
Selesai menjelaskan apa yang dirinya alami kepada Tedi dan Rose yang menemani, Vi kembali ke rumah dengan perasaan penuh kebagian karena tuannya sangat memanjakan dirinya.
" Selamat datang kembali, Vi! " ucap Lilis dengan gembira sembari memeluk tubuh Vi yang masih terbalut perban dimana-mana.
Bersama dengan dirayakan nya pesta kecil untuk menyambut kepulangan dari Vi yang telah dianggap sebagai seorang pahlawan oleh Rose dan Lilis, membuat Vi sangat bahagia dan hampir meneteskan air matanya kembali.
" Selain dari permintaan, untuk merahasiakan siapa sosok mu sesungguhnya, guild master sempat berpesan kepadaku untuk membuatmu menjadi bagian dari petugas guild di kota ini, Vi. Apakah kamu berkenan untuk menerimanya? " ucap Lilis setelah beberapa pembicaraan kecil mengenai kejadian sebelumnya di bahasa oleh Rose.
" He,em. Maaf, Lilis. Aku tidak bisa menerima hal semacam itu saat ini, meskipun itu adalah salah satu mimpiku di masala lalu. " balas Vi dengan segera sembari menjelaskan bahwa menjadi pelayan yang berguna bagi tuannya merupakan keinginan pertama dan terakhir untuk dirinya.
Sembari mengatakan berbagai kecerobohan yang hampir membuat tuannya kehilangan nyawa, Rose sempat menahan tawanya ketika Vi kembali menyinggung berbagai masalah sederhana yang berakhir dengan ketegangan yang mengancam nyawa keduanya.
" Hehehe... yah. Meskipun kejadian itu telah lama berlalu. Kejadian yang kamu ucapkan itu, cukup membekas dalam benakku, Vi. " tawa Rose sembari menyinggung kejadian dalam game yang memperlihatkan sosok Vi yang tiba-tiba menghancurkan sebuah segel misterius dan memunculkan seekor monster tingkat tinggi.
" Dan setelah kejadian itu, aku benar-benar berniat meninggalkanmu di Rawa Ouaz dan engga berurusan lagi dengan sosok seperti demi human untuk sementara waktu... " lanjutnya sembari menceritakan apa yang selanjutnya terjadi setelah keberhasilan mereka untuk menyelamatkan diri dari monster tingkat tinggi itu.
Mendengar ucapan yang terkesan kejam itu, membuat Vi sempat berfikir dalam diam dan merenungi dirinya sendiri atas kesalahan yang telah lalu.
" Namun setelah kamu memilih untuk mengorbankan diri dalam ujian penyihir bulan kala itu, aku benar-benar menyadari bahwa kamu adalah sosok yang sangat pemberani, Vi... " lanjutnya sembari mengusap lembut telapak tangan dari Vi ketika Vi nampak larut dalam lamunannya.
" Tetaplah menjadi dirimu sendiri, Vi. Karena dengan begitu, aku bisa melihat betapa baiknya dirimu ini... " tambahnya memuji disaat Vi nampak memperhatikan setiap ucapannya.
__ADS_1
" Saya juga mencintaimu, tuan... " balas Vi secara spontan ketika lamunannya membuat apa yang Rose katakan berubah menjadi sebuah kata yang sangat ingin dirinya dengarkan.
Bersama dengan tawa yang terdengar setelahnya, Vi yang kembali dari lamunannya itu merasa sangat malu dan membuatnya harus menyembunyikan wajah merahnya.
" Tuan~ bolehkah saya bertanya mengenai apa yang sedang anda lakukan saat ini? " ucap Vi sembari melihat Rose yang masih terjaga
" Hm~ hehehe... Selamat malam, Vi. " balas Rose sembari menyembunyikan sebuah buku ke dalam tas pinggangnya.
" Hehehe... aku hanya mencoba menuliskan beberapa kata sederhana dan mengingat setiap penggunaan aksara dunia ini. " balas Rose dengan menyinggung kembali ucapannya mengenai dunia nyatanya dan sosok Vi dalam wujud humanoid.
" [ Ternyata ini alasan yang membuat tuan sesekali bangun di waktu larut. ] " ucapnya dalam diam untuk sesaat sebelum mendekatkan diri kepada tuannya sembari berniat membantunya.
