Fantasyum

Fantasyum
Bab 15


__ADS_3

Mengucap sumpah suci dari sikap kesatria yang selalu menjadi acuan utama pada ikrar yang harus dijaga dengan harga nyawa, Rose menarik diri dari tempatnya berdiri sebelum menyembuhkan luka fatal yang Altair terima serta sihir suci untuk memperbaiki kondisi mental dari mereka yang begitu terguncang atas kekuatan dasyat di luar nalar.


" Kamu benar-benar bodoh, Vi! Tidak seharunya kamu menggunakan sihir area semacam itu dalam kondisi lemah semacam ini. " ucap Rose dalam bayangan yang Vi buat ketika kembali teringat satu kejadian yang hampir membuatnya kehilangan nyawa.


 


" [ Benar-benar mengerikan!!] " ucap Alruene dan Merry yang berada dalam satu jalur pemikiran yang sama setelah saling menatap mata satu sama lain di belakang Rose yang nampak acuh atas kekacauan yang dirinya lakukan.


Berjalan masuk kedalam guild petualang untuk mengambil sebuah misi setelah bersusah payah menembus barisan petualang yang sibuk mempersiapkan ujian kenaikan, sebuah perasaan kecewa kembali didapatkan setelah mengetahui bahwa hari itupun tidak ada misi lain selain dari misi khusus kenaikan rank.


" Em, ano. Izeral. Kenapa kamu sangat membenci hal semacam kenaikan rank ini? Bukankah nantinya jika kamu naik peringkat, beberapa hal juga ikut meningkat? Seperti tambahan hadiah misi ataupun populatitas, mungkin? " ucap Alruene dengan rasa penasaran tinggi setelah rasa takut dari hal tidak terduga sebelumnya mulai mereda.


Menundukkan kepala dengan perasaan kecewa bahwa Rose hanya mengacuhkan pertanyaannya dengan ucapan panggilan pada seorang pegawai guild untuk menyajikan beberapa makanan yang dipesan, Merry dengan rasa takut namun terpaksa mulai mengulang kembali pertanyaan dari Alruene dengan logat khas darinya.


" Em~, Tidak ada alasan lain selain dari keinginan untuk hidup damai tanpa masalah selain masalah yang disebabkan oleh kecerobohan kalian. " balasnya setelah menyeruput satu minuman yang telah disajikan


Memandang satu sama lain sebelum kembali terdiam dengan rasa bersalah atas keributan yang lalu.

__ADS_1


" Tidak ada gunanya kalian menyesali apa yang telah terjadi. " ucapnya kembali setelah menjentikkan jari ke dahi keduanya yang nampak murung sebelum mengatakan bahwa mereka harus memikirkan kembali cara memperbaiki diri agar sesuatu yang sama tidak terjadi di satu masa depan nanti.


Mengusap pusat rasa sakit di dahi sebelum memakan makanan yang tersaji, mereka kembali melangkah pergi mengikuti Rose meski tidak mengetahui satu tempat pasti yang akan mereka datangi.


" Nah, nah, nah. Mungkin ini akan mengejutkan kalian. Namun, selamat datang di tempat persinggahan terakhir kalian. " ucapnya dengan wajah yang begitu senang sembari membuka gerbang besi yang menutup goa.


Perasaan takut mulai menyelimuti diri ketika Rose menggendong mereka dengan paksa sebelum menutup gerbang besi itu kembali.


" Hehe, tenanglah, tenang. Aku cuma bercanda. " Tawanya tidak lama ketika kedua perempuan yang didekapnya itu mulai memberontak setelah melihat beberapa tulang tengkorak dari berbagai macam hewan buruan yang menjadi tempat bersarang beberapa serangga melata maupun tempat tumbuhnya beberapa jamur bercahaya.


Menelan ludah dengan susah payah sembari menganggap bahwa candaan itu hampir membuat mereka melarikan diri darinya, sebuah patung dewa yang berdiri kokoh dihadapan satu lingkaran sihir yang terdiri dari berbagai macam ukiran mantra maupun bentuk yang asing bagi mereka, satu keyakinan mulai timbul dalam diri setelah mengingat disain serupa pada altar pemujaan para dewa dan dewi.


