
* Gbrags * " Hyu~uh aku harus segera mencari dimana kelasku berada! " Teriak seorang gadis berambut biru keputihan sembari berlari menuju tempat Rose sebelumnya berada beberapa saat setelah Rose dengan mudahnya membuka pintu gerbang dari sekolah itu
" Hm~ ? ya sudahlah " ucapnya membatalkan diri untuk mengatakan sesuatu kepada gadis yang melewatinya itu dan kembali melangkah pergi dari sekolah itu.
Mengalihkan pandangannya ke depan sembari melihat tingkah aneh dari Vi, membuatnya sadar bahwa Vi tengah menahan rasa sakitnya akibat beban yang dipanggulnya beberapa saat lalu.
" Tidak apa, tuan. Sungguh. Saya baik-baik saja. " ucap Vi yang teruduk diatas sebuah kursi umum di pinggiran kota dengan tubuh demi humannya.
* krteks * " Hm~? Bukankah aku peringatkan kepadamu untuk tidak memaksakan diri. * krteks* " balas Rose sembari mencoba memulihkan kondisi dari kaki Vi yang nampak bengkak itu.
Sembari menahan tangisannya akibat rasa sakit itu, Seorang tiba-tiba memukul Rose dari belakang dan berteriak bahwa Rose merupakan seorang penjahat kelamin.
" Hey! Tolong! Hentikan! Dia bukanlah penjahat! Dia adalah tuanku! Aku mohon! Hentikan! " Teriak Vi sembari mencoba mendorong beberapa orang asing yang menghakimi Rose dengan penuh amarah.
Sembari menarik Vi menjauh dari Rose yang nampak membiarkan orang asing itu memuaskan dirinya, Rose mencoba menganalisis setiap nama dari orang-orang itu dan mencatatnya dalam sebuah draft pesan yang kini tidak dapat digunakan.
* gbraks * Sebuah hentakan pintu dari guild petualangan membuat semua orang yang ada didalam memusatkan perhatiannya ke sumber suara itu.
" Seral!! Apa yang terjadi kepadamu! " Teriak Lilia sembari mendekati Rose yang nampak kacau dengan pakaian yang nampak meninggalkan noda darah dan robekan besar di beberapa bagian.
__ADS_1
Dengan sebuah usapan pelan pada lengan Lilis sembari menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
" Dan tentu. Aku sangat menghormati perjanjian yang kita buat di waktu itu dan karena itu pun, aku sengaja menahan diri untuk tidak menyerang mereka " lanjutnya sembari menjelaskan alasannya mengenai beberapa noda darah yang berasal dari luka orang-orang asing itu yang tidak mampu memberikan sebuah serang yang berarti.
Sebuah kerutan nampak berlipat ganda di dahi Tedi yang nampak enggan berurusan kembali dengan Rose setelah apa yang telah terjadi.
" Dengan segala hormat, tuan Rose. Kami sangat menyesali apa yang telah terjadi dan berjanji untuk segera menemukan Vi sesegera mungkin... " balas Tedi dengan penuh keyakinan setelah melihat beberapa nama yang Rose tuliskan di atas sebuah kertas.
" Tidak, Tuan Tedi. Aku tidak berniat memintamu untuk melakukan hal semacam itu, karena aku hanya ingin meluruskan sebuah kesalahpahaman yang mungkin akan muncul waktu dekat ini. " balas Rose dengan menolak tawaran bantuan dari Tedi sebelum melangkah pergi.
----------------
" Bukankah sudah aku bilang! Lepaskan! Aku! " Ucap Vi dengan menggeram kesal kepada seorang wanita yang terus menahan kakinya.
" Syukurlah bahwa saat ini, Tuanku tidak melihat kondisi ku yang mengerikan seperti ini. " ucap Vi sembari melihat bagian bawah tubuhnya yang dipenuhi dengan darah ketika sinar bulan menerangi tubuhnya.
Sembari memeriksa sisa dari para sosok asing yang masih bersembunyi dalam sebuah bangunan tua yang nampak bobrok, Vi menemukan banyak sekali bangkai tubuh dari beberapa ras yang semula sempat terpikirkan olehnya bahwa tempatnya berada saat ini merupakan tempat persembunyian dari para bandit ataupun para penjahat kelamin yang menjual belikan para pelayan secara terselubung.
