
" Hey! Ibu~! Kenapa Ka Sera tidak kunjungan muncul dalam kelas ku! " ucap Fei sembari menarik kerah dari baju yang ibunya pakai
* sdampts * " Ketahuilah tempatmu dahulu, bocah. " ucap seorang pelayan ketika melihat kelakuan tidak pantas dari Fei terhadap ibunya.
" Nmo~, Hmph. " Geram Fei dengan kesal sebelum memutuskan untuk diam tanpa kata ketika sosok itu menatapnya dengan tatapan tajam lagi menakutkan.
* sdapts, sdapts, sdapts. Sdups, ctarssss * Sebuah langkah dari sosok Regina yang bangkit dari duduknya mulai terdengar jelas diantara keheningan itu dan tidak lama setelahnya, Regina memukulkan sebuah cambuk putih keantara dua sosok yang ada dihadapannya sembari duduk diatas meja.
" Fe~li~sa~. Bukankah kamu sudah berjanji untuk tidak kembali menggunakan kekuatan itu? * starsh * " ucap Regina dengan kesal sembari memukulkan cambuk itu di lantai kayu tempatnya berpijak hingga berlubang.
Melihat amarah dari ibunya yang nampak menakutkan, Fei mencoba menjelaskan hal yang membuatnya harus melakukan hal semacam itu.
" Kerja bagus, untukmu Hilda. Karena tanpamu, Fei mungkin akan melakukan sesuatu yang berlebihan kembali. " lanjutnya memuji sosok pelayan perempuan yang mengenakan pakaian serba hitam disertai dengan cadar penutup wajah.
" Terima kasih kembali atas pujian anda, Nona Gina. Saya hanya melakukan tugas saya seperti yang seharusnya " balas Hila sembari membungkuk hormat setelah mengalihkan pandangannya dari Fei yang terikat di dekat meja kerja dari Regina dengan mulut yang tersumpal potongan kayu.
Dengan terus menggeliat kesakitan dan mencoba untuk meminta pengampunan pada ibunya, Regina nampak mengabaikan apa yang berusaha Fei katakan dan mengalihkan pandangannya pada lembaran kertas yang berserakan akibat kebodohan anaknya.
" Tanpa kamu melakukan hal tadi pun, Ibu akan melakukan sesuatu terhadap dirinya. Namun karena satu dan lain hal yang lebih penting daripada itu, Ibu harus menundanya. " Ucap Regina sembari memegang sebuah kertas kerjanya di depan jendela yang terbuka dan menampakkan beberapa siswa yang datang lebih awal dari waktu seharusnya.
* nemnemnemnemnem * ucap Fei dengan susah payah sembari mencoba melepaskan semua ikatan yang mengikat dirinya.
" Untuk sekarang Ibu akan membiarkanmu dalam posisi seperti itu sampai bel tanda masuk berbunyi dan jika dalam waktu dekat ini, ibu tidak kunjung kembali. Maka Hilda akan membantumu melepaskan ikatan itu. " ucap Regina sebelum meninggalkan ruangannya dengan beberapa kertas kerja yang dibawanya.
* Nem! Nem! Nem! * Teriak Fei dengan keras sembari berharap bahwa ibunya lekas kembali.
__ADS_1
" Hehehe... tidak perlu khawatir seperti itu, nona. Te~nangkan di~ri~mu, Ka~re~na. Ada Aku~ di~ si~ ni~... " Bisik Hilda dengan lirih sebelum Fei kembali berteriak ketakutan.
----------------
Bangun diantara dua tubuh perempuan cantik di pagi hari, merupakan bagian baru dalam kesehariannya setelah berbagai hal tidak terduga terus menghiasi hidupnya dalam dunia alternatif dari game virtual itu.
" Vi~, Lilis~ Sekarang sudah waktunya untuk kalian bangun... " ucap Rose sembari mengusap keduanya dengan lembut.
Berbeda dengan Vi yang segera bangun dan melakukan sesuatu seperti hari-harinya yang biasa, Lilis justru tetap tertidur dalam posisi yang membuat Rose harus menahan gejolak nafsunya.
" Emh~ Ayah~ biarkan aku tidur lebih lama lagi~ " gumam Lilis sembari mempererat pelukannya pada lengan Rose yang besar itu sebelum menyelimuti dirinya kembali.
