
" Demi membuktikan diri bahwa aku layak menjadi murid di sekolah itu, aku harus menjadi lebih kuat. [ Agar aku sendiripun mampu membebaskan kakak dari apapun sihir yang mengikat ini! ] " Teriak Vira di waktu pagi sebelum kembali melatih diri dengan mengubah posisi dari kristal sihir tempat kakaknya terkunci menjadi posisi berdiri.
Membereskan sisa gerobak kayu yang gagal menompang kristal sihir di waktu lalu, sapa dari para penghuni mansion mulai terdengar lembut di waktu dirinya berjalan melewati dapur sebelum memasukkan sisa gerobak kayu sebelumnya ke dalam tungku besar yang memompang wajan besar di waktu persiapan makan pagi mulai dilakukan.
* stratataks! gsrings! garing!! sresengs!! gclinks! gclinks! sresesss! * Berbagai macam makanan olahan dari daging dan sayuran mulai menampakkan diri dalam poris besar berkat kemampuan memasak yang terus meningkat dan membuat beberapa pelayan mansion semakin merasa takut bahwa keberadaan mereka tidak lagi diperlukan.
" Eh ? Tidak sampai segitunya juga, si. Aku hanya melakukan hal ini karena aku sangat merindukan makanan yang sama seperti makanan yang kakak buat. Dan sebelum mencapai kesetaraan dari rasa yang sama itu, tanpa sadar aku sudah membuat makanan sebanyak itu. Hehe, maafkan aku ya? karena kembali menghabiskan bahan makanan. " ucap Vira dengan perasaan tidak enak terhadap pujian dari para pelayan mansion di waktu dirinya tenggelam dalam asiknya mencoba berbagai macam perpaduan rasa demi mencapai kesetaraan rasa yang mendekati makanan buatan kakaknya.
Merespon baik ucapan Vira sembari memberikan saran untuk mempertajam kemampuan dalam penggunaan peralatan dapur serupa pedang maupun pengetahuan lain mengenai anatomi tubuh dari setiap hewan buruan demi memperoleh skill khusus miliknya sendiri, tawa senang lagi bahagia mulai menampakkan diri kembali bersama pencerahan tidak terduga dari para pelayan mansion yang sebenarnya khawatir atas kegunaan diri mereka.
" Jika aku bisa menggunakan peralatan ini sama seperti saat kakak menggunakannya, aku pasti bisa membuat Ka Lia mengakui kemampuan yang aku punya. " ucapnya dengan wajah ceria sembari menatap ke beberapa pisau yang berbeda fungsi maupun penggilas adonan dan wajan berukuran sedang.
* krekes krekes krekes * suara gesekan dari peralatan dapur yang di satukan dalam kain panjang sebelum dimasukan ke dalam tas sedang buatan tangan, Vira yang berniat memulai pelatihannya sendiri harus menahan rasa terkejutnya dikala Mina dan beberapa penghuni mansion yang bergiliran tugas memasak makan siang menanyakan kepadanya mengenai peralatan dapur yang menghilang.
" Ah, em. Yah, aku sendiri terlalu sibuk mengkhawatirkan apa kemampuan yang aku punya di tempat ini dan akupun tidak tahu mengenai keberadaan peralatan dapur itu. " balasnya dengan menyembunyikan rasa takutnya di dekat gerbang mansion sebelum melangkahkan pergi menuju guild petualang.
__ADS_1
Melihat gelagat aneh dari Vira yang nampak keluar mansion setelah pelatihan dasarnya selesai, Alruene bersama Altaira mulai mencoba mengikuti langkah kaki Vira demi mengetahui apa yang disembunyikan oleh dirinya.
* gbsings gbsings * dua buah pisau daging saling diadukan satu sama lain sebelum suara melengking dari kedua pisau itu terdengar disaat mata pisau dari keduanya semakin mengkilap dan tajam.
* hyuuuuhmss * menghembuskan nafas panjangnya sebelum mempererat pegangan pisau diantara lengannya, Vira mulai berlari menuju sebuah pohon besar yang nampak penuh sayatan sebagai pusat target pelatihan sebelum kemampuan memotong dan menyayatnya digunakan untuk memberikan bekas serangan ke setiap sisi dari pohon besar itu.
