Fantasyum

Fantasyum
Bab 21.2


__ADS_3

Menahan tawa melihat kelakuan yang ditimbulkan Altaira dan yang lainnya, Rose yang selesai melakukan disain ulang terhadap menara liga mulai meminta Gaia untuk membuka gerbang teleportasi diantara pepohonan untuk menghubungkan dirinya dengan pot berisi bunga di dekat kamar tidur Vira demi menyelamatkan nyawanya.


" Dengan adanya hal ini, aku tidak perlu lagi mencemaskan dirinya " gumamnya sebelum melangkah pergi melalui portal yang terbuka diantara akar tanaman kayu yang mengikat batuan sihir pada kalung Vira.


Merasakan sakit yang diderita mulai mereda, bayangan dari altar di atas awan mulai nampak dihadapan Vira dengan sosok dewi penjaga yang telah menantinya.


" A-ano~ " ucap Vira mencoba menanyakan sesuatu sebelum jari dari dewi penjaga itu menahan bibirnya dan mendorongnya jatuh ke dalam kegelapan.


Teriak dari Vira kembali membangunkan Altaira dan yang lainnya setelah sebelumnya sempat melepas kepergian Vira dengan berat hatinya.


" Kaka!!! Kaka!!! Ka Ize!! Kakak!!! " Teriai Vira kembali mencari kakaknya di saat Rola dan yang lainnya senang atas kepulihan dirinya.


Merasa bahwa hal sebelumnya kembali terulang, Rola dan yang lainnya sepakat untuk memberikan penjelasan sejelas mungkin untuk Vira agar Vira percaya bahwa kakaknya masih hidup meski dalam ketidak pastian dalam kurungan kristal sihir.


" Vira? Vira~! Vira!!! " Teriak Rose berusaha menggunakan kembali kristal komunikasi pada kalung Vira sebagai salah satu cara terhubung dengannya.

__ADS_1


Merasa senang bahwa kakaknya kembali memanggil dirinya secara nyata, Vira yang masih belum menyadari asal suara itu terus mencoba mencari celah dari kristal sihir itu yang mana dalam dirinya berkeyakinan bahwa ada satu lubang yang menjadi pusat dari keluarnya suara itu.


" Berhentilah memandangi tubuhku, Vira. Aku tahu bahwa kamu sangat sedih atas kejadian berat yang telah terjadi, tapi tolonglah. Jangan bersikap lebih jauh daripada hal ini. " ucap Rose sembari memperbaiki beberapa bagian liga menggunakan kode sistem dengan menukar separuh sumber daya yang tersisa setelah melihat sikap Vira yang enggan mengakui kenyataan.


Menanggapi ucapan Rose dengan tawa sembari bersikap senormal mungkin sebelum mengucap apa yang kakaknya maksudkan, pantulan cahaya merah diantara kristal sihir itu membuat Vira menahan tangisnya begitu Rose mengucap bahwa jiwanya telah menyatu dengan alam tempatnya berada bersama penyatuan diri atas tubuh gaia dengan menara liga secara nyata dan hanya menyisakan kesadaran Rose dalam area hampa.


" Terimalah, Vira. Kakak sudah tiada dan untuk itu, kakak harap Vira bisa menjadi perempuan baik seperti yang telah kakak ajarkan sebelumnya. " ucapnya lirih sebelum kristal sihir itu mulai memudarkan cahayanya.


Memeluk erat kalung kristal itu sembari berharap bahwa kakaknya akan kembali, suara gaduh dari luar membuat Vira menghapuskan air matanya dan memilih untuk mencoba menjadi perempuan baik yang mampu membuat kakaknya bangga.


" Vira ? Apakah sekarang ini, perasaanmu lebih baik dari sebelumnya? " ucap Rola yang melihat Vira tiba-tiba ikut bergabung dalam dapur mansion untuk mempersiapkan makan malam bersama seperti sebelumnya.


Larut dalam setiap langkah yang diucap oleh kakaknya, gunungan makanan mulai tercipta secara perlahan dan membuat Rola maupun yang ada disana hanya bisa terdiam tanpa kata sembari meyakini bahwa kemampuan dari Vira hampir sama hebatnya dengan Izera.


