Fantasyum

Fantasyum
Bab 22.3


__ADS_3

Mencoba mempercayai perkataan yang terucap bahwasanya tubuh itu adalah gabungan tubuh antara ayahnya dan sosok asing sebelumnya, sentuhan dari kedua tangan yang berbeda bentuk itu memberikan sensasi berbeda sebelum bayangan lain kembali terlihat setelahnya.


" Maaf menyela anda, namun dari apa yang saya lihat darinya. Putri anda memiliki kepekaan energi sihir yang sangat tinggi dan membuatnya sensitif terhadap perubahan energi sihir disekitarnya. " ucap Gaia dengan lembut menggunakan separuh mulut dari Rose yang tertutup akar tumbuhan.


Mengingat kembali satu hewan magis yang juga memiliki kepekaan yang cukup tinggi atas perubahan energi sihir yang ada membawa Rose dalam berbagai pemikiran lain yang pada akhirnya membuat mereka yang ada diantara terabaikan.


" Hehe, biarkanlah saja dia dahulu. " ucap Gaia kembali sembari meminta Queenela untuk duduk lagi mengakrabkan diri setelah mengambil alih fungsi tubuh dari Rose yang larut dalam alam bawahnya.


Merasa canggung atas situasi yang ada, Gaia kembali meminta maaf atas sikap kurang baiknya dalam etika dan kembali mengulang salam perkenalan sembari menceritakan sedikit hal kecil tentangnya.


" Benarkah itu! Jadi bisa dikatakan bahwa anda adalah sosok yang bisa aku panggil ibu! " Teriaknya senang setelah Queenela menerima keberadaan asing dari sosok Gaia.


Tersadar setelah mendengar teriakan dari Queenela, Rose yang kembali dari alam bawahnya segera mengambil sikap siaga dan membuat Queenela maupun Gaia yang secara langsung terpisah dari tubuhnya hanya bisa terdiam tanpa kata sebelum tertawa dalam wajah ceria bersama diucapnya sebuah kata dari Rose yang terlalu mengkhawatirkan mereka.


" Lihat, bukankah sudah aku bilang bahwa dia adalah sosok yang hebat? " ucap Gaia dalam wujud awal nya sembari menunjuk ke arah Rose yang mengaktifkan berbagai macam rangkaian sihir tingkat tinggi di saat yang bersamaan dengan beberapa lengan tambahan yang masing-masing darinya memegang sebuah senjata mematikan.

__ADS_1


Menepuk pelan dahi dari Rose setelah menjeratnya dengan berbagai akar tumbuhan, wajah lugu nan polos tiba-tiba terukir dalam keheningan setelah dirinya merasa malu atas sikap berlebihan yang mungkin di turunkan pada sosok Queenela meski dalam artian yang berbeda.


" Buah yang jatuh tidak akan jauh dari pohonnya. " ucap Airia yang kembali terdengar dalam telinganya ketika dirinya kembali teringat pembicaraan kecil terkait sifat unik dari Altaira dan Viro yang masing-masing dari mereka memiliki sifat yang hampir sama dengannya.


Membatalkan semua rangkaian sihir yang hampir melepaskan mantra yang berbahaya, ucap kagum dari Queenela mulai terdengar dalam wajah yang menunjukkan rasa keingintahuan dalam dirinya di waktu yang bersamaan dengan dimasukkannya senjata mematikan itu ke dalam inventori item miliknya.


" M~, tidak. Meski demi apapun yang kamu berikan, aku tidak akan mengatakan hal berbahaya itu kepadamu " ucap Rose sembari menepuk kedua bahu dari Queenela sebelum memintanya untuk mengerti bahwa ada beberapa sihir khusus yang tidak dapat dipelajarinya.


Merasa semakin tertarik dengan apa yang disembunyikan ayahnya, jerat akar dari Gaia mulai menahan langkahnya sebelum terdengar bisikan pelan yang mengatakan bahwa dirinya tidak boleh membuat ayahnya murka atau sesuatu yang buruk akan terjadi setelahnya.


Menelan ludah dengan susah payah atas bayangan mengerikan yang sempat terlihat secara sekilas, usapan pelan pada lengan Rose mulai terasa bersama ucapan dari Queenela yang meminta maaf atas sikap egoisnya.