" Hey, Aira. Jika boleh aku katakan kepadamu, apa yang dilakukan Vira saat ini membuatku ingat mengenai Ize yang terkadang memasak makanan enak meski puluhan monster masih mengepung dirinya. " bisik Alruene pada Altaira yang menggambarkan kemampuan hebat dari Izera yang mampu menampakkan ketenangan diri meski situasi nampak jelas membahayakan diri.
" Sklungs! Sklungs! Sklungs! " suara aneh dari sosok misterius mulai terdengar tidak lama setelah kepakan sayap dari burung yang ketakutan semakin lirih dan akhirnya menghilang.
" [ Apa yang harus aku lakukan ?!] " Teriaknya dalam diam sembari menahan rasa takut yang teramat sangat ketika monster yang datang nampak tertawa puas melihat dirinya.
Beberapa kali mencoba menguatkan diri sebelum bersiap memulai satu aksi, beberapa serangan langsung mengunci pergerakan diri akibat suara patahan ranting yang terinjak oleh Altaira yang berniat menolong Vira.
" Celaka!! " Teriak Altaira yang tidak menduga bahwa presiksinya justru membawa Vira dalam bahaya.
__ADS_1
Dalam detik terakhir sebelum serangan fatal yang para monster itu berikan mengenai dirinya, teriak permohonan pertolongan pada kakaknya sempat terdengar jelas di telinga Rose yang sibuk melatih Queenela yang setelahnya Gaia diminta untuk menolong Vira yang dirasa dalam bahaya.
* Gbraaaaaaaaangssss * Semburan akar tumbuhan mulai menerjang deras ke arah para monster yang menyerang di waktu cahaya terang muncul dari kalung akar pohon yang mengikat batuan kristal milik Vira bersama ledakan energi hebat dari Gaia yang hadir setelahnya.
Akibat goncangan energi dasyat yang terjadi secara tiba-tiba, Altaira dan Alruene yang tidak mampu menahan gelombang energi yang semakin besar pada akhirnya kehilangan kesadaran di waktu Gaia menunjukkan dirinya.
" Gempa bumi? " ucap Vi dari balkon kastil yang dirinya tempati ketika goncangan hebat itu mengingatkannya pada Rose yang selesai menjelajahi satu reruntuhan.
Menganggap bahwasanya goncangan itu hanyalah imajinasi semata karena tidak ada orang lain disekitarnya yang nampak panik ataupun gelisah, Vi kembali melanjutkan langkah ke sebuah ruang khusus diantara lorong kastil yang tersembunyi untuk mencapai satu perkumpulan khusus yang dihadiri para penjaga teritori.
" Ugh ? Astaga! [ Aku lupa meminta Gaia untuk menahan energi akhirnya!] " ucapnya mengusap dahi setelah melihat kekacauan mengerikan dimana seluruh hutan tempatnya berpijak saat ini telah berselimut akar serabut yang mampu menghisap energi kehidupan dari makhluk hidup yang menjadi target serangannya.
Merasa ada yang salah pada sikap tuannya, Gaia kembali melihat area sekitarnya kembali sebelum melihat kedua telapak tangannya sembari meremasnya beberapa kali dengan anggapan bahwa kekacauan yang ada disekitarnya bukan berasal dari kekuatan yang dirinya miliki.
" M, yah. Baiklah, cukup. Aku sudah bisa melihat gambaran kejadian sebelumnya. Dan untuk lain kali, mungkin akan lebih baik jika kamu menggunakan sarang pengekang untuk melindungi Vira sebelum aku datang membantunya. " balas Rose yang meminta Gaia untuk kembali menyatu dengan dirinya demi mengurangi energi berlebih yang tersebar ke seluruh bagian dari tempatnya berada.
__ADS_1
Mengurungkan niatannya demi meredam kekesalan tuannya yang tersirat dalam sikap dan tingkah laku ketika melihat kondisi tubuh Alruene, Altaira, dan Vira sebelum menyatukan dirinya, ucap maaf dari Gaia membuat Rose merasa bahwa apa yang terucap sebelumnya memberikan sebuah luka pada Gaia.