Fantasyum

Fantasyum
Bab 11.2


__ADS_3

" Anda terlihat begitu rajin seperti biasanya, tuan muda. " sapa seorang biarawati dengan pakaian khasnya yang berdasar pada kain hitam dan putih polos serta asesoris serupa lambang marka dari salah satu dewa berbentuk pohon dunia.


Menyapa balik biarawati yang ada dihadapannya sembari memintanya untuk menjaga Vira seperti hal rutin setiap harinya, biarawati itu nampak menunjukkan satu ruang persembahan sebelum mengajak Vira belajar mengenai dewa yang menjadi keyakinannya.


" Meditation." ucapnya lirih sebelum mengambil sikap duduk meditasi.


Merasakan adanya hal ganjil dari Ezra yang tidak kunjung keluar setelah biarawati itu membawa Vira, Rola mencoba mendekati tempat Ezra berada sebelum seorang pastur mendekatinya.


" Tidak ada masalah, Bapa. Saya hanya berniat memanjatkan doa pada dewa, agar perasaan gelisah dalam diri. Bisa lebih mereda. " balas Rola memberikan alasan.


Aura yang menyejukkan jiwa mulai terasa dalam ruangan tempat Ezra berada ketika Rola memasukinya.


" Apakah itu adalah wujud sejati dari Ezra? " gumamnya tidak percaya seketika melihat kilau cahaya biru menyala nampak jelas terukir di separuh tubuhnya.


Berjalan pelan mendekati Ezra dengan niatan menyadarkannya, sebuah bariarel kasat mata menghentikan langkahnya dan membuat wajah damai dari Ezra mulai menampakkan kerutan di dahinya.


" [ Nh, baiklah. Karena mungkin Vira sudah jenuh belajar bersama Luna, aku cukupkan sesi kalih ini dengan nilai 198723 sebagai hit terrendah yang aku miliki. ] " ucapnya dalam diam sembari melihat tampilan papan nilai yang berisi keterangan atas serangan maksimal, rata-rata dan serangan terrendah pada ruang sederhana layaknya barack pelatihan kesatria.


Menarik nafas panjang sembari membuka perlahan kedua matanya sebelum guratan cahaya mulai tersamar seperti sebelumnya, Rose yang kembali memeriksa area sekitarnya nampak begitu terkejut ketika Rola jatuh dan menimpa dirinya.


" Jadi, apakah kamu melihatnya? " ucapnya bertanya sembari menahan bibir Rola yang berniat melanjutkan pertanyaan yang mengganjal sebelumnya.


Saling menatap mata dengan pandangan serius tanpa kedipan mata, Rola menarik nafas panjangnya sebelum menjawab apa yang Rose katakan.

__ADS_1


" Nh, [ Itu berarti perwujudan diri dari sang dewi hanya bisa dilihat oleh ku saat ini ]. " balas Rose dengan hembusan nafas tanda lega setelah Rola mengatakan hal yang hanya terfokus pada dirinya.


Menjawab beberapa pertanyaan sederhana mengenai siapa sosoknya yang sesungguhnya, Rose mengatakan dengan jelas mengenai satu kisah pada kehidupan masa lalunya bersama Vi maupun Airina.


" Karena itulah aku tidak bisa menerima perasaan yang harusnya kamu berikan pada Ezra. " lanjutnya kembali mengungkit masalah di waktu sebelumnya.


Bersama dengan permintaan darinya untuk tidak mengatakan kenyataan pahit itu pada Vira, Rola hanya tersenyum tanpa kata dengan tubuh lemas tanpa tenaga.


" [Nh, sistem dunia menolak penjelasan dari kehidupanku sebelumnya. ] " ucapnya dalam diam ketika Rola bangkit dari tidurnya dengan ingatan samar mengenai dirinya.


" Pastur Zeral, mohon maafkan aku atas kelalaianku kembali! " teriak Rola dengan tiba-tiba setelah terhenti pada satu pembicaraan mengenai kejadian dalam gereja terutama di ruang pemujaan dewa.


Mengusap kepala Rola dengan lembut sembari mengungkit masalah mengenai Ize, Vira dan Luna, Rola hanya tersenyum dalam diam sebelum mengatakan bahwa Ize merupakan panggilan masa kecil dari Zeral yang kini menjadi tubuh pengganti dari Rose.


