Fantasyum

Fantasyum
Bab 26.5


__ADS_3

Meminta Queenela untuk melepas topengnya dan mengatakan apa yang menjadi penyebab masalah penyerangan monster sebelumnya, Angela yang sedari awal merasa yakin atas ucapan Queenela mulai menatap marah para staff yang membuatnya meragukan penilaian diri dan menyebabkan kesalahpahaman antara dirinya dengan tuannya.


" Baiklah, baik. Aku menghargai tindakan kurang pantas kalian yang menyeret nama Ela sebagai kambing hitam atas ketidak mampuan kalian menciptakan sistem keamanan sekolah seperti yang aku minta. " ucapnya menyinggung masalah sistem keamanan yang dirasa rumit oleh para staff keamanan yang pada dasarnya merupakan saran langsung darinya terhadap sistem keamanan sebelumnya yang penuh dengan pemborosan sumber daya.


Menambahkan beberapa rahasia kecil terhadap penelitiannya pada seluruh penghuni dari sekolah platina, beberapa nama yang tidak lain adalah staff yang ada dihadapannya membuka kebenaran atas tindak busuk yang tidak terduga.


" Akupun sama marahnya dengan kamu, Angela. Namun semua yang aku temukan itupun tidak lepas dari tanggung jawabmu terhadap anak buahmu saat ini. " tambahnya pada Angela yang langsung meminta kebenaran atas ucapan Rose yang menyinggung tindakan hina berupa penjualan item tingkat langka maupun transaksi lain yang berkaitan dengan lingkup Sekolah platina.


" Untuk itu, ambil ini dan kita akan berbicara dari hati ke hati terkait kemampuanmu yang begitu dikagumi itu. " lanjutnya menyandangkan palu gada dengan ukiran salah satu dewa dari masa delapan dewa utama pada Angela.


Terkejut bukan kepalang ketika melihat kesungguhan dari tuannya untuk mengajaknya kembali mengenang masa lalu penuh pertarungan, Angela menerima tawaran dari tuannya itu dan mengikuti langkah kaki darinya yang melewati pintu teleportasi dalam batang pohon sebelumnya.


" A--ano, Bibi Ria. Bo--bolehkah aku tahu mengenai apa yang ayah lakukan dengan kepala sekolah? Da--an apa hubungan antara Bibi Altaira dengan Bibi Ria? " tanya Queenela dengan segera setelah mendengar saran dari ayahnya yang menyarankan untuk meminta kejelasan pada Victoria maupun Airia terkait hubungan mereka bertiga.


Mendengar ucap penasaran dari Queenela, Airina yang sebelumnya berhutang maaf pada Victoria mulai mendekat pada keduanya sembari mengucap maaf yang tertunda.


" Wah, baguslah jika hubungan kalian sudah kembali seperti sebelumnya. " ucap Rose yang kembali dari pintu teleportasi dengan membawa tubuh Angela yang terluka.

__ADS_1


Menghitung waktu singkat dari kepergian mereka sebelumnya, Airina yang dulunya pernah melawan Rose dalam tubuh Izera mulai merasa bersyukur bahwasannya waktu itu tuannya tidak dalam kondisi sempurna.


" Ah? tenang. Dia hanya kehilangan kesadarannya untuk sementara. " lanjutnya menjelaskan kondisi tubuh Angela saat ini setelah Queenela maupun Airina menanyakan keadaannya.


Mengusap pelan wajah dari Queenela setelah memberikan beberapa makanan kecil pada mereka yang termasuk didalamnya para kavaleri yang di pimpin Airia, ucap penjelasan yang sempat tertunda mengenai hubungan Airina dengan dirinya maupun Angela mulai di jelaskan setelahnya.


" Selain dari mereka bertiga, seharusnya masih ada sepuluh orang wanita yang bisa kamu panggil sebagai bibi. [ Meski aku tidak yakin bahwa mereka masih ada di dunia ini. ] " tambahnya setelah mengenalkan Airina dengan Queenela maupun sosok kepala sekolah platina yang juga termasuk salah satu sosok yang dapat di anggap sebagai ibunya.


Mendengar masa lalu yang luar biasa dari sosok yang dikagumi oleh pemimpin mereka, keinginan kuat untuk bisa berguna bagi sosok Rose pun mulai timbul dalam diri sampai seorang dari mereka mengucap permintaan untuk setia melayani Rose sepenuhnya.


