
" Catatan ke 18. Setelah 2 bulan berlalu semenjak kelahiran Queenela, beberapa gen yang tertanam dalam dirinya mulai menampakkan diri. " gumamnya dalam kesendirian sembari melihat Queenela yang bermain dengan familia dalam wujud lebah merah bertipe mecha serupa drone pengawas dengan sebuah gatling canon di bagian sengat ekornya.
Meminta Queenela untuk menguji kekuatan dirinya sebagai hit point untuk memicu kekuatan lain dalam dirinya, raut wajah takut mulai di tunjukkan Queenela sebagai wujud dari rasa enggannnya melawan sosok baik dihadapannya.
" Tidak perlu merasa takut atas hal itu, Ela. Anggap saja bahwa sekarang kita tengah melakukan satu permainan. " balasnya menenangkan.
Mengalihkan pandangan beberapa kali ke arah berbeda dari wajah Rose, Queenela yang semula merasa ragu mulai bersiap diri untuk menyerang tubuh Rose dengan segenap hatinya.
* Sdramss!!* Hantaman keras dari pedang Altaira yang beradu keras dengan perisai Sasya menimbulkan goncangan hebat beserta gelombang kejut yang hampir menghempaskan mereka yang menonton latih tanding diantara keduanya jikalau Alruene tidak memberikan penganan dalam zona pertarungan itu.
Memperhatikan dengan seksama pola pertahanan maupun pola serangan diantara keduanya sembari menguatkan diri untuk tetap melihat pertarungan itu sampai pada batasan diri, suara lembut dari kakaknya kembali terdengar meminta Vira untuk mengadu kekuatan dengan mereka di kala dentuman keras terus berulang.
" Ka Eugene, bolehkah a--aku belajar bertarung seperti mereka? " ucap Vira di pagi nan sunyi beberapa saat sebelum melihat para remaja yang dilatih Altaira mulai menata diri untuk pelatihan rutin dalam area yang sebenarnya.
Mengusap dada dalam kekhawatiran mulai membuat Merry dan Sasya yang sudah mengemasi perlengkapan dalam penyelesaian misi merasa curiga dan meminta Alruene segera bergegas kembali pada mereka.
" He,em. Tidak apa ka. Jikalau sekarang bukan waktunya pun, aku akan menunggu di lain waktu [ atau di lain hari, mungkin] hehe. " ucapnya sembari melihat Alruene pergi tanpa menunggunya menyelesaikan permintaannya.
__ADS_1
Mendorong tubuh Vira yang masih lesu di depan gerbang mansion dengan sengaja, anak-anak yang biasanya menjadi teman bermain Vira mulai memintanya untuk kembali ceria dan bermain bersama mereka setelah kekhawatiran dalam hati dari mereka di ucapkan oleh seorang anak perempuan diantara mereka dengan nada sedih atas keseharian barunya.
" Hehe, baiklah baik. Aku akan menemani kalian sampai waktu makan siang tiba, ya. Hehehe. " balasnya dengan ceria sembari menggandeng tangan beberapa anak perempuan untuk mengikuti anak laki-laki yang berlari memandu jalan menuju taman.
Melihat kebersamaan dari Vira yang kembali menampakkan kesetiaannya, perasaan sakit yang amat dalam begitu terasa dalam dada Rola yang sempat teringat perkataan dari penjaga teritorial yang membuat Vira harus menanggung beban berat setelah kepergian Ezra.
" Nh, tidak apa Ela. Aku sungguh baik-baik saja. " ucap Rose sembari menunjukkan kemampuan regenerasi yang dimiliki begitu Queenela berhasil memotong salah satu bagian dari tubuhnya.
Mengusap secara pelan bagian tubuh yang sempat terpotong dalam perasaan takut, khawatir serta perasaan lain dalam diri yang bercampur di waktu yang bersamaan itu, buih cahaya perlahan muncul dihadapan dirinya bersama tubuh dari sosok yang dianggapnya sebagai ayah mulai memudar bersama buih cahaya yang semakin bertambah jumlahnya.
Menyentil dahi dari Queenela setelah beberapa kali gagal menenangkan dirinya, teriakan keras dari Queenela yang kesakitan perlahan terdengar tidak lama sebelum keheningan muncul diantara mereka bersama wajah bingung dari Queenela yang sangat terkejut bahwa ayahnya masih ada dihadapannya.
