
" He, em. Bagian selaput pelindung terdalam masih nampak sempurna tanpa luka. [ Yang berarti, pemilik dari tubuh ini berhasil menyelamatkan kesucian dari gadis ini meski mempertaruhkan keselamatan diri. ] " gumamnya setelah kembali memeriksa tubuh dari wanita itu untuk yang ke sekian kalinya.
Mengalihkan pandangan mata ke sekitar area tempatnya berada sembari mencari informasi tambahan mengenai identitas dirinya yang sesungguhnya, Rose sempat mengusap bagian dadanya ketika melihat ruangan di sebelahnya nampak hancur dengan banyak noda merah darah.
" Eiziran D Gream [ "Eizi" atau hari ke enam. "Ragerea" nama dewa yang diaplikasikan dalam bulan ke lima dari 18 dewa yang ada. Lalu " Realm atau Realms " yang berarti jiwa dari alam semesta. ] " ucapnya kembali menyebutkan nama dirinya setelah mengetahui arti nama dari sosok Ezra yang serupa dengan beberapa potongan mantra berbada dari satu sihir tingkat legenda.
......................
Dalam waktu yang sama seperti sebelumnya, Rose yang tengah menjelajahi setiap sisi ruangan kembali menemukan beberapa hal yang nampak sama seperti saat pertama dirinya terbangun dari tidur panjangnya.
" [ Gubuk sederhana yang jauh dari pemukiman kota, beberapa ruangan yang hampir sama namun memiliki kegunaan berbeda, taman kecil dengan sandingan lahan pertanian yang serupa dan pasti, ini adalah tempat penyimpanan dari sesuatu yang bisa disebut sebagai senjata. ] " ucapnya dalam diam setelah memperhatikan dengan seksama mengenai bangunan tempatnya berada sebelum menutup mulutnya yang terbuka lebar tidak percaya atas apa yang dilihat dihadapannya.
" Ka Ize!! Ka Ize!! Ka Ize!! " teriak seorang wanita dengan tangis air mata sebelum berlari cepat ke arahnya dan memberikan pelukan hangat setelahnya.
Mendapati bahwa sihirnya berfungsi dengan baik pada tubuh wanita itu, Rose yang semula menyiangi beberapa lahan pertanian itu mulai menusap pelan kepala wanita itu sembari mencoba menghentikan tangis air matanya.
* hzmps * " Syukurlah bahwa Kak Ize, baik baik saja " ucapnya kembali setelah terduduk di atas kursi dalam gubuk sederhana itu sembari tetap memeluk lengan sosok itu seolah enggan untuk menjauhinya.
Kembali mengusap kepala wanita itu sembari menyamarkan niatanya dalam menggali informasi lebih atas tragedi pada malam sebelumnya membuat tangis air mata kembali pecah yang membuatnya mengingat kembali satu scene paradox yang serupa pada saat kebakaran hebat menghanguskan segalanya maupun sosok Vi yang berlinang air mata.
__ADS_1
" Hehehe, Ka Ize! Aku sangat bahagia ketika aku mengingat semua kebaikan kaka! Oleh karenanya, untuk nanti ataupun esok hari dimana kaka bekerja. Aku akan membantu kaka sekuat tenaga! " ucapnya dengan begitu semangat lagi menunjukkan kesiapannya untuk bekerja setelah memberikan satu kecupan pada pipi kakaknya.
Mengucap rasa syukur atas kembali nya indra pengelihatan maupun kemampuan berucap yang selama ini dirinya inginkan, Rose mengetahui fakta lain mengenai Ezra yang tidak lain merupakan seorang pekerja serabutan yang terkadang menghabiskan sisa sebagai waktunya untuk bekerja di sebuah bar demi menghidupi sosok adik kecilnya yang begitu berharga meski memiliki masalah mengenai indra pengelihatannya.
Sempat merasa sedih atas keyataan bahwa kakaknya telah tiada akibat kejadian mengerikan di waktu sebelumnya, membuat Rose enggan mengatakan sebuah fakta dan memilih merahasiakannya dengan senyum senang lagi tawa bahagia.
Mengajari sosok adik dari Ezra untuk melakukan beberapa pekerjaan rumahan sederhana, Rose sempat menahan tawanya ketika melihat adik dari Ezra itu mengacaukan apa yang tengah dikerjakan dalam raut muka kesal lagi menggemaskan.
