
" Kaka? " ucap Vira yang begitu tiba-tiba setelah merasa bahwa kakaknya berada dekat dengan dirinya.
Mengigit jari dengan kesal setelah mengetahui bahwa Vira tengah tidur bersama, tawa lepas kembali keluar dari mulutnya setelah sadar bahwa dia telah kembali terikat pada kebiasaan buruknya.
" [ Besok pagi! Aku harus menemui dewi itu kembali! ] " teriaknya dalam hati sebelum kembali membaringkan diri lagi berharap kenikmatan duniawi kembali dirasakan dalam mimpi.
Berjalan pelan menuju tempat persembunyian dengan seorang diri tanpa memberi tahu mereka yang masih terlelap di waku pagi, satu keinginan kuat kembali terucap pada sang dewi agar dirinya bisa kembali mengendalikan diri dan tidak lagi terpengaruh pada hasrat nafsu birahi.
" Hehe, maaf. Sungguh, maafkan aku. Aku hanya tidak menduga bahwa kamu rela datang dan menyiapkan persembahan ini kepadaku demi meminta hal seperti itu. " tawa sang dewi sebelum memberi Rose nasehat serta saran untuk mengatasi hal menyimpang atas ketidak mampuannya menahan hasrat dalam tubuh barunya.
Mengangguk paham atas apa yang diucapkan tidak langsung membuatnya melakukan hal yang diminta itu dengan segera dengan alasan bahwa dirinya masih enggan merelakan perasaan pada Airina, Vi maupun mereka yang telah menemani dirinya di kehidupan pada tubuh sebelumnya.
" Memang, keberadaan darimu cukup membingungkan diriku karena dari yang aku tahu, mereka [jiwa] yang sudah kehilangan tempat [tubuh]-nya akan kembali ke asal [akhirat] dan tidak akan mendapatkan kembali satu kesempatan seperti yang kamu rasakan. " balasnya dengan menjelaskan siklus kehidupan dari mereka yang tinggal di Tanah Sylvia sebelum terpisah dari raga menuju satu tempat terbaik di alam selanjutnya.
Menjelaskan kembali satu kemungkinan atas dipilihnya sebagai pengganti dewa petaka maupun hukuman atas perlawanan pada dewa yang diterimanya, Rose kembali enggan mengatakan pendapatnya atas apa yang dirasa benar dalam benaknya.
__ADS_1
" Dan ya, apapun yang kamu pilih nantinya. Aku tetap berharap bahwa kamu bisa hidup bahagia seperti yang selalu kamu ucapkan dalam setiap doa. " ucapnya beberapa patah kata sebelum kembali ke alam para dewa dan meninggalkan Rose yang nampak tersenyum atas satu keputusan yang telah dipilihnya.
Berjalan kembali menuju kota dengan sesekali melihat rombongan dari tim ekspedisi yang mulai melakukan misi khusus dari Vi, keinginan untuk kembali ke medan pertempuran sempat menggoyahkan keputusan sebelum sapaan riang lagi pelukan menghangatkan membuatnya tetap berjalan pada apa yang di inginkan.
" [Mencapai satu kebahagiaan dalam kehidupan pada tubuh baru ini merupakan satu dari beberapa alasan yang terus membuatku bimbang pada apa yang dewi sarankan. Namun mengingat kembali harapan dari Ezra yang menitipkan kebahagiaan pada Vira maupun Rola yang sangat dirinya suka adalah prioritas untuk sementara sebelum satu pilihan pasti membuatku yakin atas apa yang menjadi alasan keberadaanku saat ini. ] " ucapnya dalam renungan diri sebelum membawa Vira, Rola, Alruene dan Merry untuk pergi menghabiskan hari dengan canda tawa yang menyertai.
Termenung dalam diam dari semua keramaian yang ada di sekitar kembali mengingatkannya mengenai satu kehidupan awal dimana dia hanyalah sosok pria tanggung yang lupa bagaimana cara tersenyum.
" Kaka? Kaka! Kaka!! " Teriak Vira secara berulang ketika kakanya hanya terduduk diam diantara semua kesenangan yang dirinya rasakan.