* Gbrals, Gbrals, Gbrals * Suara keras dari sebuah semapan angin mulai terdengar disaat Vi menemukan sebuah ruangan yang nampak lebih besar dari beberapa ruangan yang dirinya lalui
__ADS_1
" Tidak! Aku mohon! Ampunilah aku! " Teriak seorang wanita dengan tubuh yang tertutup kain lusuh sembari memohon ampunan pada seorang pria dengan senapan angin yang duduk di temani beberapa sosok lain yang nampak memainkan tubuh seorang wanita tanpa busana.
* Grrrrr * Geram Vi dengan kesal sesaat setelah sosok wanita yang memohon ampunan itu tiba-tiba dimainkan oleh beberapa sosok lain sebelum akhirnya tewas secara mengenaskan.
" Seperti yang aku katakan sebelumnya, Lilis. Hal sepesial yang Vi miliki, bukan hanya berada pada kemolekan tubuhnya yang menggoda itu... " Jelas Rose sembari menegaskan bahwa Vi merupakan sosok demi human yang mampu merubah bentuk tubuhnya sesuai dengan hukum karma yang ada di sekitar lingkungannya.
" Dengan kata lain. Semakin baik lingkungan hidup di sekitar dirinya, maka Vi akan menjadi sosok wanita yang baik dan ramah seperti yang kamu kenal saat ini. Namun sebaliknya, jika lingkungan tempatnya berada sangat buruk dan dipenuhi dengan kekerasan. Maka Vi akan berubah menjadi sesuatu yang sangat mengerikan.... " Lanjut Rose sembari menggambarkan bentuk tubuh Vi yang serupa seperti manusia serigala, namun memiliki mark aura layaknya para dewa
" Sekarang~ kalian telah bebas. Nikmat lah kebebasan itu sebaik mungkin dan jauhilah hal buruk semacam ini... " lanjut Vi dengan suara yang semakin lirih sembari memegangi bagian perutnya yang berdarah.
Melihat sosok mengerikan yang tiba-tiba mengamuk dan menewaskan banyak sosok disekitar area itu membuat beberapa sosok wanita yang terikat oleh rantai-rantai berkarat di dekat Vi merasa sangat ketakutan.
* Sbramsss * " Kurang ajar!!! " Teriak Vi dengan sangat marah sembari merobek habis tubu dari pria yang menembakkan senapan anginnya kepada dirinya sesaat setelah dirinya mencoba untuk menenangkan para wanita yang ketakutan itu.
Dengan tetap berusaha mempertahankan kesadarannya sembari merangkak dan memegangi bagian perutnya, tubuh Vi yang semula nampak selayaknya sosok manusia serigala itu mulai berubah menjadi sosok seorang wanita biasa bersamaan dengan mark aura berwujud perisai yang semakin memudar.
" Dan yah. Sekali lagi aku ucapkan terimakasih karena telah membantuku untuk menemukannya... " ucap Rose sembari menggendong tubuh Vi yang berselimut perban itu dengan hati-hati sebelum membawanya pulang kembali.
Sebuah kehangatan yang nampak familiar baginya mulai terasa ketika seorang tengah memeluknya dengan erat meskipun dalam kondisi mata yang masih terpejam, Vi merasa sangat senang bahwa dirinya telah kembali ke dalam pelukan hangat dari tuannya.
__ADS_1
" Hehe... dasar, kamu ini. Jika kamu memang mengetahui bahwa lawanmu bukanlah sosok yang mampu kamu kalahkan saat itu juga, kamu bisa kembali dan meminta bantuanku dan setelah itu, kita akan menghabisinya bersama. " ucap Rose sembari menyentil dahi Vi yang hanya bisa menundukkan kepala setelah menjelaskan apa yang membuatnya terluka seperti itu.
" Meskipun begitu, aku juga sangat bersyukur karena kamu bisa kembali dengan selamat meskipun harus menerima banyak luka.. " Lanjutnya sembari memeluk Vi kembali dan membuat air mata nampak keluar dan membasahi pipi.