Fantasyum

Fantasyum
Bab 14.3


__ADS_3

Berdiri dihadapan dua gundukan tanah dalam area pemakaman kota, Rose mengucap beberapa kata sederhana sembari mengusap dua nisan yang ada sebelum pergi melewati Alruene maupun Merry.


" Tuan. Aku mohon. Jangan buang kami. " ucap Alruene dengan menyandangkan sebutan tuan untuk pertama kali.


Menarik nafas panjang dan menarik kedua tangan yang menahan sebelum membawa paksa dua tubuh itu dalam pelukan, Rose mendudukkan kedua pelayan itu di atas sebuah batuan yang tempatnya berada jauh dalam hutan.


" Maaf, karena aku melakukan kesalahan fatal dan membuat mereka kehilangan nyawa. " ucapnya lembut sebelum melepaskan pelukan.


Berdiri membelakangi mereka dengan memandang langit penuh kabut, Rose mulai bertanya beberapa hal mengenai apa yang mereka pikirkan tentang dirinya sebelum menanyakan apa keinginan terakhir mereka.


" Nh, ya. Jika saya tidak pernah bertemu dengan anda. Saya mungkin akan mengharapkan kematian yang tidak terlalu menyakitkan karena saya sendiri sudah enggan menjadi mainan para bangsawa. " ucap Merry tanpa keraguan setelah mengumpulkan keberanian.


" Namun, sama halnya yang pernah saya katakan sebelumnya pada anda. Saya merasa senang bisa bertemu anda dan merasakan berbagai hal yang lama hilang. Selain dari itupun saya. " lanjutnya dengan senyuman tangis air mata sebelum Rose datang dengan sebuah senjata.


* sbramshsss * Hantaman keras dari satu serangan yang Rose lakukan membuat kabut tebal diantara mereka mulai menghilang dan membuat mereka yang berada dalam keputusasaan melihat sosok lain dari seorang yang mereka sebut tuan.


" Aku tidak marah ataupun membenci kalian atas kematian Fuma maupub Ody karena aku sendiri sudah berniat untuk mengorbankan kalian demi mendapatkan apa yang aku inginkan " ucapnya pelan dengan mencengkram bahu Alruene dengan separuh tangannya yang serupa iblis itu.


Melanjutkan penjelasannya mengenai sihir yang bertujuan untuk menghilangkan status hina dalam diri mereka yang harus dilakukan setelah memenuhi beberapa syarat yang ada, dia mulai tertawa disaat kedua pelayan selain mereka telah tiada sebelum itu terjadi dengan memberikan kesan lain dalam diri.

__ADS_1


" Bisa dikatakan bahwa itu adalah kegoisanku sendiri dan mengenai apa yang terjadi pun tidak sesuai prediksi. " Lanjutnya dengan mengungkapkan satu hukum sederhana.


Mendengar sebuah hal tabu yang menyatakan bahwa para pelayan akan tetap bangkit dari kematian selama tuannya masih hidup dengan aman maupun jauh dari ancaman sabit kematian.


" Tapi nyatanya dunia sudah berbeda. Kontrak darah satu jiwa sudah menghilang dari peradaban dan hanya menyisakan satu kontrak sederhana yang bahkan * gsrings * dapat dipatahkan dengan mudahnya. " lanjutnya sebelum melepas belenggu astral pada leher mereka dan membuat mereka terbebas dari status pelayannya.


Berjalan pergi dari tempatnya berada dan meninggalkan mereka untuk memilih jalan hidupnya sendiri, suara langkah kaki mulai terdengar mengiringi.


" Kalian sudah bebas. Kalian sudah memiliki rumah tempat tinggal maupun uang untuk melanjutkan kehidupan dan lagi, kalian sudah memiliki pekerjaan pasti untuk memulai kehidupan normal kembali. Tapi, kenapa? Kalian masih tetap datang kemari? " ucap Rose dengan pelan disaat melihat Merry maupun Alruene yang kembali datang menemui disaat Rose tengah menghabiskan hari bersama Rola dan Vira.


