
" Hm, baiklah. Aku sungguh minta maaf atas kekesalan yang aku tunjukkan sebelumnya. " ucap Rose dengan nada penyesalan setelah mendengar penjelasan Gaia mengenai bekas damage area pada hutan sebelumnya.
Menyembunyikan rasa kekhawatiran dalam diri mengenai sosok yang mampu menyetarai kesamaan sihir dari Gaia yang tidak lain merupakan sosok elder guardian, Rose mengusap pelan kedua bahu dari Gaia sebelum mengalihkan pemikiran berlebihannya itu pada Vira dengan pandangan iba.
" [ Seharusnya aku meninggalkan salah satu Grimori sebagai bekal hidup untuknya sebelum aku kembali ke dalam bentuk ini. ] " Pikirnya sembari mengusap kristal sihir berisi tubuh Ize yang nampak terjaga.
Pulih dalam kondisi kesadaran yang belum sempurna, Vira yang mencoba mengingat kejadian sebelumnya dikejutkan oleh suara lembut dari Izera yang terdengar begitu jelas bersama sebuah tubuh buram bermandikan cahaya yang setelahnya memberikan usapan lembut dengan sensasi kelembutan sama seperti yang biasa kakaknya berikan kepadanya.
" Syukurlah bahwa kamu baik-baik saja, Vira. " ucap sosok itu yang kembali teringat dalam diamnya sembari memandang tubuh dari kakaknya yang mana salah satu tangannya meremas erat kalung kristal yang dikenakan dengan pemikiran bahwa kakaknya datang di saat terakhir sebelum ajal menjelang.
Mengucap beberapa kata secara berulang untuk memastikan diri bahwa apa yang terjadi bukanlah khayalan, cahaya kuning keemasan kembali menyala dalam ruangan sebelum akar serabut menyelimuti diri dan setelahnya sosok kakak yang selalu dikagumi kembali menunjukkan diri.
" Kaka!!! " Teriaknya dengan tangis air mata sembari memeluk erat tubuh kakaknya yang terasa begitu nyata di depan mata.
Melepas tawa dalam wajah bahagia sembari menenangkan tangi dari Vira, Rose yang mengambil wujud serupa Izera menggunakan sihirnya mengucap penjelasan pada Vira mengenai dirinya yang saat ini bukanlah sosok yang nyata dan akan kembali menghilang dengan segera.
" Tidak apa, Vira. Kakak akan selalu mengawasi dirimu dari alam sana. " lanjutnya sembari menunjuk kalung kristal yang dikenakan sembari berpesan bahwa dalam satu sihir terlarang, sisa dari kesadaran yang dimiliki masih bisa menunjukkan eksistensi diri demi menyelamatkan Vira dari bahaya yang mengancam nyawa.
__ADS_1
* krepts * sebuah retakan rambut mulai menampakkan diri tidak lama setelah tubuh dari kakaknya kembali menghilang darinya bersama akar serabut yang kembali ke bentuk kalung anyaman seperti sebelumnya.
Memeluk erat kalung kristal itu sembari menahan tangis air mata dalam perasaan bercampur dari kepedihan dan rasa bahagia mulai membangunkan Altaira dan Alruene yang tidak jauh darinya.
" Jika kamu memang berniat menjadi lebih kuat dari sekarang ini, kamu bisa memperoleh satu kekuatan sihir ataupun non sihir dengan hanya membacanya. Namun setelah buku ini terbaca sepenuhnya, isi dari buku akan hilang bersama bangkitnya satu jenis kekuatan seperti yang aku katakan sebelumnya. " ucap kakaknya yang kembali terlintas dalam keheningan malam di waktu akhir menjelang pengajaran dari Viro yang di janjikan.
Menaruh buku sihir pemberian kakaknya di atas jendela sebelum membersihkan kembali kristal sihir yang mengurung kakak secara rutin sebelum memejamkan mata, suara gaduh dari tempat Vira berada mulai terdengar di waktu sarapan tiba dan membuat Alruene maupun Rola, Sasya dan Altaira segera mendatanginya dengan tujuan untuk menenangkan Vira yang dirasa kembali mencoba menghancurkan kristal sihir yang mengurung Izera.
