Fantasyum

Fantasyum
Bab 4.4


__ADS_3

* Stapts stapts stapts * sebuah langkah kaki terdengar begitu jelas ketika Rose tengah menuruni sebuah anak tangga dari lantai kedua rumah itu.


" Lilis? Apa yang sedang kamu lakukan di waktu selarut ini? " ucapnya bertanya ketika melihat Lilis nampak tertunduk lesu dihadapkan sebuah lampu sihir dengan banyak kertas yang berserakan.


* sdapts * " Oahms, tua~n ? hehe, selamat malam. " balas Lilis sembari mengusap wajahnya yang nampak kumal beberapa saat setelah terbangun dari tidur singkatnya.


" Hm~ ya. [Sepertinya aku membuatnya kembali terjaga tadi.] " gumamnya disaat melihat Lilis nampak kebingungan atas sesuatu.


" Bolehkah aku duduk dan bertanya mengenai apa yang sedang kamu lakukan di waktu selarut ini? " ucapnya bertanya setelah menyerahkan sebuah kacamata yang semula tergeletak di atas meja.


Setelah berterima kasih dan menjawab pertanyaan dari tuannya sebelumnya, Lilis mulai menjelaskan mengenai beberapa tugas yang harus dirinya selesaikan terkait pekerjaannya sebagai seorang staf guild.


" Lalu, tuan sendiri? Apakah tuan menjadi terjaga seperti ini karena kegaduhan yang saya buat? " ucap Lilis sembari menundukkan kepalanya karena tidak ingin melihat amarah yang mungkin akan di lampiaskan kepadanya.


" He, em. Tidak, Lili. Aku memang biasa terbangun di waktu-waktu seperti ini untuk melakukan sesuatu yang mungkin tidak ada kaitannya dengan dunia ini. " balas Rose sembari merahasiakan sebuah kebiasaannya yang selalu terbangun di waktu-waktu tertentu untuk melepaskan hasratnya tanpa menodai tubuh dari Vi.


" Hm~ ya. Baiklah jika tuan tidak ingin membicarakan hal itu. Namun, bolehkah saya meminta tolong kepada anda untuk membebaskan saya dari status pelayan ini? " ucap Lilis dengan segera setelah mengingat sebuah kejadian buruk yang menimpa dirinya disaat kembali melakukan tugasnya sebagai seorang staf guild.


Dengan jawaban sederhana yang menyatakan bahwa dirinya sendiri pun tidak ingin melakukan hal itu kepada Lilis membuat Lilis nampak menghela nafas panjangnya seolah menduga bahwa jawaban yang akan keluar dari mulut Rose merupakan jawaban yang sama seperti yang dirinya pikirkan sebelumnya.

__ADS_1


" Namun kamu tidak perlu khawatir, Lili. Dalam waktu dekat ini pun aku berencana melepaskan status itu darimu lewat bantuan seseorang. " lanjut Rose sembari menjelaskan mengenai sosok Piero yang mungkin bisa dimintai pertolongan.


Mendengar penjelasan itu, wajah dari Lilis yang semula nampak putus asa mulai kembali menampakkan wajah bahagia disaat dirinya mengetahui ada cara untuk melepaskan status pelayan itu.


" Sudahlah sudah. Aku memang berkata demikian karena aku memang berniat melakukan. Namun jangan salahkan aku jika hal itu tidak dapat terjadi dalam waktu dekat ini. Mengerti? " tambah Rose sembari mencoba menenangkan Lilis yang nampak terlalu bersemangat dan hampir membuat lampu sihir itu terjatuh dan meledak.


Setelah meminta maaf dan menyelesaikan tugasnya yang tersisa, Rose sempat membahas beberapa hal dengan Lilis sebelum Lilis pergi untuk tidur lebih dahulu.


" Hm~ yah. Sepertinya keinginan ku untuk tidak melakukan hal itu benar-benar terwujud kalih ini dan kedepannya pun aku harap aku tidak kembali melakukan hal itu. " gumamnya beberapa saat setelah pemikiran kotornya menghilang dan membuat dirinya kembali merasa tenang.