" Tu---tuan, apa yang sebenarnya ingin anda lakukan kepada kami? " ucap Merry dengan sikap melindungi Alruene ketika mengingat satu tempat serupa penjara bawah tanah yang menjadi ruangannya di mainkan para pemilik sebelumnya.


Melihat senyuman yang sama seperti saat para pria itu mulai melakukan hal hina kepada dirinya, Merry yang merasa trauma tiba-tiba jatuh dalam posisinya dengan tubuh gemetar yang membuat Alruene bingung harus berbuat apa.


" Tenanglah, gadis cantikku. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang buruk kepada mu maupun Ruene. " ucapnya dengan pelan sembari mengusap kepala Merry sebelum mengecup keningnya dan membuatnya tenang kembali.

__ADS_1


Rasa kesal tiba-tiba muncul entah dari mana ketika Alruene merasa bahwa perhatian khusus telah diberikan Ezra pada Merry dalam situasi membingungkan didepan matanya ini.


" Apakah kalian ingat apa yang katakan beberapa waktu lalu sebelum mengucap janji untuk memikat hati ? " balasnya melemparkan pertanyaan pada mereka terkait maksud dan tujuan dari keberadaan mereka di ruang yang mereka tempati.


Menganggukkan kepala dengan begitu mudahnya sebelum menjelaskan bahwasanya dia berniat menguji eksistensi sihir mereka untuk memastikan pemenuhan syarat yang di sebutkan sebelumnya, tawa singkat kembali nampak diwajah Rose tidak lama setelah Merry mengatakan bahwa dirinya siap kehilangan nyawa jika itu memang menjadi cara memenuhi syarat yang menjadi topik utama mereka.


" Cukuplah, dengan ucapan pesimis yang merendahkan dirimu, Merry. Aku hanya ingin satu dari kalian duduk di atas lingkaran itu dan setelahnya biarkan aku menilai kelayakan diri kalian mengenai syarat pembebasan itu. " lanjutnya kembali dengan menepuk bahu Merry.


Membebaskan mereka untuk memilih siapa yang pertama mengajukan diri dan meninggalkan mereka menuju pusat lingkaran yang berhadapan langsung dengan wajah sang dewi, Merry yang hendak mengajukan dirinya justru dihentikan oleh Alruene yang merasa bahwa hal itu bisa menjadi poin pertamanya untuk menyetarakan perlakuan khusus dari Ezra.


" Baiklah, Ruene. Tutup kedua matamu dan fokuskan diri pada aliran energi sihir yang mulai menyelimuti diri. " sambutnya dengan hangat sembari mendekap hangat tubuh Alruene dan memintanya merasakan aliran energi mana yang mulai memenuhi area layaknya penampakkan aura.


Tersenyum senang lagi bahagia dengan perlakuan khusus yang diberikan Ezra membuatnya semakin terlena dalam pelukan yang menghangatkan itu sebelum cahaya biru menuntunnya keluar dari satu ruang gelap yang mengurungnya.


Melihat seorang pangeran berrambut pirang dengan warna mata yang berbeda tengah menawarkan bantuan untuk menaiki satu bangunan altar megah diatas awan, senyum senang mulai memudar ketika dirinya merasa bahwa sosok yang ada dihadapannya merupakan seorang saint yang akan mencabut nyawanya karena tidak memenuhi syarat pembebasan seperti yang Ezra katakan.


" Sudahlah, sudah. Semua sudah selesai sekarang dan kamu sudah bisa menghentikan tangis berlebihan itu sekarang. " ucap Rose sembari mengusap air mata Alruene yang sedari awal kembalinya kesadaran dalam tubuhnya tadi, menangis histeris lagi enggan melepaskan diri dari pelukan hangat yang menenangkan hati.

__ADS_1


Merry mulai merasa rendah diri kembali setelah melihat Alruene yang merupakan garis keturunan dryad murni bisa menangis histeris.


" [ Semoga berkah dewi selalu melindungi. ] " ucap Merry berulang dalam hati yang penuh kehawatiran setelah mendengar Alruene mengatakan bahwa satu sentuhan dari sosok yang dilihat dalam alam bawah sadarnya membuatnya jatuh kedalam satu keputusasaan.


__ADS_2