
" [ Celaka! Ayah pasti akan membunuhku untuk yang kedua kaliaya! ] " Pikir Altaira dengan begitu paniknya setelah menghitung jumlah dari mereka yang mengikuti pelatihan dan menemukan adanya sosok yang hilang.
Buru-buru kembali ke dalam area pelatihan dari tahap pertama sampai tahap ke empat dan mendapat banyak luka setelahnya, rasa panik atas kekecewaan dari ayahnya mulai membuatnya gila sebelum Rose datang bersama sosok yang dikira tewas dalam pelatihan.
" Hehe, maaf. Aku lupa mengatakan kepadamu bahwa dia harus ikut dalam pembahasan penting itu. " ucapnya menahan tubuh Altaira dengan tangannya setelah Altaira hampir menyerang Mina dalam kondisi mental yang sedikit terguncang.
Tertunduk lemas tanpa kata setelah melihat jentikan jari yang sengaja di arahkam ke samping telinga, baik Mina ataupun mereka yang ada disana begitu terkejut atas dampak area dari serangan kecil itu yang mampu mengoyak area pelatihan tahap satu sampai tiga hingga membuat jurang besar sejauh mata memandang.
" Ush [ Aku lupa memakai penahan kekuatan itu kembali. ] " ucapnya sembari memandang jari yang dijentikkan itu sebelum menggendong tubuh Altaira dan membu arkan mereka yang masih termenung dalam lamunan atas kekuatan yang dimiliki Pilar ke 4 Kota Grelia.
...----------------...
Terbaring dalam ruangan dengan menulis catatan mengenai banyak hal yang terjadi dalam tahun-tahun terakhir setelah kesempatan untuk hidup itu kembali diberikan, raut wajah senang maupun marah terus berubah seiring di bacanya memo itu.
* Stringst * " Apa yang aku lakukan selama ini!! " Teriaknya di tengah malam sebelum menghancurkan atap dari gubuk sederhana itu dan pergi menghilang.
Mendengar satu ledakan hebat dari tempatnya berada, seluruh penghuni mansion yang terkejut langsung mencoba mencari tahu apa yang terjadi.
" Ka Alruene!! Ka Sasya!! Ka Merry!! Apa yang sebenarnya terjadi!! " ucap Altaira yang begitu khawatir setelah melihat gubuk itu benar-benar rata dengan tanah.
Menggelengkan kepala sembari menyembuhkan luka, Vira yang sedari awal terlindung tubuh dari Rola mulai mengucap kemungkinan bahwa kakaknya adalah sumber dari kegaduhan ini.
__ADS_1
" Ah, em. I-itu~ sebenarnya, em. " balas Vira yang mencoba mengatakan sesuatu namun terhalang oleh keraguan dalam diri atas mereka yang ada dihadapannya.
Bangkit dari duduknya sebelum pergi ke arah Vira yang nampak ketakutan atas rentetan pertanyaan dari mereka yang ingin mengetahui satu alasan pasti, tamparan keras dari Rola membuat Alruene terdiam seakan menyadari bahwa sikapnya kembali melewati batasannya.
" Ma---maafkan aku. " ucap Alruene dengan menyesal di saat Vira memilih untuk bersembunyi di balik tubuh Rola.
Mendengar ucapan yang tidak seharusnya Vira dengar di saat mereka yang terus memojokkan diri, Vira memutuskan untuk pergi melarikan diri ke arah dinding pembatas mansion yang berlubang.
" Tidak!! Vira!!! Jangan kesana!!! " Teriak ketiganya yang mencoba menghentikan Vira namun kembali dihalangi oleh makhluk panggilan Rose yang masih tersisa.
* Druduk!! Druduk!! Gbruuummmm!!! * Golem raksaksa muncul diantara dua celah yang rusak sebelum menyatukan diri dengan bagian dinding pembatas mansion dan menjadi menara pertahanan tidak lama setelahnya.
Menarik paksa tubuh dari Rola, Arluene, Sasya dan Merry sembari mengatakan bahwa tidak ada pilihan lain selain mencarinya di kala mentari meninggi, teriak tangis kesedihan terdengar jelas diantara mereka yang mengharapkan bahwa Rose (Izera) bisa kembali secepatnya dan menolong Vira.
