
" Kaka? Apakah benar ini adalah desanya? " tanya Vida pada Rose yang terdiam ketika melihat sebuah kota yang porak-poranda akibat sesuatu yang tidak diketahuinya.
Melanjutkan langakah kakinya setelah beberapa ingatan samar dari Ezra memberikan informasi lebih tentang desa yang ada dihadapannya membuatnya yakin bahwa desa itu adalah desa yang menjadi tempatnya bekerja.
" Lahan pertanian Tuan Dena, tambak ikan Tuan Make dan Bar sederhana milik Nona Rosela. " ucapnya menyebutkan setiap tempat yang pernah dikunjunginya meski harus menahan sejenak ucapannya pada nama tempat yang serupa dengan namanya.
Meski heran dengan keadaan kota yang hancur di mana-mana, beberapa penduduk yang terlihat nampak begitu biasa seolah hal yang terjadi pernah terjadi sebelumnya.
" Ize? [ Nh, Tidak. Mana mungkin dia adalah Ize yang itu. ] " ucap seorang pria berandalan yang berpapasan dengan Rose dan Vira.
Memastikan kembali bahwa dirinya tidak salah orang, pria berandalan itu kembali melihat ke arah Rose dan membandingkannya dengan Ezra yang dirinya kenal sebelum memutuskan mengabaikan sosok yang serupa itu.
" Tidak mungkin kan!! Izera! Kamu Izera kan! da--dan kamu, Elisa kan! " ucap seorang perempuan dewasa muda yang menghampiri keduanya ketika beristirahat diatas bangku tempat pos pemeriksaan berada.
Melihat beberapa kesamaan pada sosok yang ada dihadapannya dengan sosok baik yang ada dalam ingatan Ezra membuatnya mengucap sebuah nama tanpa disadari olehnya.
" Hm, em. [Jadi dia adalah Ka Rola?] " ucap Vira yang terpukau atas kecantikan sosok Rola.
Dengan tubuh tinggi ramping dan wajah turus rupawan, penampilan Rola memang diakui banyak orang.
" [ Bunga Jelita Desa Atia ] " ucapnya menahan tawa ketika melihat satu gelar pada Rola.
__ADS_1
" Nh, mh. Maaf jika penampilanku nampak kacau dari sebelumnya. " ucap Rola sembari merapikan lipatan bajunya setelah melihat Rose mengalihkan pandangannya dengan sebuah tawa samar di wajahnya.
Duduk bersama sembari menjelaskan musibah yang menimpa desa memberikan Rose satu gambaran mengenai tingkat pertahanan desa yang masih rendah serta kurangnya petugas keamanan di sana.
" Memang aku mengakui bahwa desa ini adalah desa yang damai dengan masalah yang dapat diselesaikan melalui musyawarah desa. Namun apa salahnya meminta bantuan pada para petualang jikalau desa benar-benar terancam?" ucap Rola sembari menggambarkan suasana desa tempatnya berada sebelum masuk ke inti masalah yang dihadapinya.
Mendengar fakta bahwa beberapa waktu sebelumnya pernah tersebar rumor bahwa beberapa pemuda kehilangan nyawa akibat sesuatu yang tidak diketahui, Rose sempat berfikiran bahwa para pemuda itu merupakan pemuda yang menjadi biang masalah kematian Ezra.
" Meski demikian, kamu harus tetap bersyukur atas apa yang masih kamu miliki saat ini, Rola. Tidak sepertiku yang kehilangan kedua orang tua di depan mata dan harus berusaha keras untuk melindungi masa depan Vira. " Balas Rose setelah Rola merasa putus asa akibat sepeninggalnya sosok ayahnya akibat serangan monster sebelumnya.
Menahan diri untuk tidak memeluk Rola yang menangis pada bahunya membuat Vira merasa penasaran atas apa yang terjadi setelah kembali membawa beberapa kudapan untuk kakaknya.
" Tapi ya, kamu benar. Aku harus mensyukuri apa yang ada dan berjuang sekuat tenaga untuk membahagiakan ibuku satu-satunya. " ucapnya menghapus air mata sebelum mengukir keceriaan dalam wajahnya sendiri.
