
* Dbruuuumsss drudumsss drudumsss drudumsss, Mfuuuuuuuuummmmssss * Suara raungan keras terdengar begitu jelas di saat sosok gajah purba melesat begitu cepat menerjang seluruh saudara yang tengah berjuang seraya membawa pelindung badan berlapis platinia serta corak emas di setiap sisinya.
Sebuah amarah menggelora terus timbul dalam dada ketika melihat sosok pelajar yang telah mengabdikan diri serasa bagai saudara harus tewas begitu saja di kala gajah purba itu menyerang mereka dengan begitu kejinya
* Sdraaaamsaash * Sebuah pukulan dasyat mengguncang tanah seraya memberikan glombang dasyat yang menghempaskan seluruh sosok yang ada.
Baik mereka yang ada di langit maupun di bumi sama-sama merasakan kengerian atas satu sosok yang datang dan menghantam gajah purba itu hingga kehilangan nyawa.
* brezszssst brezszssst brezszssst * berbagai sambaran petir putih nampak begitu jelas terlihat diantara kepulan asap di atas tanah hitam yang menjulang bagaikan sisi terdalam dari tebing curam lagi mematikan.
Dalam balutan armor pejuang berwarna putih dengan ukiran api di beberapa bagian yang nampak mengalir bagai lava, sesosok pria bertopeng naga dengan jubah mega di sertai beberapa hiasan serupa senjata mecha nampak berdiri kokoh dengan sarung tangan baja yang terus memancarkan cahaya menyilaukan mata.
" Persiapan telah selesai. Sudah saatnya kalian kembali untuk memulihkan diri. " ucap sosok itu sembari mengacungkan kepalan tinjunya dan membuat mereka yang ada terhempas jauh menuju portal besar yang tercipta.
" Te---tempat ini! Ti---tidak mungkin! Ini tidak mungkin kembali terjadi untuk kedua kalinya!! " ucap Nana yang begitu depresi ketika mengingat kembali hal serupa mengenai pertarungan terakhirnya bersama sosok tuan yang telah tiada.
* gsriiiiingsssss, straps straps straps, scriiingsss, Ghareeeesss * Beberapa pedang hitam berselimut aura langsung menutup sisi lain dari portal yang terbuka sebelum Nana mendekati sosok yang dianggap tuannya.
Tertahan oleh beberapa rantai besi yang mengikat dirinya serta sosok manusia serigala yang nampak menunjukkan taring penuh darah dihadapannya, membuat dirinya sadar bahwa satu keinginan untuk bertarung di sisi tuannya harus pupus ketika gagal melawan kedua sosok yang jelas berbeda level dengannya.
__ADS_1
* Spuiiiiiiiings spuiiiiiings spuiiiiiiings * Suara keras dari sirine dalam meriam besar berbentuk datar yang mengisi daya nampak mendominasi area yang hanya di penuhi oleh debu serta langkah kaki yang nampak jelas mendekati tempatnya berada.
* straks * Menarik sebuah pelatuk panjang diantara sela meriam besar itu, Rose bersiap diri melakukan dominasi penghancuran pada sosok monster yang terus berdatangan meski kini medan area yang ada telah berubah menjadi bukit tinggi nan curam.
" Perintah terkhir dari tuan. Tetaplah hidup untuk menjaga perdamaian. " ucap Airin sembari mengacungkan tangan kanan yang telah berubah menjadi meriam untuk menahan Victoria maupun seluruh saudara yang berniat melawan sosok dirinya.
Kembali terdiam tanpa kata setelah pukulan keras menghantam perutnya hingga menghancurkan pakaian mithril yang membalut tubuh serta mematahkan kemampuan liar dalam dirinya, Elen hanya bisa terduduk lemas tidak berdaya sembari menahan rasa sakit pada dirinya.
...----------------...
" Dengan tambahan berkat dari Dewa Tanah Oxynel berupa pengendalian elemen berunsur tanah, sudah cukup membantuku hingga badai terkutuk itu benar-benar muncul dihadapan mata. " Gumamnya lirih di atas menara liga sembari melihat kehancuran sesungguhnya atas badai dasyat pembawa malapetaka.
" Genosida!!! " Teriaknya begitu keras setelah menendang jatuh sosok Minatour dengan mark aura api membara sebelum menciptakan puluhan partikel cahaya berwarna ungu menyala disertai dengan petir hitam yang mengikat setiap sisinya.