" Hehehe... biarkan saja dia, Vi. Dia sudah bekerja cukup keras untuk membantuku menemukanmu [ meskipun sebenarnya dia tidak perlu melakukan hal-hal semacam itu. ] " balas Rose pada Vi yang iri dengan kelakuan dari Lilis.
" Tuan! A--ano... Bolehkah saya menemani tuan kembali? " ucap Vi sembari berusaha mendekati Rose ketika Rose hendak pergi ke suatu tempat.
" He, em... Tidak Vi. Kamu beristirahat saja di rumah ini. Lagipula aku juga tidak akan pergi terlalu lama, Vi. " balas Rose sembari menahan tubuh Vi yang sempat goyah itu.
" Apakah tuan bisa berjanji akan hal itu? Karena dari apa yang saya ingat, tuan selalu berkata seperti itu kepadaku. Namun kenyataannya tuan selalu kembali setelah dua atau tiga minggu setelahnya. " balas Vi sembari memaksakan keinginannya untuk pergi bersama Rose.
Sembari bersandar di sebuah pembatas tangga lantai ke dua itu, Lilis nampak memperhatikan kedekatan diantara Vi dengan Rose yang sempat membuatnya iri
" He~em~ [ Sepertinya apa yang aku cemaskan waktu itu benar-benar terjadi. ] Meskipun enggan mengakuinya, aku mungkin sudah terikat dengan dirinya. " Gumamnya sembari mengamati kepergian keduanya.
Dengan mengingat hari-harinya yang penuh kecanggungan dengan Rose selama Vi menghilang, Lilis sempat mengeluarkan sebuah tawa kecilnya ketika melihat sebuah makan yang Rose buat untuknya
__ADS_1
" Mengingat kamu sangat menyukai makananku, hari ini aku berniat membeli beberapa bahan makanan serupa agar nantinya kamu dapat makan sepuasnya. " ucapnya menahan tawa ketika membaca surat kecil yang tersembunyi di bawah piring makanan itu.
" Hehehe... Ternyata dia benar-benar tuna aksara.. " lanjutnya dengan tawa ketika melihat melihat beberapa typo pada surat itu.
Terhenti di sebuah persimpangan jalan yang nampak tidak asing baginya, ingatan mengenai sebuah lokasi pasar gelap membuatnya berjalan menuju salah satu persimpangan dan melupakan tujuan awalnya.
" Tuan~ apakah anda yakin, bahwa ini adalah jalan yang benar untuk dilalui? " ucap Vi dengan cemas ketika suasana kota yang damai terasa mencekam.
* sdraaaptsss * Sebuah tubuh yang terseret ke hadapannya membuatnya sadar dari lamunan dan membuatnya kebingungan atas apa yang terjadi.
" Tu--tuan.... " ucap Vi dengan cemas ketika beberapa sosok asing mulai berdatangan dan membuatnya mengingat kejadian pada waktu sebelumnya.
Sembari mempererat pegangan tangannya kepada Rose dengan perasaan cemas, Rose kembali mengusap pelan kepala Vi sembari mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.
" Oah... Sepertinya ada orang baru yang datang ke wilayahku. " ucap Seorang pria paruh baya sembari menarik sebuah tubuh yang penuh luka
" [ Diam, adalah emas ] " pikirnya sesaat setelah kembali mengingat sebuah kejadian di dunia asalanya dan memilih untuk tidak menambah masalah baru.
" Hm~ dilihat dari manapun juga, aku rasa, aku pernah melihat tanda semacam ini di satu tempat. " ucapnya secara tanpa sadar dan mengusap sebuah tato yang ada di lengan pria paruh baya itu.
" Oah. Tanda ini~. Sepertinya anda telah bertemu salah satu anggota kami, yah. Kalau begitu ini akan memudahkan perkenalan diantara kita. " Balas pria paruh baya itu sembari mengalihkan pandangannya ke arah Rose dengan munculnya berbagai tawa dan tatapan tajam setelahnya.
" A~a... Benar. Kalau tidak salah mengingatnya, tahanan 3y41 atau Herfan adalah mantan ketua dari Gang Blutos. " balasnya setelah mengingat nama dari seorang tahanan yang pernah bertukar informasi dengannya.
" Hehehe... yah. Ucapan anda memang benar. Kami adalah pengikutnya dan meskipun anda berkata seperti itu, kami tidak akan melepaskan anda dengan mudah... " balas pria paruh baya itu dengan tawa senangnya sebelum melemparkan tubuh penuh luka yang dipanggulnya ke sebuah lapak dagang.
__ADS_1