Membuka kedua mata dengan rasa sakit dalam dada membuatnya segera membuka opsi dalam diri untuk melihat status buruk macam apa yang membuatnya kehilangan kesadaran sebelumnya.
Mengusap pelan kepala Vira sembari mendengarkan apa yang membuatnya merasa begitu menderita, Rose mulai mengucap beberapa kata sederhana untuk menenangkan Vira disaat Vira mulai selesai dengan semua keluh kesahnya.
" Seharusnya aku tahu bahwa ada beberapa hal lain yang bisa melukai diri tanpa ada status buruk dalam profil diri. " gumamnya dalam sunyi setelah Vira kehabisan tanaga akibat tangis berlebihnya.
__ADS_1
Mengingat satu artikel dalam satu media masa yang menyangkut mengenai beberapa hal sepele yang bisa membuat beberapa orang kehilangan nyawa, rasa sakit dalam dada yang kembali terasa begitu menyiksa melukis sebuah senyum diantara wajahnya dengan satu pemikiran bahwa hal itu menandakan adanya masalah serius pada tubuh barunya.
" Munculnya pergolakan batin dalam diri yang dapat membuat si penderita mulai kehilangan kendali atas tubuh akibat nafsu yang tidak terkendali dapat memberikan dampak serius pada beberapa kerusakan pada organ vital. " ucapnya melanjutkan kemungkinan yang ada setelah merasa bahwa detak jantungnya mulai tidak terkendali akibat memikirkan berbagai hal berat terkait nafsu yang bergejolak dalam diri ataupun keinginan lain untuk memamerkan kekuatan pada mereka yang selalu menyepelekan.
Mencoba mengambil nafas panjang untuk kembali memperoleh ketenangan lagi melupakan berbagai hal lain yang bukan menjadi tanggung jawabnya, ucapan sederhana dari alam bawah sadar Vira yang tertidur dalam pangkuannya kembali membawanya pada satu keinginan untuk melepas gejolak nafsu yang ada.
" Rumah bordil Derracki " ucapnya menyebut satu papan nama dari satu tempat hiburan malam para pria busuk di kota sebagai satu cara untuk melepaskan hasrat nafsunya tanpa menodai mereka yang dianggap sebagai keluarga.
Berjalan dengan penuh gelisah diantara bilik kecil dari mereka yang berpesta ria dalam satu hubungan yang dipenuhi dengan suara menggelikan atas nafsu yang menggelora membuatnya merasa bersalah atas keputusan bodohnya untuk masuk kedalam tempat itu.
" Ya ampun, bukankah itu adalah adalah koki terkenal dari tempat makan di batas area sebrang? " ucap seorang perempuan demi human dengan ras harpy yang tengah menikmati satu crutu bersama beberapa perempuan lain dengan ras yang sama.
Memilih untuk duduk diam di meja barista sembari meminum minuman dengan kadar alkohol tinggi sebagai media pengalihan diri, beberapa pemuda yang jauh lebih muda nampak dengan santainya melakukan apa yang mereka suka hingga dia yang melihat mereka merasa iri dibuatnya.
" Hey, anak muda yang di sana * hickh* Sepertinya kamu adalah pendatang baru, ya? *hickh* " tanya seorang pria dewasa dari ras demi human kadal rawa sebelum menantangnya untuk mengadu ketahanan diri dalam satu taruhan atas kepemilikan seorang pelayan.
__ADS_1
Tersenyum senang setelah satu poin status ketahanan alkohol di tingkatkan, kemenangan berhasil di raih dengan gemilang setelah 34 gelas bir sebesar dua kepalan tangan Rock Golem dihabiskan dengan selisih 8 gelas bir dari sang penantang.
" Nah, nah, nah, nah. Bola bulu milikku * hicks * ijinkan aku menikmati setiap bagian lembut dari tubuhmu yang indah itu " ucapnya yang mulai kehilangan kesadarannya disaat membawa pulan seorang pelayan demi human ke rumah singgah yang telah ditinggalkan semenjak kematian Ody dan Fuma.