Fantasyum

Fantasyum
Bab 7


__ADS_3

Tanpa menunggu penjelasan lain yang sempat Rose ingin sampaikan, Fei langsung menerima tawaran itu dan membuat Rose terdiam.


" Baiklah jika memang begitu keputusanmu. " ucapnya setelah berbalik dan kembali melihat reruntuhan itu.


" Vi~ Mari kita mulai penyelamatannya. " Lanjutnya sembari menyiapkan sesuatu.


* Sbruuuumssshhssss * sebuah energi kegelapan tiba-tiba mucul dan mengguncang tempat itu ketika Rose memakai topeng tengkorak dari set dark reaper.


" Silver Sister " Lanjutnya sembari melemparkan god mark ke arah Vi dan membuat Vi kembali ke bentuk demi humannya dengan beberapa ukiran rune di sekitar tubuhnya.


Beberapa dari mereka yang ada disana sempat tapjuk dengan apa yang Rose lakukan dan menyadari bahwa masih ada langit di atas langit ketika menyadari maksud pepatah yang Rose ucapkan.


" Tunggu! " ucap Fei sembari menahan kepergian Rose dan Vi menuju reruntuhan itu.


" Ini adalah misi kami! Maka kami pun berhak ikut dalam misi ini! " lanjutnya yang terkesan memaksa.


" Hm~, ya. Baiklah jika begitu. Vi~ tolong lindungi mereka untukku. " balas Rose sembari menarik tangannya dari Fei sebelum mengusap kepala Vi dan memintanya melindungi garis belakang.


Dengan barisan para murid yang tersusun atas permintaannya, Rose mulai berjalan di garis depan sementara Vi nampak kesal karena harus terpisah jauh dari tuannya di garis belakang


" [Terlepas dari pengawasanku sebagai Ace dalam regu ini. Susunan dari tank, ttacker, suppor dan healer yang ada dapat mempermudah Vi sebagai mage support. Meskipun dalam kondisi tertentu dia dapat kembali berubah menjadi fighter tank.] " ucapnya dalam diam sembari memainkan sepasang sabit langit dan bumi dalam perjalanannya yang sunyi.


* Srasapsss, Dbruuumsh, srasapsss srasapsss, Dbruuumsh srasapsss.* Sebuah cahaya merah beberapa kali muncul bersamaan dengan dentuman keras yang menandakan bahwa mereka sudah sangat dekat dengan Nana.

__ADS_1


* Seeetsss * " Dengar. Apapun yang akan terjadi nanti, aku ingin kalian tetap bertahan disini bersama Vi dan tidak melakukan hal lain dari apa yang aku katakan sebelumnya. " ucapnya menahan langkah mereka sembari menyinggung pola serangan yang telah dirinya ajarkan sebagai pertahanan diri.


Enggan untuk kembali mengecewakan kepercayaan yang di berikan kepada mereka, mereka mulai mengambil posisi yang telah di rencanakan itu dan mengubah posisi Vi menjadi Ace.


" Aku harap, anak-anak bodoh itu sudah kembali ke tempat Gina dan segera membawa bantuan untukku. " ucap Nana dengan lirih dalam posisi tertunduk lemas diatas pedang besarnya.


" Deadly Sketch. " ucapnya sembari menapakkan kakinya dengan pandangan serius ke arah rombongan monster yang berada di dekat tubuh Nana.


Setelah melihat sebuah jalur serangan fatal yang memungkinkan dirinya bergerak secara capat lagi efisien untuk menolong Nana, Rose mulai bergerak dengan kecepatan penuhnya dan mulai menyerang tubuh para monster itu mengikuti garis serangan fatal sebelumnya.


" Raining, blood. " lanjutnya dengan lirih sembari memutarkan kedua sabit langit dan bumi itu beberapa saat sebelum para monster itu terbelah menjadi beberapa bagian dan menghujani dirinya dengan darah dari segala luka fatal yang diberikan.


" Pola serangan ini! Apakah- mungkin? Adalah tuan! " ucapnya dalam sisa kesadarannya sebelum terbaring lemas didekat pedang.


Berjalan kembali ke tempat dimana dirinya meninggalkan Vi dan para murid unggul itu, area yang semula nampak tenang dan sunyi berubah menjadi medan area pertempuran dangan aksi menegangkan.