" Ayolah, ayolah. Jangan rusak suasana reuni kami dengan ucapan semacam itu, anak muda. " ucap Rose yang merasa tidak nyaman atas sembah sujud mereka yang begitu tiba-tiba.


" He, em. Bukan begitu maksudku. Aku hargai kesetiaan kalian. Namun yang aku maksudkan itu sendiri, aku tidak ingin menjadi panutan kalian ataupun apapun yang kalian harapkan dariku. Karena bagaimanapun juga, aku bukanlah sosok yang kalian imajinasikan. " ucapnya menjelaskan.


Menambahkan kebenaran atas ucapan tuannya, Victoria yang selalu menemani tuannya dalam berbagai kesempatan pun mulai menambahkan hal yang tidak terduga terhadap tuannya.


" Hehe, Ria ada benarnya juga. Jika aku merombak tubuh kalian ataupun menguji beberapa hal terhadap tubuh kalian secara keji dan menyakitkan, apakah kesetiaan kalian tidak akan goyah? " ucapnya menanyakan kesungguhan hati dari mereka terhadap kesetiaan yang dimaksudkan.

__ADS_1


Mengusap lambang runera ke dua pada bajunya sembari mendengarkan pendapat mereka secara jelas dari dalam hatinya, berbagai kisah lucu nan menarik membuatnya sadar bahwa waktu yang hilang darinya telah menempa para istrinya menjadi sosok hebat nan disegani banyak kalangan.


" He, em. Aku sendiri tidak terlalu terkejut akan hal itu. Mengingat ras mereka yang tidak berumur panjang, aku sudah mengira bahwa itu akan terjadi secara cepat ataupun lambat. " ucapnya dengan lirih sembari memandang langit cerah kala itu.


Larut dalam berbagai hal terkait masa lalu yang cukup berat untuk dilalui hingga sampai ke tahap kedamaian saat ini, Angela yang sebelumnya sempat kehilangan kesadarannya tiba-tiba berteriak dan membuat mereka yang ada di sana terkejut karenanya.


" Hehe, apa yang kalian katakan memang ada benarnya. Kedamaian saat ini memang cukup bagus untuk dipertahankan. " tawanya yang mengingat ucapan mulia yang pernah di ucap oleh dirinya sendiri ketika situasi kala itu membuatnya merasa yakin bahwa dirinya tidak akan bisa hidup untuk yang kesekian kalinya di dunia game yang menjadi nyata.


Memeluk Angela dengan segera setelah memintanya untuk bergabung bersama mereka, sempilan canda mengenai uji kemampuan terhadap dirinya membawa pengetahuan dasar bahwasanya kedamaian yang saat ini mereka jaga membuat mereka melemah dan membuat kekuatan hebat dalam masa kekacauan sebelumnya justru berbalik memakan tubuh mereka sendiri.


" Sama halnya ucapan yang pernah aku katakan pada Ela maupun beberapa pelayan manisku sebelumnya. Kekuatan yang terlampau besar dalam diri dapat disamakan dengan bom waktu yang bisa meledak dan menghancurkan diri sendiri jikalau kita sendiri tidak memegang kendali penuh atas energi besar yang ada dalam diri. " tambahnya memberikan penegasan.


Meminta Queenela untuk menunjukkan gambaran masa depan pada Angela dan menjelaskan apa yang menjadi penyebab kematian mengenaskan yang akan terjadi padanya membuat Angela yang merasa baikan sebelumnya menjadi was-was atas kebenaran yang akan terjadi.


" Aku sendiri tidak mengetahui secara pasti kebenaran yang diucap oleh Ela dan sama halnya denganmu, Angela. Aku sendiri pun mendapatkan gambaran kematian yang cukup tragis. " ucapnya sembari menenangkan Angela dengan memberikan sebuah pendapat pribadi yang nampak tabu untuk dipercayai.


Menganggukkan kepalanya sebagai pembenaran atas ucapan ayahnya mengenai gambaran lain yang nampak buram diantara gambaran kehancuran sebelumnya, rasa hangat dari dekapan tangan Queenela pada Angela membawa harapan baru pada dirinya terkait masa depan yang benar-benar bisa diubah.

__ADS_1


" [ Dan tentunya, takdir akhir dari mereka yang hidup adalah kematian itu sendiri. ] " pikirnya kembali sembari mengingat pertemuannya dengan sosok dewi misterius pada kematiannya setelah melawan dewa petaka.


__ADS_2