
" Hey, Vi. Melihat tubuhmu yang kembali seperti ini membuatku mengenang masa itu kembali. " ucap Airin dalam gelapnya malam disaat Vi tengah terlelap dalam tidurnya.
Memandang pantulan diri di cermin yang menampakkan kemolekan tubuh yang begitu menggoda dengan satu simbol runera ke enam yang terukir di bagian bawah mata kanannya.
" Sebagai wujud dari pengakuan atas kesetaraan yang kami miliki, kami mengukir tanda ini sebagai pengenang diri atas tumbangnya beliau [ master kami] maupun mereka yang berjuang mempertahankan keberadaan dari rumah megah peninggalannya. " gumamnya sembari mengusap simbol serupa yang berada di pinggang kanan Vi sebelum memejamkan kedua matanya.
* Swwuuuuusuuuungggggssss * " Dengan di ikatnya janji suci ini, aku harap kita bisa hidup dalam suka cita, kebahagiaan serta kedamaian abadi di tanah Sylvia ini. " ucap Rose di atas menara jiwa sebelum memasukkan kedua cincin artefak tingkat legenda sebelum mengecup bibir dari Airina maupun Vi yang masih menampakkan tangis harunya.
Dihadapan sosok dewi yang memberkahi acara penuh cinta itu, sebuah berkah di berikan kepada Airina dan Vi dari sang dewi dengan harapan bahwa di masa depan nanti, mereka dapat menjadi sosok hebat nan disegani.
" Meskipun aku sangat menginginkan kenyataan indah seperti yang aku ucapkan tadi, aku tidak yakin bahwa nantinya aku bisa bertahan menghadapi situasi semacam ini. " ucap tuannya setelah membuka portal besar di atas menara itu dan melihat para pelayannya tengah bertaruh nyawa menghadapi gempuran dasyat dari pasukan dewa petaka.
" [ Tidak! Aku mohon!! Tidak lagi!!! ] " ucap Airina yang berteriak pada sosok serupa dirinya di saat melihat sosok itu hanya menundukkan kepalanya tanpa memberikan bantuan serangan pada tuannya yang berjuang sendiri di medan perang.
Mengulurkan tangan untuk mencengkram erat kepalan tangan tuannya yang penuh keraguan sebelum memasuki sebuah portal, teriakan keras kembali terucap berasa hentakkan energi hebat yang mengguncang seluruh area.
" Nh, Dasar tetangga baru itu!! Apa si yang membuatnya terus membuat kegaduhan di pagi buta semacam ini!! " keluh kesah seorang tetangga dari Sasya yang kembali terbangun dari tidurnya akibat kebisingan yang amat menganggu.
__ADS_1
Membuka kedua mata dengan malas sebelum kembali memejamkannya bersama dengan diacuhkannya guncangan energi yang di rasa hanya bagian dari imajinasi, sebuah sensasi kelembutan yang tiba-tiba di rasa ketika berganti posisi membuatnya begitu terkejut setelah melihat Vira kembali tidur bersama dirinya tanpa mengenakan satu busana.
" Nho, Vira ini. Bukankah sudah kaka bilang utuk tidak melakukan hal itu lagi! " ucapnya penuh kekesalan pada Vira yang hanya diam tanpa kata dengan benjolan kecil di kepalanya.
Menjelaskan satu mimpi buruk mengenai sosok iblis yang mencoba membawa pergi tubuh kakaknya dari tempatnya berada membuat kemarahan yang ada mulai berganti dengan perasaan menyesal atas apa yang telah dibuatnya.
Mengubah nada bicara sebelum memberi Vira nasehat kecil untuk menenangkannya, tepukan pelan terus berulang kali di tujukan pada punggung Vira yang kembali terlelap dalam tidurnya tanpa melepaskan pelukan dari tubuh kakaknya.
" Maaf, Ize. Aku tidak tahu bahwa Vira akan melakukan hal buruk seperti itu disaat aku lengah menjaganya. " ucap menyesal dari Rola ketika tahu bahwa Vira kembali masuk ke ruang istirahat dari Ezra.
Menggigit bagian ibu jari dari jari-jemari ketika melihat pertengkaran Rola dengan Izera yang membahas masalah mengenai Vira, rasa iri kembali bersarang dalam hati tidak lama setelah Vira datang dengan senyum riang dan membuat semua pertengkaran tadi seolah tidak pernah terjadi.