" Nkh, ayah. Apa yang sebenarnya terjadi saat ini ? " gumam Altaira sembari memejamkan mata sebelum menyiram bagian kepala dengan air untuk membasuh diri dari noda tanah sebelumya.
Berlari semakin dalam menuju hutan tanpa tahu tujuan jelas akibat kekecewaan, kemunculan beberapa hewan buas yang saling mengadu taring dan cakar tajam membuatnya tersadar bahwa dirinya tersesat dalam lautan pepohonan yang amat menakutkan.
" Kaka, aku takut. " gumamnya lirih sembari bersikap siaga dengan mengabaikan tubuhnya yang terus gemetar ketakutan.
Mengumpulkan seluruh penghuni dalam area sekitar mansion untuk mengatakan apa yang mereka ketahui sebelum kejadian malam tadi, Rola yang mendengar ucapan salah satu pelayan yang menyatakan bahwa Vira sudah mengakui kedewasaannya membuatnya menggelengkan kepala sembari menghela nafas panjang tanda keputus asaan.
__ADS_1
" Bukankah sudah aku bilang bahwa kalian tidak boleh mengatakan hal itu kepada Izera? " balas Rola dengan tatapan kosong seakan kejadian buruk dari malam sebelumnya hanyalah permulaan dari sesuatu.
Mengira bahwasanya ucapan itu hanyalah canda, Rola mulai menyinggung sikap Vira yang enggan menjelaskan rahasia kecilnya kepada mereka sampai pada satu kenyataan bahwasannya Vira dan Izera merupakan putri dan pelayan pria dari satu negri yang kini tiada.
" Izeral mungkin kehilangan ingatannya mengenai masa lalu akibat benturan keras di bagian kepala. " lanjutnya menambahkan dugaan bahwasannya pandangan dari Ezra yang semula seorang butler setia berubah menjadi seorang kakak bagi Vira yang kehilangan kemampuan untuk melihat dan berbicara.
Menepis ucapan Rola dengan mengatakan bahwa luka yang ada dalam tubuh Vira yang masih membekas hingga kini merupakan kesalahan fatal yang Alruene lakukan sewaktu muda membuat mereka terkejut begitu mendengarnya.
" Apakah normal bagi seorang manusia biasa untuk menahan serangan fatal semacam itu dan bertahan hingga fajar tiba! " ucap Rola yang kembali menegaskan bahwa Ezra dan Vira bukanlah manusia biasa.
Menaruh kecurigaan atas ucapan Rola yang seakan tahu segalanya tentang kedua orang itu, mereka yang tengah berkumpul dalam area itu mulai merasa bahwa Rola sendiripun merupakan seorang pelayan yang terikat pada Vira dan Ezra.
" Aku mengetahui itu semua setelah aku mencoba mencari cara untuk mendekatkan diri dengan Ize. Namun bukannya mendapat sesuatu yang aku inginkan, aku justru mendapatkan kenyataan semacam itu. " balasnya sembari memberikan satu nama dari minuman beralkohol tinggi buatan Ezra tidak lama setelah Alruene dan Merry mulai bekerja bersama mereka.
Mengakui kecurangannya untuk mendapatkan hati Ezra dengan cara tidak biasa, Alruene dan Merry sama-sama memahami perasaan serupa meski dalam diri mereka sempat timbul keinginan untuk mengatakan bahwa mereka pun pernah mencoba hal demikian namun dalam cara yang berbeda.
" Dan akibat masalah waktu lalu, Vira juga kehilangan ingatannya dan membuat situasi dari keduanya semakin rumit. " tambahnya setelah menyeret masalah kekerasan di waktu peraturan yang ada masih diluar batas penalaran manusia.
Menghubungkan setiap kebenaran yang ada dengan kekuatan dari Ezra yang terus berkembang lebih hebat dari manusia biasa, mereka yang ada di hadapan Rola kembali merasa yakin bahwa Ezra adalah sosok butler terkuat dari satu kerajaan.
" [ Aku memang terkejut dengan apa yang Sera katakan, namun aku tidak bisa mengatakan hal mudah bahwa jiwa dari ayahku ( Seral Rose) tengah berada dalam tubuh Izera atau Ezra yang mereka kenal. ] " pikirnya sesaat dengan mengikuti setiap penjelasan yang Rola katakan mengenai masa lalu dari Vira dan Ezra.
__ADS_1