Fantasyum

Fantasyum
Bab 7.5


__ADS_3

Berjalan menjauh dari kuil terlantar itu bersamaan dengan diambilnya sebuah drop item dari beberapa monster yang berkeliaran, Rose mengingat satu nama dalam game versi serupa yang didalamnya tertulis jelas bahwa Ikeros Airis adalah salah satu heroin dalam kisah utamanya.


" Entah apa yang akan terjadi nantinya, setidaknya aku sudah menyimpan beberapa nama karakter yang mungkin akan menjadi hit poin yang harus aku hindari. " gumamnya dengan tawa sembari mengabaikan cahaya kuning yang membumbung tinggi dihadapannya.


Angin lalu membawa hari dimana mereka mulai mendatangi tempat yang dijanjikan


* swarpsss * " Selamat datang di rumah kami. " ucap Nana menunjukkan sebuah menara tinggi berselimut dinding sihir bariarel dengan sabuk kristal yang mengikat beberapa bagian terpisah secara samar


Bersamaan dengan dibukanya pintu besar yang terikat rantai sihir dan pengunci mecha, mereka yang melihat menara besar itu benar-benar bahagia.


" Nebulae Cottegia, kan ya? [ Sebuah liga tingkat menengah yang di alihkan oleh orang itu kepadaku sebelum dirinya memilih MMORPG lainnya. ] " ucap Rose sembari memandangi sebuah pintu besar dengan ukiran dari sebuah pedang besar di atas jaring symbol cakra ying - yang.


" Symbol Negri Kaum Minori yang kini dikenal dengan sebutan Demi. " lanjutnya dalam kesunyian disaat melewati sebuah lorong yang disinari batuan kristal kuning dengan ukiran bunga sakura putih didalamnya.


Terhenti di depan sebuah gerbang kuil besar berwarna merah, Rose mendengar langkah kaki dari seorang dan membuatnya memilih untuk bersembunyi diantara kegelapan yang ada.


" Gerbang besar " Mara" merupakan batas jelajah yang memisahkan bangunan utama dari rumah kami dengan bangunan akademi nebula ini. " Jelas Bela sembari mengatakan sebuah hukuman yang lebih buruk dari kematian kepada mereka yang dengan sengaja ataupun tidak sengaja melewati gerbang itu.


Suara dari ludah yang tertelan diantara keheningan kala itu membuat Bela dan Nana saling menatap satu sama lain sebelum melanjutkan langkahnya setelah menganggukkan kepalanya sesaat.


" Apakah aku benar-benar melihatnya, barusan? Tapi kenapa dia ada di sini? ah, mungkin itu hanyalah ilusi semata. " gumam Iris setelah mengabaikan sebuah ilusi dari sosok Rose yang berjalan masuk melewati gerbang besar itu

__ADS_1


Sembari memegangi dagunya dan mencoba mengingat sesuatu, Rose mulai merapalkan sebuah mantra dihadapan kuil sederhana dan setelah pintu kuil itu terbuka dengan cahaya yang menyilaukan mata, Rose pun berjalan memasukinya.


" Mengingat kembali fitur terbaru dalam versi ke 7 saat itu, Ategia Faith Mansion adalah fitur terbaik untuk mewujudkan bentuk dari rumah idaman berdasar pada disain yang di sediakan." ucapnya dengan wajah bahagia setelah melihat sebuah rumah besar dengan warna coklat dominan yang berdiri kokoh diatas tanah hijau berselimut rumput dan tirai pohon di belakangnya.


" Hm~ yah. meskipun nampak sederhana dan terkesan kuno dalam lini berbagi foto, setidaknya keinginanku untuk melihat keindahan alam kala itu bisa terwujud [ Walaupun harus mengorbankan separuh gajih bulannanku. ] " lanjutnya dalam diam sembari mengusap pintu depan rumah besar itu.


Menarik nafas panjang sembari mengumpulkan keberanian, sebuah ingatan mengenai seorang npc tambahan membuatnya sadar bahwa dirinya melakukan satu kesalahan yang fatal.


" Ada lebih dari 500 pelajar terpilih yang mendedikasikan hidupnya untuk mempelajari berbagai bentuk peninggalan yang dikumpulkan oleh beliau, tuan kami. " balas Bela yang kembali menyinggung beberapa research dan item sederhana sampai tingkat dewa yang tersebar di setiap sisi bangunan itu.


