
Melepaskan tawa bersama kakaknya dalam rumah sederhana seperti saat tinggal dalam desa, peluk hangat dari dirinya terus diberikan pada sosok kakaknya di manapun mereka berada.
" Aku tidak akan melepaskan kakak untuk yang kedua kalinya." gumamnya dalam suasana hati yang begitu bahagia ketika kakaknya membawanya pergi ke satu tempat yang begitu memanjakan kedua matanya.
Menghabiskan setiap waktu yang begitu berharga, sosok dewi serupa penjaga altar di atas langit tiba-tiba datang menghampiri sebelum membawa kakaknya pergi bersama ucap kata terakhirnya.
" Kaka!!! " Teriaknya dengan keras sebelum kembali tersadar bahwa kakaknya telah terbujur kaku dalam kristal sihir di bawahnya.
Mengusap dengan hati-hati setiap sisi kristal sihir itu sebelum melangkah pergi untuk membantu kakaknya yang lain mengurus sarapan pagi ataupun hal lain yang tidak dapat mereka lakukan tanpa pemecah sihir khusus dari Izera, perasaan lelah kian hari kian meningkat semenjak mereka terus bergantung pada kekuatannya sampai pada satu titik tubuh Vira benar-benar ambruk dan tidak dapat melakukan apapun dalam tubuhnya yang rapuh.
" Nak, Vira. Maafkan bibi ya. Bibi datang terlambat untuk menyampaikan pesan dari kakakmu untuk tidak terlalu memaksakan diri atas kekuatanmu. " ucap Vi sembari melakukan kompresi mana dalam diri sebelum memberikan sebagai mana itu untuk Vira yang secara jelas mengalami masalah pada energi mana dalam dirinya.
Menggelengkan kepala sebagai respon balik atas apa yang diucap oleh sosok asing dihadapannya, secara perlahan tubuhnya yang lemas mulai pulih dan membuatnya mencoba mengerti bahwa apa yang diucap oleh sosok asing itu memiliki kaitan dengan energi sihir yang ada dalam dirinya.
" Hehehe, tidak. Bukan seperti itu, Nak Vira. Energi sihir dalam diri biasa di sebut sebagai mp atau magic point yang cukup berbeda batasannya bergantung pada jenis dan ras dari masing-masing individu. " Jelasnya menggambarkan perbedaan energi sihir dalam diri dengan energi sihir lain yang berasal dari alam sekitarnya.
__ADS_1
" Dan karenanya kamu bisa lemas semacam itu karena mp yang ada dalam dirimu sangat berbeda dengan mp yang dimiliki oleh Nak Izeral. " ucapnya mengakhiri pengertian dasar mengenai magic point yang membatasi kemampuan sihir setiap individu.
Larut dalam berbagai pembicaraan lain mengenai kekuatan dalam diri Izera maupun perbedaan besar diantara keduanya, Vi sempat menarik diri dalam tawa sebelum meminta maaf atas berlalunya waktu tanpa ucapan jelas mengenai tujuannya datang ke hadapan Vira.
" Kebetulan sekali bahwa ada perwakilan dari kalian yang aku rasa cukup mampu untuk membantu pertimbangan dari Nak Vira dalam keputusannya terkait beberapa hal serius ats pesan dari Nak Izeral. " ucap Vi setelah melihat Rola, Alruene dan semua perempuan yang dekat dengan Izeral nampak hadir mendampingi Vira.
Menarik nafas panjang setelah sampai di ruang kerja dari Izeral sebagai pilar ke empat, ucapan pembuka mengenai pengunduran diri Izeral menjadi topik pembicaraan dari mereka di awal sebelum melanjutkan beberapa topik lain terkait permintaannya untuk menyekolahkan Vira serta pengambilalihan tanggung jawab atas mereka yang singgah dalam mansion bersama mereka.
" Apa maksud kalian dengan ucapan itu hanyalah ucapan kosong belaka ? " ucap Viro yang menepis keraguan yang terucap dengan nada marah.
Menepuk tangan Viro dengan pelan sembari memintanya tetap tenang seperti kesepakatan sebelum datang, Viro nampak kembali diam membisu dengan meninggalkan kesan ambigu pada mereka.
