Fantasyum

Fantasyum
Bab 25.2


__ADS_3

" Nh, senang berkenalan denganmu juga, Erin. " ucapnya menyalami tangan sang nona yang terbalut kantung tangan putih transparan yang kontras dengan gaun biru kehitaman yang cukup longgar serta hiasan kepala berbentuk pin manusia salju yang senada dengan warna rambutnya.


Tersenyum senang sebelum kembali menyembunyikan diri di balik pelayannya yang busana pelayan pada umumnya dengan warna senada dengan sang nona nampak membuat mereka hampir sama layaknya saudara meski warna biru lebih pekat pada sang pelayan.


" Oh, Nona Vira. Maafkan sikap buruk dari Nona Erin, ya. Meski dia terlihat seperti itu, dia sebenarnya sangat senang atas sapaan anda. " balas pelayan itu sebelum pukulan kecil mendarat pada punggungnya akibat Erin yang merasa marah pada pelayannya.


Menunjukkan tawa manisnya sebelum meminta maaf atas keterlambatan diri untuk mengenalkan Mina yang nampak menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu terhadap wajah gemas dari Erin.


" He,em. Secara sederhana bisa dikatakan bahwa Mina bukanlah pelayan pada umumnya karena Mina sendiri sudah singgah dalam kediaman kami cukup lama dan mungkin kata " Saudara " lebih tepat digunakan dari pada kata yang anda ucapkan sebelumnya. " lanjut Vira menggambarkan hubungan antara dirinya dengan Mina yang cukup memusingkan kepala sebelum mengingat ucapan kakaknya yang selalu meminta dirinya menganggap Mina ataupun para penghuni mansion lainnya sebagai saudaranya.


* Dbramssss * dentuman keras terjadi di depan gerbang sekolah dan membuat mereka yang sedari awal menunggu di tempat itu segera menuju pusat suara dengan harapan ada penjelasan atas situasi yang membuat mereka lama menunggu gerbang itu di buka.


" Grrrryah! Padahal aku kira sudah terlambat untuk masuk kedalam sana. Tapi sepertinya aku salah mengira ya? Hahahaha! " gelak tawa Viro yang tiba-tiba jatuh ke tempatnya berada saat ini sebelum mendengar ucap kekesalan para murid dan pelayannya.


Mengeluarkan teknik shigi untuk memberikan jarak aman diantara mereka yang tiba-tiba gaduh dan menerjang dirinya, suara angin dalam keheningan nampak jelas terdengar bersama mereka yang hanya bisa terdiam gemetaran atas perilaku kasar dari sosok demi human ras Srigala dengan seragam serupa para murid namun terdapat ukiran dua garis yang berjejer sama panjang dengan nomor 367 di bagian lengan kanannya.

__ADS_1


" Nh ? Ka Lia ? Apakah kakak baru bangun dan segera pergi ke tempat ini tanpa mandi terlebih dahulu ? " bisik Vira pada Viro yang segera menyapa diri di saat keheningan membuatnya merasa tidak nyaman.


Menutup mulut Vira dengan segera sembari memastikan bahwa tidak ada orang lain yang mendengar ucapannya, Viro mulai melepaskan Vira setelah mendengar masalah gerbang sekolah yang tidak kunjung terbuka.


" [ Apakah mereka semua itu bodoh ? ] " pikirnya sesaat ketika melihat keberagaman pakaian yang dikenakan mereka yang berada di sekitar area sebelum berbalik kembali menatap Vira.


" [ Mhn, yah. Untuk Vira sendiri si bisa aku maklumi karena surat undangannya hanya menyisakan nama depannya.] " lanjutnya melihat potongan kertas yang di tempelkan di bagian kanan atas saku seragam berdasar warna putih ke tanpa noda.


" [ Argh! ya ampun. Bukan hanya tidak memakai pakaian yang seharusnya, mereka juga tidak menempelkan tanda pengenal mereka dari undangan ] * seplaks* [ Dan lagi kan, sudah dituliskan secara jelas bahwa kamar asrama berjarak 4 km ke arah tenggara dari gerbang utama! ] " lanjutnya dengan kesal sebelum berjalan kesana-kemari tanpa tujuan ketika menyadari kebodohan yang mereka lakukan.