" Love-me! " ucap Fei sembari menunjukkan kemolekan tubuhnya dan memancing para monster mendekat dengan aura merah muda yang menjadi pemikat para monster agar bergerak secara terpusat


"Slamer Plantsl! Number of Death " ucap seorang murid dengan tongkat sihirnya untuk menciptakan rantai tanaman pengikat yang bersamaan dengan itu murid dengan buku sihir mengeluarkan bayangan jam yang berputar dalam arah terbalik sebelum jam bayangan itu mengubah setiap monster yang terkena serangan menjadi patung batu.


" Ush, kombinasi yang cukup menarik." ucapnya dari tempat tersembunyi ketika melihat seorang druid dan ahli sihir berkombinasi dengan serangan Fei sebagai center.


Disisi yang berbeda, Vi terus mempertahankan bariarel area bersama dengan pendeta maupun sosok brand yang menyuplai energi mana agar Vi tidak kehilangan tenaga serta rogue dan archer yang terus menyerang setiap monster yang berhasil menembus barisan terdepan yang di halau oleh seorang assasin dan pladin.

__ADS_1


" Saigi. " * Roooaaaarrrrssss * hantaman dari gelombang suara teramat keras menghempaskan setiap monster yang berada dalam lajurnya dan membuka jalan untuk mendekati mereka yang mencapai batas ketahananya.


" Nah, sekarang. Mari kembali ke tempat semula sebelum reruntuhan ini benar-benar runtuh dan menimpa kita. " ucapnya setelah meminta Vi kembali ke bentuk anak serigala dan pergi ke area perkemahan sebelumnya.


Rose kembali mengatakan bahwa semua akan baik - baik saja setelah para murid itu melihat rombongan monster yang mulai mendekat.


* Gbruuuuuumssssss drums drums drums drums sdadaptssss * Sembari memasang badan di depan pintu reruntuhan itu, Rose mengucapkan sebuah mantra untuk menghancurkan lantai dalam reruntuhan itu sesaat sebelum reruntuhan itu benar-benar runtuh dan hanya menyisakan hamparan rumput terbuka.


* Wufh wufh! * Suara menggemaskan dari Vi memecah keheningan yang ada pada saat itu dan membuat Rose mengalihkan pandangannya kembali sembari menyembuhkan mereka yang telah berusaha dengan sebuah mantra sederhana.


" Jika kalian ingin berterima kasih, maka berterima kasihlah pada Vi~ karena dia sudah membawaku ke reruntuhan ini. " balasnya menolak pujian.


Vi yang semula enggan berdekatan dengan Fei mulai menunjukkan perubahannya setelah mendengar ucapan tulus dan kesungguhannya untuk memahami Vi lebih dekat sekaligus rasa terima kasihnya yang teramat sangat.


" Karena mentari mulai menunjukkan diri dan aku sendiri tidak terlalu yakin berapa lama waktu yang kita habiskan dalam reruntuhan itu, mungkin kini saatnya untuk mengakhiri pertemuan ini. " ucap Rose setelah melihat matahari yang mulai menampakkan diri.


" Akh, m. Iya, Ka Sera. Kami pun sangat berterima kasih atas semua hal sebelumnya dan karena itu juga, aku akan meminta ibunda untuk memberikan sejumlah besar koin emas dan koin putih sebagai hadiahnya. " balas Fei sebelum Rose bangkit dari tempatnya.


" He, em. Jika hal tadi merupakan permintaan tertulis dari guild, aku mungkin akan menerimanya dengan senang hati, Fei. " balas Rose sembari menjelaskan bahwa permintaan itu bukankah permintaan tertulis dan membuat mereka harus membayar dengan harga yang pantas.


" Meskipun aku sendiri tidak keberatan atas hal itu~ aku masih sulit menentukan harga yang sesuai karena beberapa hal seperti hilangnya tanda rune ke 6 yang ada dalam tubuh Vi, menolong seorang petualang tingkat tinggi, mengajari kalian untuk lebih memaksimalkan kekuatan dalam diri maupun penaklukan reruntuhan ini. " lanjutnya menjelaskan setelah Fei meminta dirinya menyebutkan hadiah atas pertolongan itu.


" Selain itupun menyembuhkan kalian dan menjaganya sampai pagi ini pun termasuk hitungan lebih dari jasa yang aku berikan. Karena itu, setidaknya jika kalian bersedia. Aku akan membawa pedang besar ini sampai kalian menemukan harga yang setara. " tambahnya kembali sembari menunjukkan pedang besar yang dibawa Nana.

__ADS_1


__ADS_2