
" Sebagai kebaikan dari mereka, kita masih diperbolehkan tinggal di sini sampai akhir minggu. " Ucap Rose pada Rola di malam ke tiga setelah para prajurit penjaga teritori menerima hukumannya.
Meneguk secangkir minuman herbal sebelum mengutarakan apa yang dirinya pikirkan pada Rose, keinginan untuk menjadi seorang petualang kembali terucap oleh Rose sebelum Rola menyelesaikan ucapannya.
" Aku mengerti, bahwa kamu sangat ingin mencari jalan lain untuk menyelesaikan masalah ini. Namun untuk kesekian kalinya, aku minta kepadamu, Sera. Tetaplah diam di asrama untuk menemani Vira, sampai aku menemukan jalan terbaik untuk kita semua. " balasnya memberikan penegasan untuk yang terakhir kalinya.
Menyelimuti diri dengan slimut di atas kursi ruang tamu, ingatan mengenai hal serupa membuatnya kembali mengenang kebersamaannya dengan Vi beberapa waktu sebelumnya.
" Tuan, kami sangat bahagia karena kami bisa mengandung anak anda. " ucap Vi dan Airina dalam waktu yang bersamaan
Melihat kembali mimpi dari masa lalu yang terasa begitu nyata membuatnya terbangun dari tidur dengan menyebut kedua nama dari Vi maupun Airina.
" Argh, benar. Semua hanya mimpi semata. " gumamnya sesaat sebelum mengusap kedua matanya dan kembali tidur setelahnya.
Mengusap lembut sebuah buku berbeda di atas ranjang tempat tidurnya, kenangan indah bersama tuan yang berharga kembali memunculkan kerinduan dalam dada setelah sosok anak muda dari persidangan sebelumnya membawa bau dan aroma khas dari tuannya.
" He, em. Mana mungkin kan, beliau bisa hidup untuk yang kedua kalinya? " ucapnya lirih sebelum mengusap lembut seorang gadis remaja yang tertidur lelap di sampingnya.
Berdiri tegap ditengah kegelapan malam sembari memandang langit penuh bintang dengan kembali memikirkan teritori yang mulai menghilang, cahaya kecil dari seekor kunang - kunang kembali mengingatkannya mengenai satu pesan dari sang tuan.
" Menikmati setiap waktu dari alam yang indah ini. Merupakan kebahagian tersendiri untukku, Vi. Dan yah, hehe. Aku harap aku bisa terus menjaganya. " ucap Rose dengan lembut sembari membiarkan seekor kunang-kunang mendarat di jarinya.
Menutup kembali bagian mata yang terluka sebelum berjalan menemui putri kecilnya, sebuah senyum indah nampak di wajah dinginnya.
__ADS_1
" Saya sudah mengatakan semua yang saya tahu mengenai dirinya ibu. " ucap gadis remaja itu pada Vi setelah menjelaskan apa yang terjadi di setiap teritori yang hancur tidak bersisa maupun asal usul dari Izeral dan rombongannya.
Membisikan beberapa patah kata sebelum memberikan sepucuk surat kepada putri kecilnya dan melihatnya berjalan penuh bahagia, kembali mengukir senyum di wajahnya.
" Maaf, ya. Viro. Jika saja aku bisa menggunakan kemampuan seperti Airin, aku tidak perlu memberimu tugas merepotkan seperti itu. " gumamnya sembari melangkah pergi ke sebuah ruangan dengan diasain serupa altar pemujaan para dewa.
Memasukkan surat yang di titipkan oleh ibunya ke dalam bilik dari ruang guild, Viro yang terlampau gembira tidak sengaja menabrak seorang petualang dan membuat keributan di sana.
* crekekkss * " Ano- [ Nh, lupakan saja ] " ucap Rose yang membatalkan niatannya untuk masuk ke ruang guild setelah melihat keributan yang teramat mengerikan untuk dilihat.
Melangkah pergi meninggalkan guild adalah niatannya yang baru sebelum seorang dari balik pintu itu, menariknya dan membawanya pada satu perkelahian yang tidak dapat dihindarkan.
" Nh, * swupts * Lambat * grtks * Kalian * sdramsh * Membuatku * gbrums * Muak * spaks, spaks * " ucapnya dengan kesal setelah memberikan beberapa serangan balasan pada mereka yang berniat menghajarnya.