" Dan~ karena aku sudah terjaga saat ini~ mungkin akan lebih baik jika aku melakukan percobaan itu saat ini. " lanjutnya setelah mengingat beberapa hal terkait dengan kekuatannya yang belum sempat dirinya gunakan


" Mengingat kembali bahwa dirinya merupakan sosok hebat di masa lalu, aku sungguh merasa sangat bahagia karena bisa menjadi salah satu pelayanannya. Namun jikalau mengingat kembali ucapan mereka, aku harus segera meninggalkannya sebelum ikatan itu semakin membuatku enggan berpisah darinya. " gumam Lilis dalam kesendirian sembari melihat sosok Rose dalam wujud aslinya yang membuatnya semakin luar biasa.


* srisinhssssh sbruuuuumsss * " Hwu~hm. sepert yang aku duga. Semua aktifasi sihir yang ada hampir sama dalam game versi beta dan lagi, dengan memanfaatkan quick action, beberapa sihir ini dapat diaktifkan disaat yang bersamaan menggunakan beberapa lengan tambahan yang aku tumbuhkan... " ucapnya dalam kesendirian sembari mengaktifkan beberapa mantra area setelah mengubah kembali wujudnya ke wujud yang lebih kecil agar dampak sihir yang digunakan tidak merusak area disekitarnya.


Dengan sebuah pelindung tanah yang menyelubungi seluruh ruangan itu dan melepaskan berbagai macam sihir menggunakan beberapa tangannya yang nampak mengerikan itu, sebuah suara asing mulai terdengar mengikuti setiap mantra yang dirinya ucapkan hingga akhirnya suara itu menuntunnya pada sebuah mantra yang belum pernah dirinya miliki maupun kuasai


" Eternal Fairy. " ucapnya dengan lirih sebelum kesadarannya menghilang

__ADS_1


* scriiingssss drududududummsss * Dinding tanah yang menyelimuti tubuhnya yang mengecil mulai runtuh beberapa saat setelah Vi merapalkan sebuah mantra yang pernah diajarkan oleh Rose disaat persiapan pertarungan itu berlangsung.


" Tuan! Rose! " Teriak Vi dengan khawatir disaat melihat sebuah cahaya kuning nampak menyala dibagian dada tuannya yang tengah tertidur pulas.


" Tanah coklat nan subur menjadi gembur. Langit biru nan indah berselimut debu hitam kelabu. Senandung merdu dari sang burung menjadi dentingan kasar para machina yang menderu. " senandung merdu seorang wanita diantara sebuah bukit hijau yang perlahan mulai berubah menjadi sebuah kota besar dengan segala kecanggihan teknologinya


" Naga besi menjejaki bumi, menghancurkan pasak sang ilahi. Datang seorang misteri yang mengusap permukaan bumi. Melahap habis tubuh sang naga besi." lanjut Rose sembari mencoba mengingat senandung nada serupa dari suatu tempat sebelum akhirnya mengikuti irama dari wanita itu dan menyanyikan sebuah lagu bersama.


Dengan sebuah latar tempat yang terus berubah dengan sangat cepat dan menampilkan berbagai macam situasi yang nampak familiar baginya, sebuah tawa mulai terdengar dan bersaman dengan hal itu sosok wanita yang nampak buram baginya mulai memudar


" Rod of Celestial. " sambungnya disaat mendengar sebuah mantra tingkat tinggi yang belum selesai dirapal sembari memegangi pergelangan tangan dari seorang wanita yang nampak buram baginya.


Sebuah suara tangis seorang tiba-tiba terdengar tidak asing baginya bersama dengan sebuah sensasi kehangatan yang membuatnya sadar bahwa Vi tengah menangis dalam pelukannya.


" Dalam satu waktu yang akan datang, Dia yang semula nampak baik-baik saja akan berubah menjadi sesuatu yang asing dimata kita dan disaat itu terjadi, lakukanlah apa yang aku katakan sebelumnya... " sebuah ingatan mengenai nasehat dari Lumi mulai terlintas dalam benaknya dan tidak lama setelah itu, Vi nampak menutupi bagian mata dari tuannya sebelum meminta Lilis untuk merapalkan sebuah mantra sesuai permintaan darinya.


" Jadilah sosok hebat seperti dalam janji~ dan pada saatnya nanti aku akan menuntunmu kembali... " ucap seorang wanita secara samar disaat dirinya tengah mencoba mendengarkan apa yang Vi katakan.


" Mana transver! " ucap Vi melanjutkan akhir dari mantra yang diucapkan oleh Lilis sembari memeluk erat tubuh Rose dan memunculkan sebuah cahaya biru diantara keduanya.

__ADS_1


__ADS_2