
*Swuuungsss* Hembusan angin dingin menerpa tubuhnya yang terbaring di atas kasur awan nan lembut.
*cicicip cicicips * suara merdu dari kicauan burung di telinganya membuat Lilis terbangun tidak lama setelahnya.
"Eh? Dimana, Aku?" Ucapnya dalam kebingungan setelah kesadarannya kembali bersama ingatan terakhir mengenai kebersamaan dirinya bersama Rose, Vi maupun Airi.
Berjalan dalam perasaan penuh kekaguman yang bercampur dengan kebingungan mengenai tempat serupa altar besar dengan pilar pilar putih penyangga kubah berbalut ukiran indah.
" [Ap, apakah a--aku sudah ti---tiada?! ] " ucapnya dalam keraguan dikala kaki yang menompang dirinya tengah memijak birunya lantai serupa langit setelah beberapa burung melewati tubuhnya.
* zrazaps zrazaps zrazaps Scriiiingssss sdraaaaaapssss sgragssss * Beberapa suara lain mulai terdengar begitu keras ketika Lilis mulai mendekati beberapa pilar cahaya kuning yang sesekali berkedip
" Aku kira, aku membutuhkan lebih banyak waktu untuk menyelesaikan rangkaian ini. " ucap seorang pria berrambut pirang dengan mata hetero merah dan biru, tengah menatap sebuah binari yang termuat dalam kombinasi pentagon sihir berlapis.
" [ Dilihat dari manapun juga, pria tampan yang di sana itu. Sama persis seperti seorang petualang tingkat tinggi yang selalu aku kagumi! ] " ucapnya dalam diam sembari bersembunyi pada salah satu pilar yang dilewati gumpalan awan.
Sebuah sapaan ramah terdengar begitu familiar setelah pria berbalut kain merah serupa busana khas seorang pangeran pada satu kerajaan membuat jantungnya berdetak begitu kencang hingga membuatnya hampir kehilangan kesadaran.
" A--ano, tuan. A--apakah tempat ini adalah surga? " ucapnya dengan begitu polosnya ketika sosok itu mengusap pelan kepalanya dan membuat berbagai pemikiran rumit dalam kepalanya menghilang.
Tawa senang dari sosok pria itu nampak begitu jelas meski tersembunyi dalam penutup sapu tangan sebagai sikap etis dihadapan seorang perempuan.
" Jadi, tempat ini bukanlah tempat yang aku bayangkan. Yah? " ucapnya dengan sebuah kekecewaan setelah pria yang ada dihadapannya menjelaskan bahwa tempatnya berada, bisa dikatakan sebagai altar pemisah jiwa.
__ADS_1
Duduk diam pada sebuah bangku yang tercipta dari kumpulan awan membuatnya terus bergumam penuh keraguan mengenai apa yang sosok itu katakan hingga beberapa kilatan cahaya dan gemuruh mengubah tempat indah itu menjadi tempat yang mengerikan.
" Hehe, sepertinya mereka sudah sampai pada batasannya. " ucap pria itu terdengar samar setelah menepukkan kedua kakinya sebelum bangkit dari tenpatnya berada.
" Liliana Arshen. " ucap pria itu kembali menyebutkan nama asli dari Lilis sebelum membawanya pada pusat kombinasi pentagon berlapis.
" He, em. Kamu hanya perlu meyakinkan diri, bahwa nantinya kamu akan terbebas dari status buruk yang mengikat tubuhmu dan mempercayakan hal yang tersisa kepadaku." ucap pria itu dengan percaya diri sebelum meminta Lilis menutup mata agar kesadaranya bisa kembali ke tubuh aslinya.
" A~! * dbughs* Aduh! " teriaknya penuh kesakitan ketika sebuah sengatan listrik yang begitu dasyat menyelimuti seluruh tubuhnya sebelum kesadarannya kembali dalam diri bersama luka di dahi.
Berjalan kembali menyusuri setiap sisi maupun sudut ruangan tempatnya berada sembari meyakinkan diri bahwa tempat itu adalah rumahnya sendiri.
" Salam, Arshela Lili. " ucapnya dalam hati sembari membaca sepucuk surat yang tertinggal di atas meja dengan tulisan tangan yang asing baginya.