* dsriiiiingsssss dsriiiiingsssss dsriiiiingsssss dbruuuuuuumssssss * Diantara derasnya air hujan yang terus menerjang lagi menghancurkan seluruh tubuh yang ada, bola-bola cahaya yang terbentuk itu mulai berjatuhan memenuhi setiap sisi dari medan pertempuran sebelum suara gemuruh dari ledakan hebat mendominasi langkah kaki maupun raungan keras dari para monster yang kehilangan nyawa dalam diri.
" Memulai aktifasi penghancuran sejati, Destronine Meteoria!! " ucapnya dalam tubuh penuh luka sebelum mengucap sebuah mantra dari sebuah scroll sihir yang terbuka
* Swuuuuungsss Gbruuuumsssss swuuuuungsss Gbruuuumsssss swuuuuungsss Gbruuuumsssss gbruuuumsssss gbruuuumsssss* Puluhan batu meteor muncul dari awan badai yang menggelembung sebelum benturan hebat membuat kehancuran sepanjang mata memandang.
__ADS_1
Berjalan pelan menuju gerbang Liga yang dipenuhi dengan lubang besar di sisi bangunan serta tubuh tanpa nyawa yang bergelimang sejauh mata memandang, Rose mengucap sebuah mantra sederhana sebelum dirinya benar-benar kehabisan energi sihirnya.
" Memulai kembali aktifasi mantra suci, bangkitkanlah kembali kesuburan tanah dari ibu bumi. Nevira Elthra! " ucapnya lirih sembari membaca mantra dari scroll bumi terkasih untuk memperbaiki kerusakan mengerikan yang membuatnya mengingat dunia asal yang sangat dibencinya.
* plippips plippips plippips, scriiingsss * " Selamat, point aktifasi summon guardian telah terpenuhi. Silahkan ikuti tutorial untuk mendapat pelindung sejati dari 20 sosok Legendary. " gumamnya menahan tawa ketika sebuah pemberitahuan tiba-tiba aktif setelah sekian lama sebelum latar bumi yang berputar menampakkan diri.
Memejamkan mata sembari berharap mendapatkan sosok hebat yang mempunyai daya penghancur terkuat, rotasi bulan yang mengelilingi bumi bergerak sangat cepat sebelum benturan dasyat dari bulan dan bumi menampilkan satu sosok yang disebut sebagai pelindung sejati.
" Atas kuasa yang yang di berikan oleh tongkat kuasa dari Nebula Cottegia, Daku sebagai pemimpin terakhir dari liga ini memerintahkan kepadamu untuk membunuh siapapun sosok yang berani menginjakkan kaki di atas tanah ini. " ucapnya dengan sisa tenaga setelah sosok manusia pohon raksasa muncul dari celah dimensi tidak lama setelah latar belakang kembali ketempat semula dirinya berdiri
* Graaaamssssshss * Balas sosok manusia pohon itu sembari menganggukkan kepalanya sebelum menempatkan tubuh Rose di ujung tertinggi dari menara.
" Elder Guardian?! Pohon suci pelindung negri, Altera Reghna " ucap Vexilis tidak percaya ketika salah satu sosok elder dalam legenda para dewa bisa muncul dihadapan Rose yang berada dalam akhir hidupnya.
Senyum puas nampak begitu jelas terukir di atas wajah bahagia dalam balutan debu diantara tubuh yang kini berubah menjadi patung batu dihadapan tongkat panjang berselimut aura biru dengan satu parkmen sihir bertuliskan kata " Maafkan, aku. "
" [ Jadi benar, dia adalah ayah-ku? ] " ucap seorang remaja pria sembari menggendong bayi perempuan dengan ras demi human ketika melihat sebuah patung batu berselimut debu.
" Kisah hebat yang terkenang dalam legenda perlahan menghilang bagaikan mitos belaka sebelum para tetua melanjutkan kisah itu bagai kisah omong kosong belaka hingga satu titik, kisah itu menghilang termakan aliran waktu dari zaman yang semakin maju. " ucap seorang pria dewasa yang terduduk di atas sebuah singgasana sebelum menutup sebuah buku berisi kisah legenda atas sosok hebat yang berhasil melampaui kekuatan dewa.
__ADS_1