" Sudahlah, sudah. Biarkan kakak yang membereskannya. " ucapnya sembari membantu Vira berdiri dari posisi terduduknya setelah sempat jatuh akibat lantai licin yang belum kering.
Wajah kesal sempat terlihat dihadapan matanya sebelum permintaan maaf dari suara lembut terdengar merdu dalam telinga.
" [O!!!! Astagah!!!! ] " ucapnya dalam diam sembari menutupi pandangan katanya ketika mengingat poin karma yang mungkin akan membawanya pada hal buruk seperti saat dirinya melakukan sesuatu terhadap tubuh Vi sebelum badai melanda.
Diantara keheningan akibat kecanggungan antara dirinya dengan adik Ezra, Rose sempat berniat menjejakkan kakinya untuk keluar dari tempatnya berada sebelum sebuah kata membuatnya enggan melanjutkan langkahnya.
" [ Memang benar bahwa aku tidak memiliki informasi lebih atas sosoknya selain dari apa yang dia katakan sebelumnya. Namun mendengar apa yang di ucap itu, mungkin pertemuan ini telah di takdirkan. *ngrgh* Tidak, sepertinya pertemuan ini memang sudah menjadi satu bagian kehidupanku setelah aku meminta kekuatan itu kepadanya. ] " ucapnya dalam diam setelah mengingat satu kode perintah yang dirinya ucap pada sosok wanita serupa dewa yang mengambil bentuk avatar dari sahabatnya.
" Dan lagi, setelah kaka menukarkan semua hal berharga itu untukku, aku justru membuat hidup kaka menjadi lebih berat dari sebelumnya. " ucapnya dengan menahan tangis air mata setelah mengingat satu pertemuan dengan Ezra.
__ADS_1
" He, em. Sudahlah, Vira. Aku tidak ingin mendengar kisah yang membuatmu bersedih seperti itu. " ucap Rose sembari menenangkan.
Memakaikan sebuah busana sederhana dengan beberapa tambalan tidak sempurna, wajah ceria yang ditunjukkan oleh Vira membuat empati dalam diri semakin kuat dan membuatnya mengambil keputusan bahwa dirinya akan mengambil tanggung jawab penuh pada Vira sampai bertemu dengan jodohnya.
" Selamat malam, Ka Ize " ucapnya sebelum menutup mata sembari menahan lengan Rose dalam pelukannya.
* Sgriiiimgssssss stats stats stas sgriiiimgssssss* Beberapa garis cahaya mulai muncul di atas lantai kamar tempat mereka berada sebelum menyatukan diri dalam bentuk pentagon sihir dengan kombinasi binari sistem bercahaya.
" Nh? Apakah aku kembali ke Labirin Fana? " gumamnya dengan nada datar ketika melihat sebuah altar putih di atas alas langit bertabur bintang yang nampak bagaikan hal wajar baginya.
* swups * Sesosok pria yang mengambil bentuk serupa dengan Ezra mulai membicarakan sebuah hal mengenai permintaan terbesar dalam hidupnya setelah diawali dengan salam sederhana dan diakhiri dengan sebuah pesan penuh tanya.
" He, em. yah. Sepertinya aku sudah masuk dalam satu bagian kisah utama pada versi beta, setelah preview versi sebelumnya diakhiri dengan akhir penuh tanya. " gumamnya sebelum kembali memejamkan mata untuk mengembalikan alam bawah sadarnya pada tubuh barunya.
* Sssssrasaasssss* Garis sihir yang menyatu dalam separuh tubuh barunya mulai memudar bersama bayangan iblis dengan mark aura.
Melihat sosok mengerikan yang nampak didepan mata tengah menyatu dalam tubuh kakaknya membuatnya memaksakan diri untuk menutup matanya sembari menahan teriakan agar sosok bayangan iblis itu tidak menyakiti dirinya.
" Nh? [ Ya ampun, adik kecil ku! ] " ucapnya terkejut setelah merasakan sensasi dingin di atas kasur yang menampakkan noda besar bekas genangan air di malam sebelumnya.
__ADS_1
Terbangun dengan perasaan bahagia setelah melihat sosok kakaknya yang nampak luar biasa seperti sebelumnya membuatnya melupakan sosok iblis mengerikan yang muncul bagai mimpi buruknya.