Fantasyum

Fantasyum
Bab 8.4


__ADS_3

*Sdruuuuuuuuuuums sgrigs sgrigs sgrigs stratataps bsiiings * Hembusan angin yang begitu kuat mulai menghempaskan segala sesuatu di sekitarnya ketika Airi mulai mendaratkan diri di satu bukit dengan full set armor mecha kelabu bersenjatakan drone partical canon lengkap dengan beberapa pedang ringan yang menyatu pada pesawat sihir serupa sayap hitam nan pekat.


Menyadari satu kendali khusus pada perubahan Airina membuat Rose teringat mengenai sosok Iris yang kemungkinan besar memiliki masalah pada proses penyatuan mecha suit maupun opsi pengendali mengingat bahwa Iris tidak pernah mengetahui bahwa ada kemampuan khusus yang bersemayam dalam tubuhnya.


" M~, nah. Aku yakin pasti dirinya bisa memahami setiap fungsi mecha suit itu dengan sendiri nya, nanti. " gumamnya setelah melihat perubahan bentuk dari Airi yang kembali ke bentuk awal serta melihat kilau emas dari lautan awan ketika mentari hendak kembali dalam peraduan


Membuka opsi map dalam layar yang kasat sembari memastikan posisi dari mereka saat ini, Rose mengajak Vi dan Airin untuk bermalam di salah satu pedesaan di kaki bukit sembari memuat ulang persediaan.


* gbrags, Dbugsss * " Oh, Astagah. Meski sudah berulang kali aku mencoba mengendalikannya, aku masih saja gagal dan mendapatkan begitu banyak luka. " gumam Iris di depan pintu yang terbuka sembari mengingat masalah pengendalian mecha suit yang membuat tubuhnya dipenuhi dengan luka.


Berjalan mendekati Iris dengan sebuah kain kering serta ember berisi air, Lilis menyambut sosok Iris yang masih terbaring malas dihadapan pintu sebelum memintanya membasuh diri.


" Sejauh yang aku tahu, menarik jarak yang tidak terlalu jauh dari tempat itu. Seharusnya tidak ada desa maupun kota penyangga di sekitar sini. [ Namun jika memikirkan perubahan yang ada, mungkin beberapa desa kecil ini mulai muncul sebagai pusat komunitas dari beberapa kota penyangga seperti kota sebelumnya.] " balas Rose membalas pertanyaan dari Airin yang merasa asing saat menjejaki desa itu disaat mengingat kembali perjalanannya bersama Rose ke setiap penjuru negri.


" Hem, hem. Mungkin seperti yang Vi katakan tadi, Airi. Waktu telah berlalu dan merubah beberapa hal yang kita tahu. " lanjutnya setelah menelan makanan khas desa itu sembari memandang langit malam tanpa bintang.


Membayar sedikit informasi mengenai apa yang dirinya inginkan pada beberapa penduduk lokal seperti para penjaga kota maupun pedagang jalanan, kekecewaan timbul ketika informasi mengenai keberadaan dari tempat tujuannya sudah lama di lupakan.


" Selamat siang, tuan. Aku dengar anda bisa memberikan kami banyak uang mengenai informasi yang dapat kemi berikan. " sapa seorang petualang sembari menawarkan apa yang dirinya miliki terkait informasi yang Rose inginkan

__ADS_1


" Akh, Benar. Kebetulan juga, hari ini Iris tengah menikmati waktunya di depan guild sembari belajar mengenai beberapa hal. Jika kalian memang berniat menemuinya, temui saja dia. " balas Lilis pada para petualang muda yang sempat dibantu Vi dalam sebuah misi.


Sempat ragu atas ucapan dari Lilis yang secara jelas menyebutkan nama Iris dari pada Vi yang ingin mereka temui membuat mereka memaksakan diri untuk bertemu sosok yang di sebutkan tadi.


" Hm~? Apakah ada yang bisa aku lakukan untuk kalian? " Ucap Rose dengan wajah yang nampak begitu tenang setelah beberapa kelompok petualang mengepungnya dalam satu jalan dekat pedesaan.


" Oah, tidak. Mungkin kalian salah dengar waktu itu. Namaku memang Airis, namun tidak jarang juga teman - temanku memanggilku Ris. " balas Iris sembari menjelaskan sebuah kebohongan untuk menutupi keberadaan dari Rose maupun Vi yang sempat tinggal dalam kota.