" He, em. Tidak, apa tuan. Meskipun hal ini terkesan sederhana, namun saya tetap ingin membantu anda. [ Karena mungkin hanya inilah hak yang bisa membuatku berguna ] " Balas Vi setelah sempat kehilangan keseimbangannya ketika berjalan.
Merasa bahwa Vi sangat ingin mengajarinya mengenai setiap hal yang tidak dirinya mengerti, Rose menggendong tubuh Vi dengan segera dan membawanya ke tempatnya berada semula dan mulai mencoba memahami setiap hal yang diajarkan kepadanya.
" [ Aku pikir, dia akan melakukan hal intim atau semacamnya. Namun yang aku lihat adalah hal yang tidak terduga. ] Tch... " pikir Lilis dalam diamnya sembari mengamati apa yang dilakukan Vi dan Rose sebelum mencoba mencari posisi yang nyaman untuk tidur.
* scringsssh * " Tuan! " ucap Nana yang terbangun dari tidurnya setelah merasakan sebua eksistensi asing yang terasa seperti energi sihir dari Rose
Mendengar teriakan dari Nana yang begitu tiba-tiba di waktu yang larut itu, Angela dan Nana sama-sama menarik nafas panjangnya sembari menahan sebuah api kemarahan yang ada dalam benak mereka
__ADS_1
" Jadi, Ela. Sudah keberapa kalinya dia berteriak seperti itu? " ucap Bela pada Angela yang tengah menatapnya dengan wajah khawatir.
" Hm~ yah.. mungkin, satu, dua... yah. Ini adalah teriakan ke empat nya setelah teriakan terakhir tadi dan teriakan ke delapan kalinya setelah tiga atau empat bulan semenjak William menyampaikan pesan dari tuan kita. " balas Angela sembari mengusap kepal Nana yang nampak sedih setelah sebelumnya sempat merapalkan sebuah mantra kepada Nana yang nampak kehilangan kendali atas tubuhnya.
" Sudah ke delapan kalinya, yah. " balas Bela dengan memandang langit malam kala itu setelah sbelumnya mengalihkan pandangannya pada Nana yang terlihat meneteskan air mata.
" Jujur saja, Ela. Aku sangat khawatir dengannya. Apalagi kamu ingat kan, dalam waktu yang bersamaan itu. Dia baru saja kembali dari sebuah reruntuhan misterius di dekat sini..." tambah nya sembari ikut mengusap kepala Nana
" Dan, apakah kamu benar-benar yakin bahwa dia tidak menerima kutukan atau semacamnya dari reruntuhan itu? " lanjutnya yang merasakan bahwa semua hal aneh itu berkaitan dengan ditaklukkannya sebuah reruntuhan misterius beberapa waktu sebelumnya.
" Tenanglah, Bela. Aku tahu bahwa kamu sangat menghawatirkan dirinya lebih dari siapapun yang ada di sini dan dari apa yang aku lihat dari tubuhnya, dia sama sekali tidak terpapar kutukan. " balas Angela sembari menjelaskan ketiadaan dari sebuah kutukan, baik dari kutukan sihir dalam tubuh maupun kutukan lain yang melekat pada perlengkapan yang dirinya kenakan.
Melihat Nana yang kembali terbaring dalam tidur yang lelap itu, membuat kedua sosok yang telah menjadi bagian keluarga dari Rose mulai melanjutkan tidurnya
" [ Mungkin lain kali, aku akan mencoba menggunakan sihir itu disaat aku berada jauh dari mereka. ] " ucap Angela dalam kondisi terjaga sembari melihat ke arah jendela ruangan itu dan memunculkan sebuah portal cahaya untuk sesaat
" Em~h. Rose~. " ucap Nana dalam tidurnya sesaat sebelum portal kecil ciptaan Angela menghilang.
" Hehe. Sebagai sosok yang telah menemaninya lebih lama dari kami, aku rasa kepekaannya terhadap energi ataupun sesuatu yang berhubungan guru sangatlah mengagumkan. " gumamnya dengan tawa setelah terkejut atas ucapan Nana yang begitu tiba-tiba
" Walaupun terkesan sama dalam setiap teriakannya, namun jika aku mengamatinya dengan lebih. Sikap yang ditunjukkan olehnya itu, membuktikan bahwa setiap sihir penghubung yang aku ciptakan untuk menghubungkan batinku dengan guru. Semakin menunjukkan peningkatan. " lanjutnya sembari mengusap wajah Nana kembali sebelum kembali terlelap dalam tidurnya.
__ADS_1