Fantasyum

Fantasyum
Bab 10.5


__ADS_3

" Hey, nak. Besar juga nyalimu untuk berkata hal semacam itu kepada rekan kami. " ucap salah seorang pria yang nampak garang sembari merangkulkan lengannya yang berotot itu ke sosok pembawa keributan sebelumnya.


" He, em. Ya, tentu. Apakah ada yang salah dengan ucapanku? Jika memang makanan ini tidak cukup layak untuk dimakan oleh kalian, bukankah lebih baik jika kalian mencari tempat makan yang lebih baik? " balasnya kembali menegaskan tanpa rasa takut ataupun tubuh yang gemetaran.


Ketegangan yang ada semakin menjadi dikala pihak dari biang keladi itu semakin terpojok atas ucapan Rose yang berdasar pada fakta maupun dukungan warga desa yang kebetulan ada di sana.


" Baiklah, jika kalian memang ingin melakukan hal buruk terhadapku maupun Rola yang baru kehilangan ayahnya. " ucap Rose sembari melepaskan pakaiannya untuk menyanggupi tantangan dari para pembawa masalah yang ada dihadapannya.


Melihat sebuah tubuh yang begitu sempurna dengan guratan luka di beberapa bagian tubuh berototnya membuat ciut nyali seorang pria berandalan yang ada dalam kelompok mereka.


" Sebagai pihak tertantang, aku mensyaratkan satu hal. Jika aku menang, maka kalian harus menjadi pekerja di tempat ini. " ucapnya dengan memprovokasi sebelum mengepalkan tangannya dengan penuh emosi.


Gelak tawa dari mereka yang begitu meremehkan hanya menyanggupinya dengan anggukan kepala sementara yang lain hanya mengacuhkannya sembari berkata bahwa mereka lebih memilih mati dari pada harus menjadi pelayan di tempatnya bekerja.


* gsriiingsss, swungs swungs swungs, dbraks * Beberapa senjata besar serupa belati ganda, sabit petarung dengan rantai berduri dan gada besar morning glory mulai menampakkan diri sebagai senjata untuk menghabisi.


" Tch. [ Aku harus bertindak secepat mungkin untuk menyelesaikan masalah ini dan tetap meminimalkan dampak serangan yang berpotensi merusak tempat ini.] " gumamnya sembari memilih satu senjata setelah beberapa pelanggan yang tersisa memilih untuk pergi meninggalkan Bar Rosela.


Berjalan dengan perlahan sembari menerima setiap senjata yang ada pada tubuhnya membuat mereka yang menantang dirinya mulai ketakutan ketika senjata yang seharusnya memberikan luka itu hanya terpental penuh penyokkan disaat mengenai tubuh Rose yang hanya memakai sebuah clana pendek penutup bagian bawah tubuhnya.


* strumbs * " Yang aku dengar sebelumnya, kamu lebih memilih mati dari pada harus bekerja di sini, bukan? " ucapnya dengan lirih sembari mencengkaram erat kepala dari sosok brandalan yang begitu meremehkan sebelum mematahkan lingkar lehernya dalam satu serangan fatal

__ADS_1


Melihat tubuh rekannya jatuh tanpa kepala dengan darah yang mengalir ke seluruh area membuat mereka yang tersisa berteriak meminta pertolongan para penjaga maupun Rola yang bersembunyi di lantai ke dua.


" Maaf, saja. Dengan adanya perisai bariarel yang kasat mata, mereka tidak dapat mendengar apapun yang akan terjadi di tempat ini. " ucapnya setelah menjatuhkan kepala yang sempat berada dalam genggaman tangannya.


Dengan lambang runera pada mata kanan yang kembali bercahaya, kedua sosok biang masalah yang ada dihadapannya terdiam seketika dan terjatuh tidak lama setelahnya dengan kesadaran yang hilang sepenuhnya.


* gbyars * siraman air dingin di pagi buta menyadarkan mereka dengan amarah yang kembali menggelora


Melihat tatapan yang sama seperti malam sebelumnya serta tubuh rekannya yang nampak kembali seperti semula, membuat ciut nyali yang berapi itu sebelum bersumpah kepada Rose bahwa mereka akan menjadi pelayannya yang setia.


" Baiklah jika kalian sudah menyadari perbedaan yang ada. " ucapnya dengan sebuah tawa sebelum memberikan satu tugas pertama bagi mereka.