" Terima kasih, Ka Viola ! Jangan lupa bertemu kepala sekolah atas keterlambatan kakak ya! " Teriak perempuan itu pada Viro sebelum menuju gerbang utama dan melewatinya begitu saja.


Merasa dipermainkan oleh sekolah sihir yang ada dihadapan mereka, beberapa tuan dan pelayan langsung mencoba melewati gerbang kokoh itu dan terpental cukup jauh setelahnya dengan luka bakar diantara tubuh mereka.


" Ah, aku lupa. Kepala sekolah mengatakan bahwa dia sudah paham situasinya jadi ini adalah surat undangan pengganti dari surat undanganmu sebelumnya. Dan yah, pastikan bahwa kamu tidak merusaknya lagi yah? karena bagaimanapun juga, selain dari seragam pelindung ini, kartu itu adalah bukti tanda masukmu sebagai murid baru di sini. " ucap perempuan sebelumnya sembari memberikan kartu undangan milik Vira dan setelahnya kembali ke masuk melewati gerbang yang di susul Viro setelahnya.

__ADS_1


Membaca jelas isi dari undangan yang lebih lengkap dari sebelumnya, cahaya kuning keemasan mulai muncul dari kertas undangan yang di baca dan menunjukkan angka 437 yang serupa pada bagian penanda lengan kanannya.


* Bleziiiiingssss* pilar cahya kembali membumbung tinggi ke angkasa bersama lenyapnya sosok Vira yang berniat memasuki gerbang sekolah.


" Salam, nona muda. Kami adalah penguji yang akan menguji kelayakanmu untuk berada di satuan sekolah sihir Platina ini. " ucap seorang berjubah putih yang senada dengan asesoris berupa cadar yang menutup identitas asli sosok itu.


Memberikan salam hormat seperti yang diajarkan Vi dalam pelatihan etika dan tingkah laku di dua hari terakhir sebelum benar-benar berada di tempatnya saat ini, sosok berjubah putih, hitam, merah dan ungu terus mengajukan pertanyaan sederhana mengenai asal muasal dirinya dan keinginan macan apa yang membuatnya berniat masuk menjadi murid di sekolah sihir bergengsi ini.


" Ah, maaf. Selain dari ketertarikan saya terhadap instrumen dasar sihir yang di sebut sebagai Runera, tujuan utama saya belajar di sini adalah belajar berbagai macam sihir dan keterampilan. Meskipun pada dasarnya saya berniat mempelajari sebuah sihir tingkat tinggi yang mampu membebaskan kakakku. " balas Vira menyanggah ucapan salah satu dari sosok berjubah yang memancing rasa penasaran dirinya terhadap instrumen dasar sihir atau Runera.


Menjelaskan hal yang tidak dirinya ketahui mengenai kondisi kakaknya yang tiba-tiba terbelenggu dalam kristal sihir raksasa sembari meyakini bahwa kakaknya akan kembali bangkit dan menemani dirinya, salah seorang dari sosok yang ada dihadapan Vira mulai menyadari bahwa Vira adalah salah satu murid yang Airina katakan sebagai sosok adik dari tuan mereka.


" Baiklah, nona muda. Secara resmi kami sampaikan bahwa anda adalah bagian keluarga baru dari sekolah sihir bergengsi ini. " ucap sosok berjubah putih yang bersama dengan itu memberikan cincin perak berisikan nomor 475 yang sama seperti nomor penanda pada lengan kanan seragamnya.


Menyapa kembali Mina yang nampak putus asa dihadapan gerbang sekolah dengan banyak luka, senyum senang nampak kembali terlihat di wajah Mina yang setelahnya menangis bahagia atas kondisi Vira yang nampak ceria seperti biasanya.

__ADS_1


" Hehe. maafkan aku, ya. Aku sendiri tidak tahu bahwa hal ini akan terjadi. Tapi, yah. Aku berhasil menjadi bagian dari sekolah ini dan dari apa yang para penguji itu katakan, kamu bisa ikut masuk bersamaku di lain kesempatan. " lanjutnya menenangkan Mina sebelum mengatakan apa yang terjadi pada dirinya dan alasan Mina tidak diijinkan masuk ke dalam area sekolah barunya.


__ADS_2