Dengan mengatakan beberapa ruangan khusus seperti bar, toko liga, pusat misi dan gedung utama, mereka yang berada di belakang Bela dan Nana mulai menganggap bahwa Liga merupakan sebutan untuk sebuah kota khusus pada masa Avoid masih ada.


Melihat tatapan mata kosong dari npc yang ada dihadapannya membuatnya sempat berfikir bahwa sosok npc itu telah tiada dalam dunia game yang menjadi kenyataan.


Sembari mencoba memberanikan diri untuk memastikannya, sebuah tarikan paksa dari kedua tangan npc itu membuatnya masuk kedalam pelukan hangat yang terasa begitu nyaman baginya meskipun sempat dibuat terkejut karenanya.


" Selamat datang kembali, anakku. Senang rasanya bisa kembali memelukmu." ucap npc itu sembari mengusap pelan kepala dari Rose sebelum kehilangan kesadarannya


Merasa bahwa apa yang dirinya khawatirkan sebelumnya telah terjadi membuatnya langsung bergerak cepat untuk menyelamatkan npc itu dengan memberikannya hal yang sama seperti saat Vi hampir kehilangan nyawanya.


" Untuk sekarang, kalian boleh beristirahat di tempat ini sampai esok hari dan aku harap kalian tidak melakukan sesuatu yang berakibat fatal kepada diri kalian. Mengerti? " ucap Bela sebelum menutup sebuah ruangan khusus untuk mereka mengisi tenaga.

__ADS_1


" [ Mungkin akan lebih baik memberinya nama baru setelah ini. ] " ucapnya sebelum membaringkan diri di atas kasur besar di lantai kedua yang tempatnya bersebrangan dengan kamar npc sebelumnya.


Memeriksa kembali statistik data yang ada seperti halnya saat dirinya melakukan transfer mana, dirinya sempat tertawa sesaat ketika melihat bahwa energi yang dikirimkan lebih besar daripada energi yang dikirimkan kepada Vi.


" hey, hey... bagaimana menurut kalian mengenai sosok beliau itu? bukankan sosok itu nampak seperti Ka Sera? " ucap Fei membuka topik pembicaraan setelah beberapa pembicaraan lain sempat dibahas sebelumnya.


Mendengar berbagai tanggapan yang terucap berdasar pemikirannya masing-masing sempat membuat Iris menahan keinginannya untuk mengatakan bahwa Sera merupakan sosok asli dari Beliau yang Nana maupun Bela sebutkan.


" He, em~ [ Jadi ini yang dia sebutkan sebagai harga yang setara dengan kelangsungan hidupku dan mereka.. ] " balas Iris mengangguk setuju sembari memikirkan ucapan Rose disaat dirinya mengucap janji suci dark sikap kesatria.


Pagi abadi dengan kelembapan suhu yang sama kembali dirasakannya setelah terbangun di atas kasurnya.


" Aku pikir, aku akan kembali ke waktu sebelumnya... " gumamnya dalam sunyi sembari melihat sosok Airina yang sibuk mengurus taman kecil dari luar jendela kamarnya.


Melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan atas ke bersamaan yang mereka lalui selama waktu kunjungan itu merupakan hal terakhir yang mereka lakukan setelah mengemasi barang bawaan mereka dan kembali ke rumah bersama keluarga yang menanti di gerbang kota.


Sempat terlintas perasaan iri atas sambutan hangat atas pelukan penuh kasih yang diberikan oleh orang tua mereka, Iris dikejutkan dengan pelukan hangat sosok asing yang begitu tiba-tiba.


" Tenanglah, Ikelos Airis... Kamu tidak perlu khawatir mengenai siapa diriku karena tuan memintaku untuk mengatakan hal ini disaat kamu menolak keberadaanku... " bisik sosok itu sembari mempererat pelukannya pada Iris dan membuatnya pahan atas apa yang ingin dirinya sampaikan.


" Jadi benar, ya? sosok yang aku lihat waktu itu adalah dirinya... " gumam Iris sembari melanjutkan langkahnya mengikuti sosok asing yang menyebut dirinya sebagai Viola.

__ADS_1


__ADS_2