" Kamu tidak perlu khawatir, Rola. Mereka akan bekerja di sini seperti perjanjian yang telah mereka ucapkan sendiri dan lagi mereka hanya akan menerima makanan sebagai gaji. " ucapnya dengan senyuman setelah menepuk Rola dengan pelan sembari menceritakan apa yang telah di sepakati.


Sempat merasa bingung atas kedatangan dua orang pria besar dengan pakaian vulgar layaknya wanita, Rola sempat menahan tawanya dikala Rose mengatakan bahwa mereka akan menjadi pelayan di tempat usahanya sebagai ganti atas kebebasan mereka atas hukuman dari status pelayan yang hina.


" Untuk sekarang, kalian bisa tinggal untuk sementara waktu di tempat ini dengan semua pakaian ganti yang aku bawa ini. " ucap Rose sembari menunjukkan rumah bobrok yang semula dirinya tempati sebelum menyerahkan beberapa pakaian ganti serta makanan yang telah di hangatkan kembali.


" Dan ingatlah untuk tidak melanggar sumpah maupun janji yang telah kalian sanggupi, atau hal buruk akan menghampiri. " lanjutnya sebelum melangkah pergi sembari mengingatkan waktu buka toko yang di tandai dengan tenggelamnya mata hari.


Datang di waktu yang dijanjikan sembari memakai busana butler yang begitu pas di badan, membuat para pelanggan Bar Rosela yang selalu datang di waktu pembukaan nampak terkejut atas kedatangan keduanya.

__ADS_1


" Hm, Ya. Narlak dan Gus akan menjadi pelayan suka rela sebagai ganti rugi atas keributan sebelumnya. " ucap Rose sembari mengusap sebuah gelas kayu dikala Vira memarahi kedua pria yang menjadi biang masalah sebelumnya.


Dengan menundukkan kepala lagi bertunduk hormat di hadapan Vira yang masih menampakkan amarahnya, Rola dan Rose datang di waktu bersamaan ketika Vira ingin menjejakkan kaki kecilnya di atas kepala plontos milik Narlak.


" Kami berdua sungguh minta maaf! " ucap Narlak dan Gus sembari mengatakan alasan mengapa mereka membuat keributan sebelumnya.


Baik Rola maupun Rose hanya terdiam dalam satu pandangan sebelum menanggapi ucapan mereka bahwa dirinya tidak merasa keberatan jikalau Rose memang memiliki kemampuan memasak yang mampu mengingatkan mereka pada sosok ayahnya.


" Hey, ano. Ka Narlak, Ka Gus, aku mohon maaf atas sikap burukku sebelumnya. " ucap Vira yang tiba-tiba mendekati Narlak dan Gus bersama dengan kedua tangan yang di sandangkan kepada mereka yang nampak kelelahan setelah keramaian mereda.


Melihat kesadaran adiknya atas satu kesalahan setelah nasehat panjang yang Rola berikan, Rose sempat melempar canda gurau pada Rola mengenai perkembangan adiknya.


" Mungkin disaatnya nanti, kamu akan menjadi sosok ibu yang baik hati. " ucapan Rose yang terngiang dalam diri Rola membuatnya sempat bertingkah tidak biasa pada pelanggan terakhir yang membayar makanannya.


Menutup pintu dan membalik tanda buka ke tutup pada pintu toko sebelum membagi hasil pendapatan hari itu, Narlak dan Gus tidak menduga bahwa mereka akan mendapatkan satu kantong berisi makanan dan uang jatah bayaran dari sosok yang sempat mereka rendahkan.


" He, em. Tidak apa. Kalian bisa mengambil kedua benda itu dan menganggapnya sebagai imbalan dari kerja keras kalian. " ucap Rose menegaskan bahwa apa yang diucap bukanlah candaan.


" Dan lagi, dengan adanya pemberian itu pun. Aku berharap bahwa mereka dapat kembali ke arah kebaikan dan menjauhi keburukan. " lanjutnya setelah membiarkan kedua sosok itu pulang ke rumah tempat tinggalnya.


Mematikan lampu setelah menggendong tubuh Vira yang telah lelap dalam tidurnya di atas meja, sempat terlintas sebuah keinginan untuk mendekatkan diri dengan Rose seperti yang ibunya minta.

__ADS_1


__ADS_2