Mengabaikan setiap salah kata maupun tanda baca yang ada, tetesan air mata mulai membasahi pipi setelah menyadari bahwa ada hal yang hilang dalam dirinya
" [Liliana, Arshen. Terima kasih atas semuanya. ]" ucapnya dalam diam dengan kembali memandang Kota Greymelin sembari berjalan menapaki jalanan menuju tujuannya awalnya bersama Airin dan Vi.
" He, em. Senang rasanya jika aku bisa seperti mereka. " gumamnya dalam keramaian sekolah setelah melihat beberapa orang tua maupun murid datang memberikan pelukan hangatnya.
" Tidak, beliau bukanlah sosok yang kalian sebut itu. Nama beliau sendiri adalah Artemis Michela. " ucapan Elen yang menegaskan bahwa Rose bukanlah pemimpin dari Liga Nebula terus terngiang dalam kepalanya disaat lukisan serupa dengan sosok Rose terpampang jelas diantara 20 orang pengurus liga.
__ADS_1
Berjalan dengan pelan sembari menenteng perbekalannya selama prodi study itu berlangsung sempat membuatnya goyah dan berulang kali mengistirahatkan diri di tepian jalan
" Jika kamu memang berniat mengetahui siapa diriku kembali, kamu bisa bertanya pada seorang perempuan dengan perisai dan pedang perak di tepian jalan beberapa hari kedepan. " ucapnya dalam diam sembari mengingat satu pesan dari seorang penjaga toko yang dititipi sebuah bingkisan dari sosok yang menyebut dirinya tuan.
Bertanya dalam keraguan untuk memastikan bahwa dirinya tidak salah orang.
Lilis kembali tersenyum senang setelah jawaban yang dikatakan perempuan itu, sama persis seperti ucapan yang ingin dirinya dengar.
" Kalau begitu, adik. Mari, aku antarkan kamu ke tempat yang aku maksud. " ucap Lilis sembari mengajak Iris untuk pergi ke rumahnya.
Sempat merasa takut dengan sosok asing yang mendatanginya sembari bertanya mengenai seorang tuan misterius yang memintanya menemui dirinya, Iris mulai melangkahkan kakinya setelah keyakinan atas sosok perempuan yang datang itu bukanlah sosok yang mencurigakan.
" Ikaros, Airis. Maaf, karena aku belum sempat mengatakan hal ini kepadamu. Namun setelah mengingat kembali kenangan masa lalu dalam sejarah petualanganku, aku ingat betul bahwa aku pernah bertemu dengan kedua orang tuamu. " ucapnya dalam sebuah kamar sederhana di lantai dasar rumah Lilis sembari membaca sebuah surat kecil yang terselip di sebuah meja.
Menemukan sebuah fakta mengenai kehancuran kerajaan yang di pimpin oleh kedua orang tuanya membuatnya begitu terkejut.
Terlebih dalam surat itu pun, Rose menyampaikan beberapa hal memilukan sebelum kedua orang tuanya kehilangan kesadaran dan membuatnya harus hidup bersama seorang mantan pahlawan.
Berjalan menyusuri hutan sembari menahan rasa sakit atas kenyataan yang begitu kejam, membuat Airis memilih mengakhiri nyawanya pada satu tebing curam di ujung hutan.
* Hyuuuuuppppsssss Hyuuuuummpssss * Tarikan nafas panjang yang disertai hembusan angin yang menerpa dari tempatnya berada sempat menggoyahkan keyakinannya untuk mengakhiri nyawanya.
" Alteria! " teriaknya penuh harap ketika rasa takut mulai menelan keberaniannya dalam jurang besar yang teramat dalam.
__ADS_1
* Scriiiingssss sdraaaaaapssss sgragssss sgragssss sgragssss sbruuuummmssh* Beberapa potongan logam bercahaya mulai terbang dengan sangat cepat dari sebuah tempat sebelum menyatukan diri pada tubuh Iris yang hampir mencapai dasar jurang dan membuatnya terbang kembali ke atas langit dengan set armor mecha lengkap dengan perisai maupun pedang besar yang kini memancarkan aura kuning ke emasannya.
" Ti~da~k!!! Ba~gaiman! Cara! Menghentikan! Ini! Semua!!! " Teriaknya dengan tangis air mata ketika apa yang dirasakannya kalih ini melebihi rasa takutnya atas kematian sebelumnya.