Tersenyum senang dengan menatap langit sembari berfikir bahwa kehidupannya tengah di permainkan, panggilan nama dari sosok yang familiar membuatnya enggan untuk peduli pada apa yang telah terjadi.


" Untuk yang kesekian kalinya, semua hal yang ada di depan mata merupakan hal yang sama seperti sebelumnya. " gumamnya setelah memastikan beberapa hal yang seharusnya masih memiliki keterkaitan antara dirinya dengan mereka.


Dalam satu waktu, Rose mengunjungi gubuk sederhana yang kini menjadi rumah terlantar setelah satu serangan monster memakan korban jiwa yang tidak lain adalah keluarga Vira.


" Selain dari itupun, keributan pada sebuah bar. Juga tercantum dalam papan informasi dan secara jelas menyebutkan bahwa beberapa petualang sempat membuat keributan dan memakan satu korban. " gumamnya sesaat setelah sebuah ingatan samar mengenai sosoknya yang tengah bercermin di jendela kaca toko, ketika keributan itu terjadi.


Kembali mengunjungi beberapa tempat lain dan mencoba mengingat hit poin yang membuatnya heran, sosok Dewi Vexilis kembali datang dikala kegelapan malam sebelum mengulang apa yang sempat dikatakan mengenai takdirnya sebagai pengganti dewa petaka.

__ADS_1


" [ Nh, mungkin ini adalah satu bugs yang berkaitan dengan beberapa crash yang sempat terjadi ketika dewa petaka itu mendaratkan serangannya tepat ke mata kananku. ] " renungnya dalam diam setelah mengingat beberapa glich menghalangi pandangannya sebelum serangan fatal mengenai dirinya.


* Splendumssss splendumssss splendumssss* Rentetan alteri penguancur mulai menghujani pasukan monster yang menyerang sementara dirinya terbaring kesal di atas tubuh seseorang.


" Nh, ya ampun. Sepertinya ini adalah akhir hidupku. " gumamnya menutup pandangan mata dengan lengan kanan yang penuh luka untuk mencegah badai terkutuk melukai matanya.


Dengan tangis air mata yang keluar bersama kekesalan dalam dirinya, sosok yang dikenal dengan dewa petaka langsung menerjang tubuhnya dengan artefak miliknya.


* tch * " MATILAH KAU!!!!!! " teriaknya dengan sekuat tenaga sembari mengangkat martil besar dengan aura sebelum menghantamkannya pada tubuh dewa petaka


* Swmsswuuuuusuuuuungsssss!!! Gbruuuuuummmmsssssh!!!!! * Hantaman keras dari dua senjata yang saling bertemu membuat hentakkan energi merusak area dengan tanah yang terbelah lagi terkikis glombang kejut yang luar biasa bersama hembusan angin yang membelah seluruh tubuh monster maupun saudara yang telah tiada.


" Kaka!! Kaka!! Kaka!!! Aku mohon!! Kaka!! " teriak tangis dari seorang perempuan secara samar terdengar dalam kegelapan.


Membuka mata secara perlahan sembari mencari siapa sosok familiar yang membuatnya tersadar, Rose di buat terdiam tanpa kata setelah melihat Luna, Vira dan Rola nampak menempel pada tubuhnya dengan luka bakar di sekujur tubuhnya.


" Mist?! Kenapa bisa! " teriaknya tidak percaya ketika sosok monster lipan dengan tipe mutan, terus mengamuk dalam desa dan menyerang seluruh warganya.


* Spumbs!! Stitutups! Splumbs!! Stitutups! Splumbs!! Stitutups! * Suara keras dari dentuman alteri tersembunyi pada tubuh Mist terus mendominasi diri dari teriak tangis para warga yang terancam nyawanya.


Terhenti pada sebuah bangunan runtuh dengan cerminan diri yang menampilkan tubuh seorang demi dari ras yang tidak di ketahui, tawa jahat sempat terdengar beberapa saat sebelun runera pada mata kanannya berubah warna dari ungu menyala ke biru muda sebelum kembali seperti semula bersama sosok monster yang menghilang entah kemana.


* Dbuks * Tubuhnya kembali ambruk dihadapan sebuah menara beberapa saat sebelum menara tempatnya berada benar-benar runtuh menimpa tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2