
Terbangun dalam ruangan berukuran 6x8m yang dihiasi perabotan sederhana dengan lambang mawar di beberapa sisinya, Vira yang selesai merapikan tempat tidurnya mulai bergegas menuju ruang dapur dari kantin sebelumnya untuk mencoba membuat sarapan di pagi buta setelah di malam sebelumnya mendapatkan ijin dari ibu asrama.
" U~ ou~! " senandung nada dari seorang nampak jelas terdengar menuju ke arah tempatnya berada sembari menyanyikan sebuah lagu.
Tersenyum pada sosok perempuan yang memandang diri dengan terkejutnya, Vira tidak menduga bahwa pertemuan nya dengan perempuan bertopeng kembali terjadi secepat ini.
" Ah, ano. Maaf. " ucapnya dengan segera setelah merasa malu terhadap dirinya sendiri ketika melihat Vira yang memuji senandung nada sebelumnya.
Menahan kepergian dari perempuan bertopeng itu sembari menawarkan makanan buatannya, suara perut yang berbunyi dari perempuan itu membuat Vira menahan diri untuk tidak tertawa atas sikap penolakan sebelumnya.
" He,em!! Ini enak!! Meski tidak sama seperti buatan ayah!! Ini enak!! " ucap Queenela dengan penuh rasa bahagia setelah kembali mengingat citarasa yang hampir sama dengan rasa makanan yang di buat oleh ayahnya.
Mengucap tanpa sadar sebuah harapan untuk mengejar citarasa buatan kakaknya pada perempuan bertopeng itu di tengah makan pagi itu membuat perempuan bertopeng itu mengucapkan harapan yang sama mengenai keinginan untuk merasakan makanan dengan citarasa yang lebih kuat seperti buatan ayahnya.
" Eh ? " ucap kaget keduanya yang saling menatap satu sama lain mengenai citarasa yang terkesan sama namun di buat oleh sosok yang berbeda.
Mencoba berbagi gambaran mengenai citarasa yang terus membekas dalam benak mereka, berbagai tanggapan pribadi mengenai makanan yang pernah mereka makan membuat keakraban diantara keduanya terjalin begitu saja.
__ADS_1
" Berbicara mengenai alat masak yang kamu sebutkan sebelumnya, apakah belati itu juga termasuk di dalamnya ? " ucap Queenela yang merasa penasaran terhadap belati milik Vira yang membuatnya ingat satu slot senjata yang terpajang diantara dinding kamar milik ayahnya.
Merasa bahwa belum saatnya dia mengatakan bahwa belati itu adalah senjata terkuat yang dia punya, Vira mengatakan kalimat serupa yang pernah diucapkan oleh perempuan bertopeng itu yang menyatakan bahwa tidak ada alasan khusu yang mengharuskan dirinya menjelaskan hal yang berkaitan dengan belati miliknya.
" Aha, kamu benar. Maaf karena aku menyinggung masalah pribadi yang kamu miliki. " balasnya menyesal sebelum tawa keduanya melebur rasa canggung dari keheningan yang ada dan membuat mereka semakin dekat.
Mengucap salam perpisahan beberapa saat sebelum suara memekakan telinga terdengar keras ke seluruh area asrama, beberapa murid dari tingkat ke 2 sampai 5 mulai menampakkan diri untuk memulai sarapan mereka dengan pakaian rapi yang tidak seperti dirinya yang masih memakai piama.
" Hey, tahun pertama ? Apakah kamu tidak berniat mengikuti ujian pagi ini dengan tahun pertama lainnya? " ucap seorang perempuan dengan dua bintang yang menyapa Queenela di saat para tahun pertama nampak berbaris rapi di depan asrama bersama para siswa dari tingkat ke lima bersama seorang guru pengawas yang membawa sebuah catatan.
" He,em. Tidak, Kak Ovi. Berkat privilage dari kepala sekolah, saya bisa melakukan setiap ujian pelatihan lebih awal dari mereka. " Balas Queenela dengan ramah sembari menjelaskan kejadian luar biasa yang terjadi di hari pertama dirinya menginjakkan kaki di Sekolah Tinggi Platina.
" Ah, benar. Jika maksudmu ucapan itu tertuju pada siswa tahun pertama yang sebelumnya, kamu tidak perlu mempermasalahkannya. " ucap guru pengawas yang memakai pakaian seragam serba hitam lengkap dengan lencana kuning ke kemasan yang diantara pakaian yang dikenakan pun terdapat garis merah menyala serta gulungan rantai di sisi pinggang maupun sebuah tongkat akar yang mengikat batuan orb merah menyala.