" Heran sekali aku dibuatnya. " gumam Rose yang merasa tidak nyaman ketika keributan besar itu tidak dihentikan oleh pihak penjaga maupun guild master yang juga ikut ambil bagian dalam keributan itu.
Terdiam tanpa kata setelah separuh petualang di buat sekarat dengan luka patah tulang, Rose duduk di meja resepsi sebelum meminta formulir pendaftaran diri.
" Aku harus belajar teknik semacam itu darinya!! " ucap Viro dengan penuh semangatnya ketika melihat sosok itu bergerak dengan cepat sebelum mematahkan bagian yang dirasa mengancam nyawa.
Memberikan satu kartu identitas diri yang masih terpampang jelas job sebagai petani, Rose meminta pada petugas guild di bagian resepsi untuk membantunya mengisi beberapa kolom yang tidak dia pahami.
" [ Abaikan saja dia, abiakan. ] " ucapnya dalam diam setelah melihat seorang demi human nampak menantapnya dengan mata yang bersinar.
__ADS_1
Berjalan menyusuri ruangan untuk sampai pada satu ruang pelatihan, beberapa sosok petualang nampak jelas tengah kesusahan atas ujian sadis yang guild itu berikan.
" [ Tenangkan dirimu, Rose. Tenang. Ingatlah bahwa semua kegilaan ini adalah kode sistem yang telah di install dalam program. ] " gumamnya sesaat setelah seorang terjatuh dari sebuah halang rintang untuk menguji kecepatan.
Menyapa seorang pengawas ujian petualang yang nampak garang sebelum memberikan sedikit waktu untuk Rose memukai ujian, tatapan tajam dengan aura nampak mencoba mengidentifikasi kemampuan tersembunyi dalam dirinya.
" Maaf atas semua kesederhanaan yang ada, anak muda. Dikarenakan dalam guild bobrok ini, kami tidak memiliki akses informasi maupun pengukuran energi. Setidaknya kami bisa melihat kemampuan asli dalam diri sebelum memberikan kartu lisensi. " ucap pengawas itu sebelum menepuk Rose dan memintanya memilih satu keterampilan dasar untuk di masukkan dalam job utama dalam lisensi.
Menyadari sistem yang sama dengan primary job maupun second job dalam game dari perkataan pengawas ujian yang serupa dengan sosok barbarian serta gaya rambut singa berantakan, membuatnya kembali merasa heran atas hal tidak masuk akal dalam kode program yang begitu berantakan.
" Oh, hey? Apakah kamu membatalkan niatanmu untuk menjadi petualang? " ucap pengawas itu sambari memperbaiki ikatan tali pada baju besinya sebelum mempersiapkan diri atas satu aksi.
Mengukir senyum dalam keraguan atas kelayakan senjata uji coba yang penuh karat lagi penyok di setiap sisinya kembali membawa memori mengenai senjata pertama yang menemaninya menjelajahi dunia.
" Heh, siapa bilang demikian? " Balasnya dengan segera sembari memasangkan sebuah sarung tinju besi sebelum melangkahkan kaki untuk mendekat ke tempat penguji.
" Lalu bagaimana dengan nona yang disana? apakah kamu juga berniat melakukan hal yang sama? " lanjut penguji itu kepada seorang demi human yang secara diam-diam mengikuti Rose sampai ke tempat pelatihan.
" [ Ini, buruk ] " pikirnya sesaat ketika melihat demi human yang sama seperti sebelumnya.
Mengalihkan pandangannya kembali dari demi human yang sangat mirip dengan Vi atas ras serigala putih dan perawakannya yang tidak terlalu tinggi, Rose kembali mempersiapkan diri untuk ujian macam apa yang akan dirinya hadapi.
* stapts * " Bersabarlah, teman. Aku tahu bahwa kamu sangat bersemangat atas hal ini. Namun hal yang perlu kamu tahu dari pelatihan ini, kita para penguji memiliki cara tersendiri untuk menilai kemampuan kalian dalam lisensi. " ucap penguji itu sebelum menjelaskan beberapa aturan dasar dalam arena pelatihan.
__ADS_1