Terkejut dengan apa yang terucap itu, mereka yang ada diantara Vira hanya bisa saling menatap satu sama lain tanpa bisa memberikan penjelasan ataupun sanggahan atas apa yang diucap oleh Vi.
" Jika tidak salah ingat, mereka berdua adalah Roxy dan Mina. " lanjutnya sembari memihat ke arah Viro untuk meyakinkan diri atas apa yang diucap.
__ADS_1
Melanjutkan keterkaitan antara dua nama itu dengan apa yang tengah dibahas sebelumnya, beberapa hal kembali di bahas sebagai penegas sebelum Vira dimintai ketersediaannya untuk memutuskan hal terbaik demi masa depan diri maupun mereka yang singgah dalam mansion.
" Dari 84 orang yang ada, 25 diantara mereka telah menjadi petarung terbaik yang akan langsung menjadi prajurit kuat untuk menyumbang kekuatan keamanan bagi kota ini. " ucap Vi dengan tiba-tiba disaat mereka mulai ragu atas opsi yang tersedia.
" Selain dari itu pun, ada 16 orang yang berhasil mendapatkan berkah dari sang dewi dan membuat kapasitas mp mereka jauh lebih tinggi dari kapasitas secara umum dan ada juga 9 atau 12 anak-anak berpotensi yang mampu menjadi sosok penting bagi negri ini." tambahnya dengan menyaring semua penghuni yang ada dan hanya menyisihkan beberap sosok tidak berguna.
Mengajukan sebuah pertanyaan mengenai maksud dari pelatihan mental bagi Vira, tawa senang nampak kembali jelas di wajah Vi yang segera setelahnya mengucap hal mengerikan dengan mudah tanpa memikirkan perasaan mereka yang mendengarnya.
" Jika memang kalian merasa keberatan atas hal itu, seharusnya kalian datang menemani Nak Izera untuk membahas hal ini denganku. " balas Vi dengan mudah ketika Vira nampak gemetar ketakutan atas apa yang akan terjadi jika dia salah menentukan satu opsi yang diberi.
Menggelengkan kepala dengan tetap mengunci bibirnya dalam diam, mereka yang ada dihadapan Vi hanya bisa memberikan gambaran terbaik untuk Vira agar Vira bisa memutuskannya tanpa harus memikirkan resiko yang terjadi setelahnya.
" Semua tanggung jawab itu telah kami tanggung bersama di saat Nak Izeral memutuskan untuk menampung mereka dan atas penyesalannya yang terus menumpuk akhir-akhir ini, kedua opsi itu lahir atas kesepakatan bersama dari kami ber lima sebelum memutuskan bahwa opsi itu adalah opsi terbaik untuk mereka maupun Vira sendiri. " tambahnya memberikan pencerahan atas opsi yang tersedia atas dasar kematangan pemilihan dari beberapa opsi lain yang gugur sebelumnya.
" Dan lagi, jika kalian memang memerlukan waktu lebih pun. Kami akan memberikannya pada kalian sampai tanggak waktu 2 atau 3 hari setelah Airina menyediakan opsi baru untuk sekolah khusus bagi Vira menuntut ilmu." tambahnya dengan menunjukkan dua dokumen serta lembar puluhan lembar kompetensi kelulusan sebagai tolak ukur atas kepintaran Vira yang semula dirasa hampir menyamai Izeral dalam arti sosok Rose yang bersemayam di dalamnya.
__ADS_1
Mengingatkan kembali pilihan yang harus tetap di ambil untuk para penghuni mansion sembari meminta laporan atas lembar kompetensi yang harus diserahkan dengan cepat tanpa adanya kecurangan, mereka yang ada diantara Vira hanya bisa kembali menguatkan hati dan pemikiran Vira agar Vira mampu menjadi sosok yang setara dengan kakaknya.
" Seorang wanita dewasa itu mampu menjadi cahaya penerangan bagi mereka yang terlelap dalam keputusasaan dan memberikan dorongan kuat untuk menghadapi permasalahan di setiap lini kehidupan. [ mungkin.] " ucap Rose yang tiba-tiba teringat satu pesannya pada Vira mengenai beberapa hal yang harus dimiliki oleh sosok wanita dewasa.