Merapalkan sebuah sihir untuk mengangkat tubuh mereka ke udara sembari meminta empat siswa tahun ke lima mengapit setiap sisi barisan tahun pertama sebelum menunjukkan sisi lain dari hutan dihadapan mereka melalui udara yang menampakkan sisi terdalam hutan yang porak-poranda akibat sosok yang Vira maksud dengan teman barunya.
" Hiyah, sama seperti saat pertama aku melihat kehancuran yang disebabkan olehnya. Aku pun sempat tidak percaya dengan apa yang ada di depan mata. Namun, setelah aku menghubungkan kejadian ini dengan rumor yang beredar. Aku bisa mengatakan bahwa rumor itu benar adanya. " ucapnya yang mengingat rumor mengenai kehadiran siswa luar biasa dari tahun pertama.
__ADS_1
" Dan karenanya. Untuk mencegah adanya hal serupa, aku ingin mengatakan bahwa setiap dari kalian akan diawasi oleh siswa dari tingkat ke lima. Tapi berhubung waktu kita terbatas, setidaknya bentuklah lima regu utama dan tunjuk satu pemimpin dari setiap regu yang ada untuk mengambil undian. " ucapnya dengan begitu cepat sembari memeriksa jadwal sebelum menyerahkan lima buah bola dengan nomor urut yang tertera dalam lambang peringkat siswa.
Mempertanyakan siapa sosok ke lima dari empat murid peringkat ke lima yang ada, guru pengawas yang nampak sibuk dengan catatannya segera menarik Viro dari barisan yang ada sembari menjelaskan bahwa kemampuan fisik ataupun pengetahuan terhadap medan nyata dari Viro merupakan hal yang luar biasa dan satu-satunya hal yang menghambatnya hanyalah masalah pengendalian diri.
" Seperti saat kamu kehilangan kesadaran di waktu pelatihan dan hampir membunuh semua orang yang memperhatikan, Vira. " bisik Viro pada Vira yang mencoba memperhatikan ucapan dari guru pengawas itu.
Menambahkan kebenaran atas sikap buruknya terhadap ledakan energi yang begitu hebat dalam diri membuat dirinya enggan menyianyiakan luapan energi itu hingga berakhir pada penghancuran bangunan asrama tua yang kini menjadi area taman botani.
" * Sdrumpts * Untuk itu, aku tegaskan! Apapun situasi yang dihadapi kalian dalam hutan. Tetaplah fokus pada tujuan utama kalian untuk sampai ke pintu gerbang belakang dan jangan sampai meninggalkan rekan untuk menjadi tumbal ataupun membunuh sesama rekan! Mengerti!! " ucapnya kembali setelah memberikan sebuah sihir bertipe cahaya untuk membuat Viro mendengar ucapannya.
Tertawa dengan senang sebelum memberikan hormat pada guru pengawas yang memberinya sambaran petir, ucap ketersediaan untuk mengawasi siswa tahun pertama mulai terucap darinya bersama suara dentuman dari dua tinju yang diadukan.
" Sebagai pengamanan tambahan, beberapa familia yang aku panggil pun akan ikut menemani kalian. " lanjutnya tidak lama setelah pembagian regu dan pengawasan selesai di lakukan
* krutuktuktuktuk! * " Nipu, Nipu. Kroakaka, kroakakak! Srasasassss! Pyump, pyump " Beberapa hewan kecil mulai menampakkan diri bersama bergeraknya sebuah pohon besar yang ternyata adalah Ent yang bertugas untuk mengusir siapapun yang berani mendekati area hutan tanpa perijinan.
" Jangan menilai rendah Brown Pillow, Bronze devil, Snake naklet, dan Kauran Bird ini. Karena bagaimanapun juga, jika situasi berbahaya tidak dapat dihindari, mereka dapat menjadi sosok pelindung yang dapat diandalkan. " tambahnya disaat melihat siswa tahun pertama nampak begitu gemas terhadap wujud dari familia yang akan menjaga mereka.
__ADS_1
Mengangkat tangan kembali untuk menanyakan familia macam apa yang akan mereka terima setelah empat familia sebelumnya menempatkan diri ke masing masing regu yang ada, suara mendengung dari sebuah drone pengawas mulai terdengar mendekat tidak lama setelah guru pengawas itu menyampaikan bahwa regu yang di jaga oleh Viro akan di jaga oleh familia khusus milik wakil kepala sekolah Platina.