" Tidak perlu seperti itu, sayangku. Rasa ingin tahumu itu membuatku ingat mengenai masa muda ku yang cukup kacau ." balas Rose sembari mencubit gemas pipi Queenela yang nampak menyesali ucapannya.


Membicarakan hal lain terkait masa depan yang samar maupun masa lalu yang telah lalu, satu kesimpulan dari pemikiran panjangnya yang larut sebelumnya membawanya pada set kostum lama dari dark reaper yang masih tersimpan rapi dalam ruang khusus seperti saat dirinya menyimpannya.

__ADS_1


" Oh, ini ? Ini hanyalah pakaian pelindung biasa yang dulu sempat menemani diri ketika masih aktif sebagai petualang dan menjejakkan kaki ke seluruh negri sampai satu hari aku berhasil menyelamatkan seorang putri cantik dari serangan bandit jalanan dan berakhir dengan kesalahpahaman. " jelas Rose sembari menunjukkan set kostum lama itu sebelum meminta Queenela mengenakannya.


Meski sempat menduga ada penolakan yang akan terjadi setelahnya, respon tidak terduga justru diberikan oleh Queenela yang merasa senang atas pemberian hadiah dari Rose yang nampak sangat berharga.


" Ah, iya. Karena kesalahpahaman yang terjadi, ayahku harus di tahan di sebuah penjara mengerikan yang tidak lama setelahnya ayahku bebas berkat sikap beraninya yang menumpas habis para pemberontak dalam penjara itu yang berniat kabur dengan membantai para petugas keamanan yang ada. " ucap Queenela yang dengan semangatnya menceritakan kisah masa lalu mengenai ayahnya kepada semua murid yang duduk dihadapannya dalam acara perkenalan diri atas masuknya dirinya dalam sekolah sihir bergengsi dari empat zona teritori.


Mencukupkan sesi perkenalan diri dari Queenela yang kini akrab di panggil Ela, beberapa murid yang mendengar kisah panjang darinya merasa bahwa Ela terlalu berlebihan dalam membanggakan kedua orangtuanya.


" Sekali lagi, mohon bantuannya! " Teriaknya bersemangat sembari menundukkan kepala sebelum duduk dk sebuah bangku yang akan menjadi tempatnya belajar dalam waktu yang lama.


Mengenakan set kostum dari dark reaper yang secara otomatis menyesuaikan diri dengan tubuh tinggi ramping dari Queenela hingga menampakkan secara jelas komolekan tubuhnya yang menggoda bersama bentuk tubuh dari dirinya yang kini serupa dengan wanita dewasa dark ras manusia setelah Rose memintanya meminum sebuah ramuan perubahan sekaligus memintanya untuk tidak melepaskan pelindung wajah tengkoraknya agar bayangan masa depan ataupun ramalan yang mengganggu tidak kembali menampakkan diri.


" He,em. Dari yang aku dengar, dia adalah anak yang sangat pintar dalam berbagai hal dan bahkan dia sendiri pun mampu menjelaskan dasar dari penggunaan sihir tingkat lanjut hingga membuat beberapa kakak kelas kita ingin belajar darinya. " ucap seorang perempuan dengan rambut merah muda yang duduk di dekat Vira yang masih sibuk dengan tugasnya yang kini menjadi seorang penyaji makanan dari jadwal rutin yang telah di tentukan untuk kalangan bangsawan menengah ke bawah.


Membalas sopan sapaan dari teman di sebelahnya sembari mengatakan bahwa roda kehidupan masih menempatkannya pada keberkahan membuat perempuan itu merasa bersalah atas ucapannya terhadap sosok yang di bicarakan tanpa mengetahui latar belakang dari keluarga sosok itu sebelumnya.

__ADS_1


" Dan lagi, dengan masuk ke Sekolah Sihir Cahaya Putih ini pun. Aku masih harus berusaha lebih giat lagi untuk mendapatkan nilai tinggi yang bersamaan dengan itu [ Aku bisa membebaskan belenggu abadi yang mengurung kakak! ] " ucapnya yang tiba-tiba terhenti dan membuat temannya menanyakan ucapan pelan yang terdengar samar.


__ADS_2