
" Level adalah angka, kemampuan yang sebenarnya ada pada pengalaman yang kita punya. " ucap seorang yang nampak samar sebelum melangkah pergi dan membuat Rose kembali tersadar di atas menara Liga Nebula.
Memeriksa status dalam diri yang berisi laporan damage fatal maupun critical yang membuatnya kehilangan kesadaran, dirinya kembali meremas kedua tangannya dengan kesalbersama dilepasnya beberapa bagian retakkan bangunan yang mengunci diri sebelum kembali menyusun strategi demi memenangkan pertarungan panjang semenjak badai terkutuk datang 19 hari yang lalu.
* Drududududum!!! Dum!! Dum!! Dum!! * Di tengah hujan badai terkutuk yang terus mencabik kulit dan daging, Rose terus menggempur serangan dari para monster yang menyerang tanpa kecuali para Apex maupun boss penghuni reruntuhan menggunakan meriam alteri semi-otomatis dari 16 pecahan bagian yang merupakan satu kesatuan dari G3N-05.
" [ Nh, ya ampun. Kenapa aku bersikap seolah aku adalah pahlawan di dunia Fantasyum, ini? ] " Pikirnya setelah melepas gelak tawa dalam tubuh penuh luka dan darah.
Mengacungkan kembali sebuah katana panjang berwarna biru kehitaman setelah menebas noda darah hingga menimbulkan dampak area yang cukup luas, Rose kembali bersiap diri untuk melibas habis monster yang tiada henti setelah mengatur ulang target serangan alteri.
" Mati!!! Mati!!! Matilah kalian semua!!! Ha! Ha! Hahahaha!!! " Teriaknya penuh semangat sembari menebas cepat semua monster yang ada dalam jangkauan serangannya sebelum terhenti pada poin target serangan alteri dan dentuman besar dari ledakkan peluru alteri menjadi penutup setiap serangan yang diberi.
Meremas dadanya sendiri dengan detak jantung yang terasa jelas berada dalam kondisi adrenaline tinggi, Rose kembali mengganti senjatanya untuk yang ke sekian kali sebelum melesatkan serangan penuhnya kembali.
" Belati Century. [ Salah satu senjata favorite yang selalu membuatku merinding ketakutan dikala mengingat kembali sosoknya yang menggunakan kelas Assasin. ] " gumamnya sembari meremas gagang belati yang mulai memberikan dampak klorosi pada diri.
Merapal mantra pertahanan diri sembari memakan beberapa makanan yang dibuat secara paksa menggunakan tubuh dari mereka yang kehilangan nyawa, beberapa luka dari serangan yang di terima olehnya mulai memulihkan diri meski dampak klorosi terus menggerogoti beberapa bagian tubuh yang memberikan 2x ekstra damage dari dampak buruk hujan badai terkutuk.
__ADS_1
* cuih * Meludahkan darah yang memenuhi mulut bersama separuh tubuh yang kehilangan warna aslinya, sebuah pemikiran bodoh terlintas dalam benaknya ketika melihat para Apex mulai mendekati dirinya.
" [ Bukan saatnya memikirkan hal gila semacam itu! ] " Teriaknya untuk berhenti mengaitkan diri dengan nafsu dunia tidak lama setelah status hypnotized muncul diantara buff dan dbuff dalam log aktifitasnya.
Terkulai lemas tidak berdaya dalam pelukan seorang monster serupa wanita dengan ras campuran naga dan lamia yang tengah menerkam leher dengan begitu brutalnya.
Sebuah sensasi dingin dari derasnya badai terkutuk mulai berubah menjadi sensasi kehangatan yang begitu memanjakan dari kulit lamia yang begitu lembut terasa kembali membangkitkan nafsu dunia sebelum pelukan erat dari dirinya meremukkan setiap bagian dari tubuh monster itu.
" [Nh, mungkin dengan melakukan hal semacam tadi, aku bisa sedikit termotivasi untuk membakar kembali semangat dalam diri. ] " pikirnya sesaat sebelum beberapa monster kembali mendekat.
Melesatkan serangan dengan begitu dasyat sembari mencari sosok monster yang bisa dijadikan sebagai pelampiasan atas hasrat, nafsu dunai yang kembali menggelora membawa sensasi kehangatan tersendiri bersama di lepaskannya beberapa tubuh tanpa busana dalam bentuk wanita dari berbagai monster yang dalam status tertera jelas bahwa mereka adalah wanita.
