Fantasyum

Fantasyum
Bab 6.4


__ADS_3

" Argh! [ Ya ampun! aku tidak menyangka bahwa Angela biasa sangat nyaman memakai pakaian semacam ini!] " gumamnya sembari menahan rasa gerahnya ketika Regina memaksanya memakai sebuah pakaian formal sebagai bentuk ketersediaannya untuk melatih beberapa murid unggul dari sekolah yang dipimpinnya.


Sembari menunggu beberapa patah kata yang disampaikan oleh seorang guru pelatih kepada para murid terpilih, Nana berulang kali mengibaskan kerah dari baju yang cukup tertutup itu dan membuat beberapa siswa laki-laki nampak memandanginya dengan tatapan menyimpangnya.


" Baiklah, baik. Salam kenal semuanya. Namaku adalah Narelia Namora dan kalian dapat memanggilku Nana. " ucapnya memperkenalkan diri sembari memandang para murid itu dengan tatapan kesalnya


" M~ yah. Jika kalian mendengarkan apa yang tuan Fernan katakan, maka kalian sudah tahu mengenai apa yang akan aku inginkan darikalian. Oleh karena itu, kita akan segera pergi ke reruntuhan terdekat dan menguji kemampuan kalian dalam medan yang sebenarnya. " lanjutnya dengan mengatakan apa yang dirinya pikirkan setelah melupakan apa yang telah di pesankan oleh Regina.


Sesaat sebelum Nana menuruni tangga dari kursi yang menjadi panggung kecil itu, beberapa pertanyaan mengenai persiapan seperti apa yang telah Nana siapkan maupun seperti apa medan yang harus dihadapi serta beberapa hal lain mengenai pelatihan tersebut.


" Hm~ yah. Sejujurnya aku sendiri tidak terlalu mempersiapkan hal rumit seperti yang kalian katakan itu. " balasnya sembari menjelaskan bahwa apapun yang akan terjadi nantinya dirinya hanya akan bertanggung jawab atas keselamatan mereka dan tidak memperdulikan kesiapan macam apa yang mereka bahas.


" Dan lagi. Semua persiapan itu memang penting untuk di lakukan para pemula seperti kalian. Maka dari itu, aku akan mengijinkan kalian menyiapkan apa yang kalian perlukan dan kembali kemari sebelum kereta naga yang disana itu menghilang. " balasnya setelah mengingat satu kejadian buruk dimana tuannya membawanya dalam satu reruntuhan dan dirinya hampir mati kelaparan.


Kembali melangkahkan kakinya turun dari panggung untuk mengambil pedang besarnya yang dititipkan pada Fernan, beberapa murid kembali menanyakan hal yang kurang jelas kepadanya.


" Selain dari makanan, ramuan dan perlengkapan seperlunya. Yang perlu kalian siapkan adalah rekan yang benar-benar mengerti seperti apa sosok kalian. " balasnya memberikan masukan sebelum memanggul pedang besarnya itu dan melangkahkan pergi.

__ADS_1


" Tapi, Bu Nana. Kami sendiri dipilih secara acak dari kelas yang berbeda dan itu membuat kami tidak mengetahui siapa yang harus kami percayai. " balas salah seorang murid dikala murid lain mulai menyiapkan keperluan mereka.


Dengan menghentikan langkahnya dan menatap tajam murid itu penuh kekesalan, Nana mengusap pelan kepala murid itu sembari mengatakan bahwa dirinya tidak peduli akan hal itu.


" Sama halnya seperti saat kamu memberanikan diri untuk mengajak seorang menjadi temanmu, nak. Dengan sebuah kepercayaan maupun keyakinan yang ada dalam benakmu itu, kamu dapat memilih maupun memilah rekanmu sendiri. " lanjutnya setelah melanjutkan langkah kakinya sembari melambaikan tangannya tanda perpisahan.


Merasa bingung atas apa yang Nana katakan, murid itu segera menyiapkan apa yang dirinya perlukan sebelum mengajak seorang menjadi rekan.


" Oi, oi! Kereta naga mulai bergerak! " ucap seorang murid ketika tidak sengaja melihat kereta naga yang dimaksudkan telah bergerak dari tempatnya disaat para murid unggul itu belum selesai mengepak persiapan mereka.