Sebuah senyum kebahagian nampak jelas di wajah Rose disaat Airin maupun Vi membantai habis kelompok petualang yang mengepung mereka dengan brutalnya


" Lalu, bagaimana dengan sosok pria berjubah hitam nan menakutkan itu? " ucap seorang penyihir perempuan yang memotong penjelasan Iris.


Enggan meyakini bahwa semua hal yang terjadi hanyalah ilusi semata membuat para petualang muda itu mulai mencari kebenaran informasi mengenai sosok bernama Vi hingga satu titik, mereka berpapasan dengan Fei yang kebetulan tengah mencari informasi serupa.


" Jadi, seperti itulah tuan. Mereka memang kelompok petualang yang meresahkan desa ini dan beberapa desa tetangga. Oleh karenanya, kami sangat berterima kasih kepada anda. " ucap seorang pria paruh baya yang dianggap sebagai kepala desa setelah memastikan beberapa sosok petualang yang tersisa.


Bersama dengan imbalan terima kasih atas kembalinya kedamaian desa dan beberapa hasil jarahan pada pemiliknya semula, Rose mendapatkan informasi tambahan mengenai tempat yang ingin dirinya kunjungi meski hanya sebuah legenda berselimut misteri.


" He, em. Ucapannya waktu itu bukalah ucapan kosong semata. " gumam Fei sembari melihat sisi luar jendela dari kereta kuda yang dinaikinya.

__ADS_1


" [ Meski pada awalnya aku kira dia adalah seorang penjaga yang ayah kirimkan secara rahasia, aku benar-benar tidak menduga bahwa ayah sendiri merasa asing ketika aku menyebutkan namanya. Dan lagi setelah mengaitkan berbagai kejadian yang terjadi, aku bisa mengerti kenapa ibu begitu khawatir kepadaku jikalau aku kembali berhubungan dengannya. ] " ucapnya dalam diam sembari mencari satu jawaban pasti dari Rose yang penuh misteri.


Kembali berjalan masuk ke dalam camp tersembunyi dari para bandit yang dibasmi setelah memeriksa area dengan hati-hati, Rose menemui sisa anggota bandit yang sengaja disisakan untuk dimanfaatkan sebagai bahan percobaan atas satu ritual.


* swarps * sebuah portal dimensi muncul di atas susunan batuan rune yang tenggelam oleh waktu


" Hehe, Ternyata benar dugaanku. [ Sistem trader dengan npc pengelana malam masih berfungsi selama syarat aktifasi bisa dipenuhi. ] " ucapnya dengan sebuah tawa setelah melihat sosok demi human dengan ras kucing nampak keluar dari portal dimensi itu bersama yang terbalut dalam jubah reaper merah.


Mencoba beberapa kalimat ucapan untuk menyapa hingga masuk ke topik utama membuat Rose tidak lagi peduli dengan nyawa para petualang maupun bandit yang mencoba menjebaknya.


" Apapun bentuk nilai tukar yang diberikan, pihak pengelana malam akan menilai harga secara seksama sebelum memberikan opsi terbaik dihadapan kita. [ Meski itu adalah batu biasa atau bahkan bagian dari sesuatu yang hidup ] " ucapnya menjelaskan pada Airi maupun Vi mengenai sosok pengelana malam yang hanya terdiam dengan kotak kosong dihadapannya


Dengan menjual jiwa dan raga dari mereka yang disisakan sebelumnya, sebuah opsi misterius dalam bentuk telur berwarna merah menarik perhatiannya sebelum menyadari adanya satu nilai minus di setiap opsi yang tersedia.


" Baiklah. Aku akan mengambil ini, ini dan ini. Lalu menarik kembali anak perempuan ini dan menggantinya dengan benda ini. " gumamnya sembari menentukan pilihan yang tersedia setelah beberapa kali melakukan uji kelayakan pada harga jual yang di setarakan.


Tangis air mata disertai permohonan maaf atas tindakan buruknya membuat empati dalam diri Rose terpanggil dan memaafkan tindakan buruk dari gadis cilik yang kehilangan satu matanya.


" He, em. [ Dunia ini memanglah dunia yang dipenuhi dengan keanehan luar biasa di luar akal manusia dan oleh karenanya, aku harus bisa terbiasa dengan sesuatu di luar nalar lainnya. ] " gumamnya dalam kesendirian sembari melihat senyuman kedua pelayannya yang nampak tersenyum senang dalam tidurnya.

__ADS_1


__ADS_2