Mengangguk tanpa kata sebelum menunjukkan sebuah aura dari Rose yang nampak serupa dengan sosok dewa yang dilawannya membuat para dewa yang ada mulai meninggalkan tempat dari Vexilis berada.
" Di saatnya nanti, kamu akan melihat sebuah kilau cahaya serupa senja diantara mereka yang bertaruh nyawa demi sesuatu yang berharga. " gumamnya sembari melihat pertarungan sengit diantara mereka sembari mengingat sosok ibunya yang telah berada jauh darinya.
Melangkahkan kaki setelah mengambil keputusan bahwa dewa petaka adalah sosok yang akan memenangakan pertarungan sengit itu, sebuah guncangan energy yang mengguncang seluruh alam langit dan bumi membuat Vexilis kembali memeriksa apa yang tengah terjadi.
__ADS_1
" Nh, sayang sekali Luci. Seperti yang pernah terjadi dalam pertarungan saat itu. Sesosok monster besar keluar dari celah dimensi dan membuatnya membalikkan keadaan. " ucap Vexilis yang tidak henti melihat kembali pertarungan Rose yang kini melawan sosok makhluk besar ciptaan Dewa Lucifer.
Memasang sebuah senyum dalam perasaan, Dewa Lucifer mengucap beberapa kata sederhana sebelum mengatakan bahwa sosok Rose yang hina itupun mulai membuatnya tertarik.
" Entahlah, Ilis. Aku tidak bisa mengatakan apa yang sedang aku fikirkan mengenai dirinya, tapi yang pasti. Aku bisa merubah bentuk diri menjadi sosok yang dia kagumi dan setelahnya aku bisa dengan leluasa melakukan uji coba terhadap tubuhnya. " gelak tawa dalam ruang hening diantara mereka membuat Vexilis mengusap dadanya sebelum membalas ucapan itu dengan senyum manisnya.
Melangkah pergi setelah Rose kembali memanggil diri, pribadi lain dari Vexilis yang mengucap sumpah serapah mulai berganti menjadi sosok dewi sejati yang selalu menunjukkan kelembutan dalam tindakan.
" Meski ini tidak sebanding dengan apa yang telah kamu beri, setidaknya terimalah persembahan yang aku beri. " ucap Rose pada Dewi Vexilis sembari menyandangkan sebuah inti kekuatan dari Apex nomer 45 yang serupa dengan batuan ruby berbentuk biji ketapang dengan cahaya kuning menyala diantara warna merah delima.
Mengulang beberapa ucapan yang sama sebelum menegaskan kembali bahwa persembahan itu dapat menyebabkan kekacauan di alam dunia, Vexilis menganggukkan kepalanya tanda menerima sebelum memberikan sebuah berkatnya kepada Rose yang selalu mengharapkan kedamaian dan ketenangan dalam alam dunia.
" Semoga kamu pun Mendapatkan kebahagiaanmu sendiri bersama dewa dewi lainnya. " lanjutnya dengan senyum sebelum Vexilis menghilang dalam cahaya kuning keemasan.
Melangkah pergi dari tempat persembunyian untuk bertemu mereka yang menunggu sebuah pujian, ucap sapa pada Airinia membuat harapan mereka sirna seketika sebelum Rose kembali menaiki tubuh Mist dan membawa mereka kembali ke dalam mansion yang tertutup sihir labirin ilusi milik Cila dan beberapa pelayan mansion lainnya.
" Sebagai ganti dari kerja keras kalian selama pertarungan tadi, aku akan mengijinkan kalian untuk mengucapkan keinginan kalian-. " ucapnya yang terpotong teriakan mereka yang spontan sembari mengharapkan keturunan darinya.
__ADS_1
Meminta mereka untuk mendekat segera sebelum mendekapnya dengan lembut sembari membisikkan kata, rasa malu yang teramat sangat mulai membuat merah wajah dari mereka sebelum mereka memilih untuk mengurungkan niatan itu dan menggantinya dengan sesuatu yang lebih berguna bagi mereka.
" Baiklah jika itu keinginan kalian. Aku bersedia mewujudkan keinginan itu dengan satu syarat sederhana yang harus kalian penuhi sebelumnya. " tambahnya sebelum membisikkan syarat berbeda pada Alruene, Altaira, Merry, Sasya, Cila dan beberapa pelayan lain yang ikut membantu kesuksesan rencananya.