" Hey, Ize. Maaf jika ini terkesan mendadak dan tergesa-gesa. Namun aku perlu bantuanmu seperti biasanya. " ucap Rola dengan penampilan penjaga barnya yang kalang kabut mencari keberadaan Rose untuk membantunya mengurus bar sebagai kerja sambilan.
Mensyaratkan satu hal mengenai keberadaan Vira yang harus di ikit sertakan membuat Rola mengangguk dengan senyuman sebagai tanda persetujuan.
" Karena kamu masih perlu belajar banyak hal, kakak minta kepadamu untuk duduk tenang dan memperhatikan. " Nasehat Rose pada Vira yang begitu semangatnya ingin membantu Rose menyajikan sebuah pesanan.
Meski wajah kesal tanda kekecewaan sempat menampakkan diri pada Vira, Rose yang memberikan sedikit usapan lembut di kepala Vira membuat senyum ceria kembali seperti semula sebelum Vira duduk di samping Rola dan mengamati pekerjaan kakaknya.
__ADS_1
" [Baiklah, baiklah. Dilihat dari bentuknya saja, set masak itu termasuk pada perlengkapan tahap tiga. Yang berarti hasil masakannya akan berada posisi dasar hingga tingkat empat dan itu tidak akan membawa masalah untukku maupun mereka.] " gumamnya sembari mempersiapkan diri sebagai koki pengganti setelah mendengar kabar bahwa ibu dari Rola mengalami luka di bagian lengannya ketika ikut membantu perbaikan desa.
Mengambil nafas dalam sembari bersikap tenang untuk menyajikan makanan pesanan para pelanggan, beberapa pesanan yang telah tersaji membuatnya senang karena apa yang dirinya bayangkan bisa menjadi kenyataan dengan sistem yang secara spontan membantunya dalam proses pengolahan.
" Hey, Ka Rola. Bukankah Ka Ize sangat, sangat luar biasa? " ucap Vira dengan senangnya di saat melihat senyum kakaknya dari jendela yang membatasi ruang dapur dengan ruang kasir yang menjadi tempanya berada.
Pelanggan yang datang silih berganti mencicipi hidangan dari dirinya dan sempat mendengar beberapa pujian atas kehebatan memasaknya
" Tidak, tidak. Saya masih belum sebanding dengan beliau dan kebetulan karena saya selalu melihat cara memasak dari beliau, saya pun sempat melakukan beberapa percobaan sebelum akhirnya bisa membuat masakan seperti yang beliau buatkan. " balas Rose setelah merangkai sebuah kebohongan.
Canda tawa dari mereka yang memujinya terus terdengar hingga satu keributan muncul dan membuatnya bergegas mencari tahu apa yang menyebabkan keributan itu terjadi.
" Emh, tidak! Apa yang kalian katakan itu tidak benar! Masakan kakaku itu yang terbaik! " ucap Vira dengan tangis air mata ketika membela makanan kakaknya yang diejek dengan campuran dari sesuatu yang tidak seharusnya.
Datang dengan pelan sebelum menyapa biang masalah yang ada dihadapannya, Rose sempat memeluk Vira sesaat untuk menenangkannya sebelum mencari jalan tengah atas apa yang dipermasalahkan itu.
" Tutup mulutmu, dasar pengganti! " bentak pria berbadan besar hingga menjatuhkan makanan yang telah di sajikan.
Dengan wajah tenang dan ucapan sederhana yang keluar tidak lama setelahnya membuat sebuah keheningan sempat terjadi dalam suasana yang memanas itu.
" Seperti yang saya katakan sebelumnya. Jika kalian memang enggan untuk memakan makanan ini, kalian bisa pergi ke tempat lain untuk menemukan seperti apa selera yang kalian cari. " ucapnya mengulang dengan nada tegas lagi tatapan mata yang tajam.
__ADS_1
* dbraks, dbraks, dbraks * Beberapa pria besar lain datang seolah hendak membela kawannya dengan tatapan garang sebagai tanda ancaman.
" [ Nh, ya ampun. Orang-orang ini benar-benar membuatku enggan menahan diri kembali] " ucapnya dalam hati sembari menyiapkan satu aksi.