Fantasyum

Fantasyum
Bab 26.4


__ADS_3

Melewati masa orientasi dengan terus berada pada pengawasan pihak pengamanan sekolah platina, rasa takut dalam diri kembali menghantui tak kala surat pemberitahuan terhadap orang tuanya dilayangkan pihak sekolah platina yang terpengaruh atas rumor buruk tentangnya.


" Aduh, bagaimana ini? Apakah aku akan di hukum oleh ayah? Ha-a-ah? tidak! Aku tidak ingin ayah marah kepadaku! Aduh! bagaimana ini! " Ucapnya dengan gelisah di atas halaman belakang dari bangunan asrama yang tidak lain merupakan tempatnya biasa menyendiri.


Mengalihkan pandangan ke arah surat yang di berikan beberapa kali sembari terus memikirkan penjelasan terbaik untuk membuat ayahnya mau mengampuni dirinya, pandangan dari kantung kain berisi kristal mana yang disembunyikan sebelumnya membawa keberanian untuk melakukan kebohongan.


" A--ayah? A--apakah ayah mendengarku? " ucap Queenela memastikan kristal komunikasi bekerja dengan baik meski harus memaksakan keberaniannya untuk menghubungi ayahnya.


Mendengar sebuah ledakan besar yang menandakan bahwa di malam itu ayahnya masih di sibukan dengan pelatihan diri membuatnya semakin merasa takut atas gangguan yang di sebabkan olehnya.


" Ah, tidak Ela. Ayah hanya mencoba menggabungkan beberapa rangkaian sihir seperti biasanya. " ucap ayahnya yang begitu lembut meski terdengar gemercik air secara samar diantara ucapannya.


Menjelaskan mengenai masalah yang terjadi pada dirinya terkait rumor bahwasanya dialah penyebab masalah pada tempatnya belajar, respon tawa tidak terduga justru terdengar dalam kristal komunikasi itu sebelum ucap maaf ayahnya yang bersama dengan itu menjelaskan bahwa kemampuan pertahanan yang sekolah itu banggakan tidak mampu menahan kekuatan dari dalam diri Queenela sendiri yang pada dasarnya sudah di perlemah oleh beberapa item yang dikenakan.


" Selain dari gelang kayu yang menyerap seperempat energi mana yang kamu kenakan itu pun, beberapa benda seperti pelindung tubuh dan bandana yang kamu bawa pun memiliki sedikit efek pengurangan daya tahan dan daya serang. " lanjutnya mencoba menenangkan kehawatiran putrinya terhadap nasib yang akan membawanya pada perempuan muda dari kisah buatannya.


Meminta sedikit waktu untuk mempersiapkan diri sebelum menghadiri acara pertemuan antara para staff kemanan, guru pengawas uji pelatihan dan orang tua dari Queenela, rasa bingung penuh tanya mulai menyelimuti masing-masing dari mereka tak kala mendengar ucapan Queenela yang meminta mereka untuk menemui ayahnya dalam area hutan.

__ADS_1


" [ Nh, bersabarlah diriku. Bersabarlah. ] " ucapnya menenangkan diri dari rasa marah dalam dada ketika melihat Victoria tiba-tiba datang untuk mengatakan bahwa semua persiapan telah diselesaikan.


Menganggukkan kepala sebagai tanda kesepakatan untuk mengikuti langkah Queenela setelah melihat sosok Victoria yang tidak lain merupakan lengan kanan dari Airina, berbagai rasa yang bercampur aduk dalam dada mulai timbul tak kala melihat pasukan kavaleri lengkap dengan pertahanan armor baja nampak berbaris dalam sebuah formasi dihadapan pohon besar tempat Airina menanti sambil berdiri.


" [ Ini benar-benar masalah besar! ] " pikirnya dalam gemetar ketakutan tak kala Airina menempelkan jari telunjuk pada bagian bibir sebagai tanda bahwa dirinya harus tetap patuh dalam diam.


Menelan ludah dengan susah payah atas ketegangan yang terjadi diantara situasi tidak terduga, ucapan lembut dari Airina yang memanggil Queenela mulai membuat Queenela melangkah maju dari tempatnya semula sebelum melakukan sesuatu pada pohon besar dihadapannya.