Memeluk erat kedua lengan Rose dengan segera dan mengatakan keinginan mereka untuk tetap bersama dirinya meski harus menjadi selir maupun istri ke dua atau ketiga membuatnya kehabisan kata disaat beberapa penduduk kota menatapnya dengan hina dan membuat Rola segera meledakkan amarahnya.


Memandang wajah satu sama lain ketika Rose nampak mengatakan kebenaran atas apa yang terjadi, Alruene dan Merry bangkit dari tempatnya berada sebelum mengejar Rola yang malu atas imajinasi bodohnya selama ini.


" Nh, Kaka? Apa yang terjadi barusan? " ucap Vira dengan wajah polosnya ketika beberapa kakak cantik yang dirinya kenal pergi dengan tergesa-gesa meninggalkan kakaknya


Mengambil satu kudapan yang ada dalam kantung makanan Vira sebelum mengatakan bahwa itu adalah urusan orang dewasa, Rose membawa Vira kembali menikmati sisa harinya dengan mengelilingi kota dan mengunjungi tempat-tempat menarik yang membuatnya senang lagi bahagia.


" [ A!!! Betapa malunya diriku!! ]" Teriaknya berulang sepanjang pelarian sembari berharap bahwa dia bisa mengulang waktu dan tidak mengatakan hal memalukan itu.

__ADS_1


Membenturkan kepalanya beberapa kali ke sebuah pohon sebelum terduduk diam penuh depresi sembari memikirkan cara mengatasi kesalahpahaman yang terjadi, Alruene dan Merry yang sedari tadi berjalan mengikuti mulai ikut duduk mengapit Rola dan memberinya sedikit waktu sebelum mulai mengakrabkan diri kembali.


" Hoyah, sepertinya apa yang aku khawatirkan tidak terjadi pada mereka dan yah. Semoga hubungan baik itu akan selalu terjaga diantara mereka. " gumamnya sembari melahap satu kudapan lain disaat melihat Merry, Alruene dan Rola tengah bercanda tawa melewati toko makanan ringan tempatnya berada bersama Vira.


Menutup kedua mata Vira dengan segera ketika melihat ketiga perempuan itu tengah menunggunya di depan pintu masuk rumah berbalut pakaian terbuka tanpa rasa malu atas tatapan busuk pria yang berlalu, Rose menundukkan kepala dengan menutupi pandangan malunya atas sikap berlebihan dari mereka sebelum masuk dan mengacuhkan keberadaan mereka.


" Maaf. Rumah makan ini akan tutup untuk sementara waktu dan akan di buka kembali setelah kalian menyadari kesalahan kalian sendiri. Terima kasih. " ucapnya dengan ramah sebelum menutup pintu utama itu dengan keras.


Kembali memandang satu sama lain sebelum menggedor-gedorkan pintu utama itu sembari memohon untuk diberikan waktu agar bisa masuk ke dalam rumah dan menjelaskan apa yang mereka inginkan, beberapa pria busuk mulai mendekat lagi menggoda mereka di bawah langit senja hingga malam tiba.


" Apakah kalian sudah puas menghajar mereka? " ucap Rose yang bersandar di pintu utama yang terbuka setelah menanti mereka yang sibuk mengadu kekuatan dengan pria busuk yang terus berdatangan.


* stumped, stumped, stumped * Beberapa pukulan lembut mulai mendarat di kepala mereka bertiga sebelum Rose meminta mereka pergi masuk kedalam rumah dan menyerahkan sisa keributan itu kepadanya


* Jlegeeeerrrsssss * Sambaran petir begitu jelas terdengar tidak lama setelah mereka masuk membasuh diri seperti yang Rose minta hingga membuat mereka terkejut dengan Rose yang kembali masuk ke dalam rumah dengan beberapa kantong koin hasil pertarungan.


" Hey, jangan menatapku dengan tatapan semacam itu. Cepatlah kalian pergi merapikan diri sebelum aku kehilangan niatan untuk mendengar penjelasan yang sangat ingin kalian katakan. " ucapnya dengan tatapan intimidasi pada mereka yang masih terpaku diam tanpa kata


* gbrags * " Kyaa!!! " Teriak mereka bertiga setelah Rose menghantamkan pukulannya pada satu meja dan membuat mereka segera meninggalkan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2