" Ayah!!! " Teriaknya kembali sembari mendorong jatuh Rose dalam pelukannya yang disertai tangis bahagia.
Menyerah dengan usahanya yang nampak sia-sia untuk menenangkan Queenela, usapan lembut di bagian kepala menjadi hal terakhir yang dirinya lakukan sebelum memasrahkan diri mendengar tangisan Queenela untuk waktu yang lama.
" He, em. Begini, ya. Ka Ize tengah sibuk dengan tugasnya sebagai pilar ke empat dan karena tugas-tugas itu menumpuk seperti gunung di mana-mana. Ka Ize jadi jarang menampakkan dirinya dan bermain bersama kita seperti sebelumnya. " ucap Vira merangkai kebohongan untuk mencoba membuat anak-anak itu percaya bahwa kakaknya masih ada dalam ruang kerjanya.
__ADS_1
Membacakan beberapa buku cerita serta bermain dalam canda dan tawa, bayangan dari kakaknya yang selalu tertidur pulas di kursi goyang dalam sudut ruang permainan kembali membawa kesedihan tersendiri dalam diri sebelum mencoba tegar menghadapi setelah salah satu anak yang terbaring dalam pangkuannya bertanya atas sebab dari air mata yang membasahi pipinya.
" [ Selain dari sub gen Iblis 3 saudara, Mecha dan Insecta pada gen utama, kemampuan skill yang sempat aku lihat dalam pohon kemampuan miliknya itu seharusnya menampakkan secara jelas bahwa kemampuan khusus pemanggilan dari garis gen utama dan tubuh mecha sebagai pasif unik atas eksistensi diri serta sub gen skill lain semacam literasi, necromance, faith, absolut command, bersaker, ashura, minestra, dan kharastra, dalam sub gen yang dimiliki. Aku pikir, kekuatan ataupun skill miliknya akan terkesan normal dan sama seperti yang aku perkirakan, namu kehadiran limited breaker of soul dan eye of fortune adalah bonus skill yang luar biasa. ] " pikirnya dalam diam sembari memeluk erat tubuh Queenela sesuai permintaan darinya sebelumnya sampai Queenela terlelap dalam tidurnya.
" [ Namun mendengar ucapannya barusan mengenai bayangan tabu atas kematian, mungkin satu skill dari bonus misterius itu adalah penglihatan masa depan atau skill khusus semacam ramalan yang mampu membuatnya tahu atas apa yang akan terjadi dalam waktu mendatang.] " lanjutnya setelah mengingat beberapa skill khusus dari teman ataupun musuh dalam wujud npc sebelum kembali meminta Queenela mengatakan apa yang dilihatnya sebelumnya.
Menggenggam erat empat telapak tangan Queenela dengan empat tangan yang diciptakan oleh sihir miliknya, Queenela yang semakin merasa takut atas masa depan yang dilihatnya kembali menenggelamkan kepalanya dalam pelukan Rose sebelum Gaia muncul dan mengubah gambaran masa depan yang dilihatnya.
" Nh, iya. Ini pertama kalinya kamu melihat Aia, yah." ucap Rose sembari meminta Queenela memberikan salam pada Gaia ketika bersembunyi dengan malu di balik tubuh Rose.
Dengan aksen dingin terhadap keberadaan Queenela, Gaia hanya menyapa dengan ganggukan kepala sebelum meminta Rose mengikutinya.
" Tidak, ayah. Jangan pergi! " ucap Queenela sembari menahan tubuh Rose dengan alasan bahwa dirinya enggan menjauh darinya ataupun dekat dengan sosok Gaia.
Menahan tawa atas sikap Queenela yang kesulitan untuk mengutarakan apa yang diinginkan karena terhalang rasa takut atas masa depan, Rose kembali mengucapkan kata untuk menenangkan sembari meminta Queenela untuk berhenti bersikap berlebihan.
" Baiklah, Ela. Bagaimana dengan sekarang ? Apakah kekhawatiran dalam dirimu mulai mereda ?" ucap Rose dalam wujud gabungan dengan tubuh Gaia yang menunjukkan separuh tubuh dari Rose yang nampak normal di sisi kanan dan sosok dari Gaia yang terbentuk dari berbagai akar tanaman di tubuh kirinya.
__ADS_1