" A---ayah. Putri kecilmu datang memanggil namamu. " ucapnya lirih dengan memaksakan diri sebelum mundur beberapa langkah dari tempatnya.


" Hahahaha! Ya ampun, Ela. Ayah tidak menduga bahwa kamu benar-benar melakukan apa yang ayah minta sebelumnya." ucap Rose melalui kristal komunikasi yang telah di tanam cukup dalam pada pohon besar itu sebelumnya sebagai tanda pemalsuan atas kemampuan yang akan Gaia gunakan.


" Baiklah, baiklah. Ayah akan datang ke sana. " balasnya yang merasa cukup atas drama yang di bahas pada malam sebelumnya.


* Splendummmmmmsssss!!! * Ledakan besar energi mulai terasa begitu hebat setelah kedipan cahaya kuning kehijauan muncul diantara ranting pohon besar dihadapan mereka dan setelahnya berbagai macam akar merambat mulai membentuk sebuah pintu di bagian batang pohonya.


" He~em, salam sejahtera untuk kalian semua. " ucap sapa Rose pada mereka yang nampak bersiaga ketika melangkahkan kaki melewati pintu teleportasi buatan Gaia.

__ADS_1


Dengan menunjukkan sikap ramah lagi berwibawa dalam setiap kata yang di ucap untuk menyapa Angela, Airina, Victoria dan Queenela, pandangan kagum atas kehadiran dirinya yang memakai pakaian perang terakhir ketika melawan dewa petaka sembari mengenakan beberapa senjata warisan sebagai tanda pengingat atas mereka yang sempat mengira bahwa dirinya telah lama tiada.


" Sepertinya tidak ada hal lain yang perlu aku katakan kepadamu, bukan? Angela? " ucapnya menahan bibir dari Angela menggunakan pecahan meriam alteri G3N05 dalam mode Assault weapons baronet's.


Menahan empat belas pedang kristal mecha pada bagian leher dari para staff yang mengikuti langkah Angela dengan keinginan untuk melawan sosok ayah Queenela tanpa tahu status sesungguhnya, ucap bingung dari Queenela yang panik melihat situasi menegangkan dihadapannya membuat Victoria bangkit dari sembah sujudnya.


" Siapapun sosok yang berani melukai salah satu dari kami, maka kami tidak akan segan untuk membantai. " Bisik Victoria dengan pelan sembari menahan Queenela untuk tidak membuat ayahnya semakin marah.


Mendengar suara pelatuk yang begitu jelas terdengar diantara keheningan, tatapan takut akan kematian nampak jelas dalam raut wajah Angela yang menatap langsung kedua mata dari tuannya yang penuh dengan amarah.


" Dor!!!!! " teriaknya begitu tiba-tiba di tengah keheningan yang ada sebelum melepas tawa sembari menciptakan singgasana tanah menggunakan sihirnya.


Menahan tangis air mata dalam diri sembari menyeringai penuh kekesalan saat melihat perilaku tuannya yang tidak berubah pada candaan buruknya, hela nafas panjang yang dilakukan oleh Rose mengakhiri tawa singkat sebelumnya dan membawa pembicaraan serius setelahnya.


" Tanpa mengingatkan aturan lama yang aku terapkan di waktu sebelumnya, nampaknya kamu sudah memahami apa yang aku maksudkan atas sikapku barusan bukan? " ucap Rose yang sesekali menampakkan tawanya ketika melihat Angela yang masih mencoba memberanikan diri untuk berbicara.


Memanggil Queenela untuk duduk diatas pangkuannya bersama Airina dan Victoria yang berjalan mengiringi sebelumnya untuk berdiri di sisi Rose, Angela yang kembali mengingat kesalahannya di masa lampau mulai mengeluarkan ucapan penyesalannya.

__ADS_1


" He, em. Tidak sayangku. Semua yang kamu ucapkan itu tidaklah benar maupun salah. Karena pada dasarnya aku bermaksud memberikan kehidupan normal pada Ela dan melihat bagaimana Ela menghadapi situasi tidak terduga seperti masalah yang terjadi sebelumnya. " ucapnya menenangkan Angela yang mengakui berbagai kesalahan yang bahkan di luar masalah yang terjadi sebelumnya.


__ADS_2