" Kakak! Buku itu! Buku kakak! Hilang ! " ucapnya mencoba memberikan penjelasan atas hilangnya buku sihir pemberian kakaknya pada mereka yang datang padanya.
" Aduh, kaka. Bagaimana ini. Apa yang harus aku lakukan menjelang hari pelatihan itu? " gumam Vira dalam putus asa sembari melihat pantulan diri dari pisau belati yang kakaknya berikan di waktu yang sama di saat buku sihir yang hilang diberikan.
Memainkan pisau belati itu seperti saat kakaknya masih sering mengajaknya berburu di sekitar kota ataupun area pelatihan tingkat pertama, kilau cahaya dari hiasan buku sihir berbentuk matahari di atas sampul hitam di sertai garis samar serupa gelombang membuat pandangan mata yang dialihkan ke dalam lorong ruangan semakin terbuka lebar bersama perasaan bahagia di waktu dirinya melihat Mina dari aula taman tengah memegang buku sihir yang dikira hilang olehnya.
" Ah, ano. Nona Vira ? Apakah ada yang salah dengan saya ? " ucap Mina menahan rasa takutnya ketika tatapan Vira yang ceria berubah menjadi tatapan kosong meski senyum senang sebelumnya masih nampak di wajahnya.
Mengingat kembali ucapan kakaknya mengenai isi buku yang akan langsung hilang seketika setelah di baca, suara lirih dari buku yang jatuh dalam genggaman tangannya mulai menghapus sisa kesenangan dalam wajahnya sebelum tatapan kosong berubah menjadi tatapan tajam bersama rasa marah yang diledakkan.
__ADS_1
" Nona Vira!! " Teriak Mina sembari mencoba menghindari gerakan cepat dari Vira yang terus mencoba menyerang dirinya menggunakan belati tajam yang digenggam.
* sreses! scrips! sreses! sreses! * Mencoba menyelamatkan diri dengan keluar menuju salah satu tempat santai yang selalu digunakan Altaira, Sasya, Merry, Rola maupun Alruene, serangan cepat dari Vira mulai menyayat setiap bagian tubuh dan merusak pakaian yang dikenakan hingga menyisakan beberapa kain yang menutup bagian tubuh kewanitaannya.
" Tidak !!! " Teriaknya kembali di waktu ujung belati itu nampak jelas dihadapan mata.
* Stumpts, Sdrumssss * Menampakkan aura membunuh yang teramat menakutkan dengan wajah datar tanpa senyuman, serangan mendadak dari seorang menggagalkan serangan fatal yang bertujuan untuk meniadakan nyawa Mina yang ada dihadapannya.
Memeluk tubuh Mina dengan penuh rasa syukur atas serangan terakhir yang digagalkan, beberapa penghuni mansion yang telah dilatih keras oleh Altaira mulai memasang badan dihadapan Vira meski rasa takut dan gemetar nampak jelas diantara mereka.
*bctsh* Meludahkan darah yang keluar dari mulutnya akibat serangan kejutan yang mengenai diri sebelum mengusap bibir menggunakan siku kanan lagi mempererat kembali genggaman belati dalam tangan, keinginan kuat untuk membinasakan kembali muncul dalam diri bersama langkah kaki yang menerjang setiap sisi tempat mereka berdiri sebelum memberikan serangan fatal pada mereka yang menghalangi.
Denting suara dari berbagai senjata yang digunakan oleh dua kelompok terkuat untuk melindungi Mina mulai terdengar memekakan telinga di waktu kelompok lainnya yang tidak mampu melawan Vira mulai menyebar ke penjuru kota untuk memanggil bantuan pada Altaira maupun para pilar utama demi menghentikan amukan Vira yang tiba-tiba.
" Sungguh, aku tidak tahu apa yang terjadi! Nona Vira tiba-tiba mengamuk dan menyerang dengan brutal setelah dia menjatuhkan buku bacaan. " ucap Mina dalam tangis air mata sembari menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya yang terluka akibat serangan Vira.
.... .... ....
__ADS_1