" Untuk mempermudah jiwa kakak ke alam selanjutnya, aku memohon dengan sangat pada Kak Alruene, Kak Altaira, Ka Merry, Kak Sera, Kak Sasya dan kalian yang kini menjadi tanggungjawab ku. Tolong, doakan yang terbaik untuk kehidupan Kak Ize selanjutnya. " ucapnya lirih sebelum kembali meremas kristal sihir itu sembari tetap tersenyum dalam ketabahan.

__ADS_1


Meletakkan peralatan makan yang semula sempat ingin digunakan untuk melahap sajian yang ada, Alruene dan semua perempuan yang mengenal dekat sosok Izera mulai menundukkan kepala sembari memandang kedua tangan yang terbuka layaknya memanjakan doa sebelum penghuni mansion yang lainnya mengikuti hal serupa dengan harapan terbaik untuk Izera yang banyak membantu mereka.


" Ka, sekali lagi aku ucapkan permintaan maaf ku kepada kalian. " ucap Vira dengan penuh penyesalan dihadapan Alruene, Altaira, Merry, Sasya dan Rola.


Memandang satu sama lain sebelum memberikan pelukan hangat pada Vira atas kehilangan yang begitu tiba-tiba, permintaan maaf justru berbalik ditujukan kepada dirinya tidak lama setelah Altaira mengucap keegoisannya di saat Izera meminta bantuannya.


" He,em. Tidak apa, Ka. Aku yakin Kak Ize pun akan memaafkan kakak jika dia masih bisa membawa kebaikannya untuk kita. " balas Vira sembari mengusap bagian telapak tangan Altaira yang selalu digunakan untuk mengadu kekuatan dengan kakaknya.


Mengingatkan satu kesan kelembutan yang selalu Izera berikan setelah sesi pelatihan selesai, Altaira tanpa satu ucapan sebelumnya kembali memeluk Vira dalam tangisnya sembari mengucap bahwa dirinya seharusnya mewujudkan permintaan itu jika tahu bahwa permintaan itu adalah permintaan terakhirnya.


Memilih untuk bergabung dalam pelukan keduanya dengan harapan meringankan beban yang sama atas permintaan terakhirnya yang sama-sama mereka abaikan sebelumnya, keheningan dalam malam kala itu mulai kembali menyelimuti diri setelah keputusannya untuk kembali tinggal dalam ruang tempat kristal sihir itu di sembunyikan.


" Nh, kakak. Sebenarnya apa yang terjadi waktu itu dan kenapa kakak bisa tiada dengan hal mengerikan seperti ini?" gumam Vira yang mengaitkan beberapa hal yang menjadi permintaannya sebelum larut dalam pemikiran keras dan terlelap penuh nikmat bersama mimpi indah yang kembali menghadirkan keberadaan Izera.


" *Gwarahmshss* Selesai sudah bagian akhir dari pembangunan ulang Liga Nebula. [ Meski beberapa bagian spesial itu tidak bisa di ganti sepenuhnya, setidaknya aku sudah berhasil menyelesaikan disain final dari semua aspek dasar dari tata ruang dimensi maupun asesoris dan furnitur pada setiap sisi.] Dan besok, aku akan kembali menyibukkan diri dengan uji coba inkubator tingkat misteri untuk mengetahui kemungkinan lain lahirnya anak-anak manis dengan gen tingkat tinggi. " ucapnya sembari memeriksa tabel memo dalam status informasi sebelum terlelap bersama sosok Gaiya yang mengambil bentuk tempat tidur gantung serta wujud lain dari wanita dewasa serupa Vi dalam tubuh Ai setelah Rose mengaturnya dengan sisa tenaganya.

__ADS_1


Memeluk erat tubuh Gaia sembari menikmati gaya baru dari bangunan liga, berbagai imajinasi baru mulai memenuhi kepalanya yang sebagaian besar terdiri dari harapan untuk lahirnya beberapa demi human dengan ras yang memiliki sayap maupun beberapa demi human lain yang bisa diberikannya masih sayang dan kelembutan selayaknya hal yang selalu dirinya lakukan kepada Merry maupun Sasya.


" Nha!! Aku benar-benar merindukan sensasi kelembutan semacam ini! " teriaknya penuh gembira sembari menjejakkan jari-jemari maupun kepalanya dalam gumpalan lembut dari dada Gaia.


__ADS_2