" Hehe, ya ampun. Aku ingat hal semacam ini disaat ibu berpesan kepadaku bahwa memilih satu rekan dalam satu party hampir sama seperti memilih seorang pasangan hidup untuk saling melindungi. " gumamnya sembari melihat beberapa murid yang berusaha mengejar kereta naga itu dan meninggalkan persiapan mereka sendiri.


" * Hiks * Semua persiapan yang aku siapkan justru malah tertinggal. " ucap salah seorang murid sembari meringkukan tubuhnya di sudut dari kereta naga itu ketika para murid lain berjalan mendekati Nana dengan tenaga yang tersisa.


" Tch. [ astaga naga, mereka benar-benar jauh dari apa yang aku kira. ] " gumamnya kesal sebelum mengalihkan pandangannya kembali ke reruntuhan itu.


Duduk dalam satu barisan yang dibentuk secara spontan setelah perijinan dari Nana untuk para murid unggul itu, beberapa murid nampak lesu dan membuatnya sangat jengkel.

__ADS_1


* gbralsssh * Sebuah dentuman keras terdengar di dekat mereka yang kelelahan itu dan segera mengambil sikap siaga atas sesuatu yang mendekat dari balik debu yang berterbangan


" Tenaglah kalian. Ini aku~!" ucapnya dengan ramah sembari menyeret seekor hewan besar dengan pakaian yang menunjukkan bekas pertarungan yang mengerikan.


" Kalian tidak perlu menghawatirkan diriku yang seperti ini. Akan lebih baik jika kalian bekerja sama untuk membuat satu perkemahan kecil disini sembari mengisi tenaga dengan beberapa hasil buruanku ini. " lanjutnya sembari melemparkan tubuh hewan besar itu yang ternyata terikat oleh sebuah rantai pengikat dari pedang besar yang dibawanya serta beberapa hewan kecil yang juga ada disekitar hewan besar itu.


Melihat kembali semangat para murid unggul itu, Nana duduk di dekat salah satu murid unggul yang nampak menikmati hidangan dari beberapa makanan yang dirinya siapkan.


" Aku sangat menyesal bahwa kalian tidak sekuat apa yang aku harapkan dan melihat kebodohan kalian yang begitu mudahnya meninggalkan persiapan matang itupun membuatku yakin untuk membatalkan ujian yang telah dijadwalkan ini dan memberikan kalian nilai D minus sebagai kebaikan. " ucapnya dengan serius sembari mengambil porsi lebih kecil dari beberapa porsi besar yang para murid itu ambil.


Mendengar ucapnya yang begitu tiba-tiba itu, beberapa murid nampak tidak terima atas keputusan itu dan membuat hidangan yang sempat ingin dirinya santap harus jatuh.


* Sbrashssss * Sebuah ledakan energi yang luar biasa hebat menghempaskan semua hidangan yang tersisa ketika Nana mengacungkan pedang besarnya pada murid yang kelewat batas itu


" Ketahuilah posisimu, anak muda! Apakah kamu tidak mengerti apa yang aku katakan sebelumnya! Aku benar-benar tidak peduli dengan kalian! Aku hanya mengatakan akan melindungi kalian yang layak aku lindungi! dan itu berarti, aku benar-benar tidak peduli pada kalian yang bersiakp arogan! Mengerti! " Teriaknya dengan penuh amarah sebelum menebaskan pedang aura itu dan membuat pepohonan yang berada dalam area tebasan itu terpotong sepanjang mata memandang.


" Bibi. " ucap Fei yang tidak menduga bahwa kemarahan dari Nana akan begitu mengerikan seperti apa yang ada dihadapannya.

__ADS_1


" Teman - teman, maaf. Aku akan mencoba menenangkan amarah dari Bibi Nana dan memintanya untuk menjelaskan apa yang menjadi tolak ukur atas nilai yang di berikan. " ucap Fei sembari menggunakan kekuatannya untuk menenangkan ketakutan para murid yang lain sebelum mengejar Nana yang masuk dalam reruntuhan itu.


__ADS_2