Menarik nafas panjang setelah memaksakan tawa kepalsuan, wajah kesal mulai menampakkan diri bersama langkah kaki dari Vira dan Rose yang melangkah pergi.
" Sejujurnya aku tidak tahu lagi mengenai apa yang terjadi pada Ize maupun Vira saat ini. " ucapnya pelan memandang langit-langit ruangan dengan tatapan kosong tanpa pengharapan.
Menikmati beberapa kudapan kecil sembari mendengarkan kisah lampau dari Ezra maupun Vira yang kini telah jauh berbeda dari sosok yang dikenalnya, perasaan sakit dalam dada tiba-tiba menghentikan ucapannya di saat kembali mengingat kehancuran desanya yang nampak buram di matanya.
" Nh, yang ku ingat sebelum perubahan besar itu terjadi. Ucapan kasar ayahku terdengar jelas memerintahkan beberapa anak brandalan untuk memberikan Ezra pelajaran karena tertangkap basah mencuri sebuah Ranume Wine yang terkenal amat nikmat rasanya. " lanjutnya menyinggung pertanyaan dari Alruene mengenai kejadian terakhir sebelum perbedaan itu terasa jelas di sadari olehnya.
__ADS_1
Mengucap sebuah dugaan sementara bahwa ayahnya telah melakukan hal buruk pada Ezra yang tidak lagi menampakkan diri selama beberapa waktu sebelum mengubah dugaan itu menjadi satu kesimpulan pasti, satu kejadian buruk menimpa seluruh warga desa dan membuat dirinya kehilangan sosok ayah yang berharga.
" Pada saat keterpurukan itu, aku yang tengah putus asa. Sempat menerima satu tawaran untuk menikah dengan seorang saudagar kaya sebelum aku kembali membatalkan tawaran itu setelah pertemuanku kembali dengan Ezra dan Vira yang nampak bingung atas hancurnya desa di pinggiran kota. " ucapnya yang kembali menampakkan senyum senang setelah meremas bagian dada yang terasa lara.
Terkejut dengan ucapan Rola yang menjelaskan bahwa Vira merupakan gadis malang yang kehilangan kemampuan melihat ataupun berbicara membuat mereka sedikit wajar atas sikap Ezra yang kini sangat memanjakkan Vira.
" Dan pada satu kejadian yang amat mengerikan itu, sesuatu yang tersembunyi dalam tubuh Ezra mulai menampakkan diri. " tambahnya mengakhiri kisah panjang itu dengan tanya setelah mengatakan bahwa ingatannya telah kabur sebelum mengatakan apa yang terjadi pada Ezra.
Mengabaikan pertanyaan mereka yang terus memaksa dirinya untuk mengingat ingatan kabur yang terjadi setelahnya, Ezra dan Vira kembali menyapa dengan penuh tawa sembari membawa beberapa persediaan yang hampir habis di pertengahan bulan seperti biasanya.
" Terima kasih atas kerja kerasnya! " sambut Rola dengan senyum lepas penuh bahagia sembari menerima beberapa bingkisan kecil yang di bawa Vira.
Mengingat ucapan Rola mengenai berbagai kejadian yang telah terjadi membuatnya merasa malu atas sikapnya yang selalu ingin diperlakukan seperti putri tanpa menyadari posisinya saat ini.
" Ah, iya. Ada hal lain yang belum aku katakan kepada kalian tadi. " ucapnya menahan kepergian Alruene dan Merry di saat Ezra masih sibuk menyiapkan diri.
Membisikkan sebuah permintaan kecil untuk tidak mengatakan bahwa Vira merupakan gadis yang hampir seusia mereka pada Ezra apapun situasinya di respon baik oleh keduanya dengan anggukan kepala.
" [ Manusia bau yang dulu aku perlakukan layaknya hewan pliharaan telah berubah menjadi pria dewasa yang begitu luar biasa dengan segudang misteri yang tersemubunyi di balik tingkah baik nan lugu itu. ] " Pikirnya sesaat sembari mengikuti langkah kaki dari Ezra yang berbeda seperti ucapan Rola sebelumnya.
__ADS_1