangisnya dalan kesunyian malam itu, Merry terus berusaha memberikan nasehat kecil agar Alruene bisa menjaga sikapnya dan berbudi baik sesuai harapan yang selama ini ingin di lihat oleh tuannya.


" Tapi, tapi! Tetap saja Merry! Meski aku sudah menahan diri! Kata-kata itu keluar begitu saja! Dan, dan setelah aku sadari! Aku kembali membuatnya kecewa! Lagi dan lagi! " teriaknya dalam pelukan Merry sembari mengatakan hal buruk tanpa dirinya sadari.


Bersikap dewasa layaknya sosok ibu dari Alruene, beberapa kata sederhana kembali terucap dan membuat Alruene kembali mengusap air mata.


" Baiklah, Merry. Aku akan berusaha untuk tidak kembali membuatnya kecewa. " ucapnya penuh tekad untuk memperbaiki diri kembali.

__ADS_1


__ADS_2